RENUNGAN MISA ARWAH (3)

Yes 25 : 6 - 10a ,
Flp 4 : 12 – 14. 19 – 20
Mat 22:1– 14
Yoh 14 : 1 - 7


Semua orang diundang ke Perjamuan Tuhan. Perayaan ekaristi dan perjamuan di Surga.
syarat utama adalah berpakaian pesta. Pakaian pesta itu adalah iman, harap dan kasih kepada Yesus sebagai Jalan kebenaran dan hidup kekal.


Bapak Josef Sugito Suryosembodo dengan iman, harap dan kasih kepada Yesus, telah berpakaian pesta masuk dala perjamuan Tuhan. Lewat dan bersama doa-doa kita ini mari kita mengiringi perjalanan bapak Josef ke Rumah Bapa, tempat tinggal terakhir bagi kita semua.


Bapa Josef pergi ke rumah Tuhan dan tingga di sana untuk selamanya bersama para kudus yang selalau memuji Tuhan dan mendoakan kita di dunia agar tetap komit pada Sabda Yesus sebagai jalan kebenaran dan kehidupan. Lewat doanya bersama para kudus kita dikuatkan untuk tetap komit pada Sabda Yesus dalam pikiran, kata dan perbuatan.

Tuhan Mengundang Semua Memasuki PerjamuanNya

COCOK UNTUK MISA ARWAH

HMB XXVIII A
Yes 25 : 6 - 10a ,
Flp 4 : 12 – 14. 19 – 20
Mat 22:1– 14

Pengantar

Beberapa kali komunitas kita menerima undangan resepsi pernikahan. Biasanya mereka yang mengirim undangan itu menulis di salah satu pojok undangan dengan tulisan demikian : “Undangan berlaku hanya untuk satu orang. Tamu harus membawa undangan saat menghadiri resepsi pernikahan”. Tentu saja orang yang mengundang membatasi orang yang diundang karena memiliki alasan yang masuk akal yaitu materi, tenaga dan waktu yang terbatas.

Biblis

Sama saudara yang terkasih. Hari ini kita mendapat undangan yang tidak ada tulisan seperti undangan resepsi pernikahan yang biasa kita terima. Undangan perjamuan nikah yang kita terima hari ini bertolakbelakang dengan undangan di atas. Undangan perjamuan nikah yang kita terima pada hari ini berlaku untuk umum. Undangan ini terbuka bagi semua orang yang dicirikan aneka wajah, aneka budaya, suku dan agama. Undangan ini dari Tuhan bukan dari manusia. Tuhan mengundang semua untuk masuk ke dalam perjamuanNya. Tuhan yang kita kenal dalam Perayaan Ekaristi ini adalah Tuhan yang tidak tertutup tetapi terbuka bagi semua orang. Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang menyatukan perbedaan dan mendamaikan semua orang.

Undangan seperti ini sungguh istinewa. Pembawa atau penyebar undangan itu adalah para utusan Tuhan yang menyebarkan undangan itu kepada semua orang. Penyebar undangan itu adalah para Nabi dan para rasul. Keunikan sebuah undangan adalah tidak memaksa setiap orang yang menerima undangan untuk hadir dalam perjamuanNya yang membahagiakan. Undangan Tuhan memberi kebebasan bagi orang yang menerima undangan untuk memenuhi undangan itu atau menolak undangan yang diterima.

Penerima undangan adalah bangsa Israel sebagai bangsa terpilih Allah. Mereka ini menolak undangan dengan alasan sibuk urus harta kekayaan duniawi. Mereka tidak mempunyai waktu untuk menghadiri perjamuan Nikah Tuhan. Mereka bukan hanya menolak dengan kata dan cara mereka tidak datang ke perjamuan Tuhan. Mereka membunuh para nabi yang membawa undangan Perjamuan Tuhan kepada mereka.

Tuhan mendengar pembunuhan terhadap para nabi yang membawa undangan kepada bangsa Israel itu. Tuhan memberi kutukan kepada bangsa Israel yaitu menghacurkan Israel. Hukuman itu terjadi karena penolakan bangsa Israel terhadap undangan kerajaan Allah dan terutama karena mereka membunuh para nabi yang membawa undangan kepada mereka. Hukuman itu mereka alami akibat Israel sebagai bangsa terpilih lebih melekat pada hal-hal duniawi.

Meskipun ada penolakan sampai pembunuhan terhadap para pembawa undangan itu, Tuhan tidak berhenti dan tidak bosan-bosan menyebarkan undangan kepada semua manusia. Bangsa terpilih Tuhan, Israel setelah menolak undanganNya itu, kembali Tuhan menyebarkan undangan kepada bangsa-bangsa lain. Para nabi dan para rasul menjadi pembawa dan penyebar undangan Tuhan. Bangsa-bangsa lain yang diundang ini menerima undangan dan datang ke perjamuan Tuhan. Ada dua kelompok yang datang masuk dalam perjamuan Tuhan. Kelompok pertama adalah mereka yang berpakaian pesta. Kelompok yang kedua tidak berpakaian pesta. Pakaian pesta adalah hidup bermoral orang beriman. Yang tidak berpakain pesta itu tidak layak mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan. Dia yang tidak berpakaian pesta itu dihukum oleh Tuhan. Yang berpakaian pesta adalah orang yang layak bagi perjamuan Tuhan. Berpakaian pesta perjamuan Tuhan berarti mengenakan pakaian kehendak Allah.

Sama saudaraku, semua orang diundang Tuhan masuk ke perjamuanNya, baik mereka yang tahu tentang undangan itu atau belum tahu baik atau setengah setengah tahu tentang keunikan undangan itu. Pembawa undangan atau penyebar undangan Tuhan atau penyebar warta khabar gembira undangan Tuhan tidak cukup menyerahkan undangan itu tetapi dengan pengajaran dan pendidikan yang melewati sebuah proses pengenalan undangan itu agar penerima undangan itu sampai pada mengenakan pakaian pesta perjamuan Tuhan. Paulus sebagai misionaris melaksanakan tugasnya menyebarkan undangan perjamuan Tuhan kepada umat di Filipi. Kegembiraan dan harapan muncul dari umat di Filipi ini yaitu mereka memberi respons yang sangat positif dengan cara mereka memberi sumbangan materi, perhatian, cinta dan doa bagi Paulus dalam melaksanakan tugasnya sebagai misionaris. Umat Filipi yang dilayani Paulus sampai menjadi umat yang menjadi misionaris dengan cara mereka yaitu mendukung dengan doa, materi, perhatian dan cinta kepada Paulus sebagai misonaris. Dukungan umat Filipi ini menunjukkan bahwa adanya tanda-tanda dalam diri umat Filipi yaitu mereka mulai mengenakan pakaian pesta perjamuan Tuhan. Misi Paulus berhasil di Filipi. Meskipun umat Filipi begitu dekat dengan Paulus, Paulus tidak merasa melekat pada orang-orang dan materi serta perhatian umat Filipi. Kelekatan seorang misionaris pada hal-hal duniawi adalah batu sandungan bagi banyak orang untuk datang ke perjamuan Tuhan. Paulus tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk semakin dekat dengan Tuhan. Paulus tetap fokus pada penyebaran undangan Tuhan kepada semua orang, agar mereka masuk dalam perjamuan Tuhan dengan pakaian pesta.





Kita
Misi Ke dalam

Kita melihat bacaan suci hari ini dengan pola kita sebagai orang beriman. Kita yakin dan berharap bahwa kita semua mau menerima undangan Tuhan dan mau memenuhi undangan Tuhan dengan berpakaian pesta. Pakaian pesta kita barangkali masih ternoda oleh dosa-dosa kita, kelekatan kita pada materi, tempat tertentu, manusia tertentu maka pada saat ini kita disadarkan kembali agar kita mau mencuci bersih pakaian pesta nikah yang kita miliki dan kita kenakan dalam Perjamuan Tuhan sehingga pakaian pesta perjamuan Tuhan itu tetap terjaga dan tetap layak dikenakan dalam memasuki Perjamuan Tuhan. Berpakaian pesta berarti selalu setia dan komit pada Sabda Allah dalam segala tempat dan waktu. Hal ini terwujud dalam hidup kita jika kita mau berkorban seperti Paulus meninggalkan hal duniawi, tidak melekat pada orang, materi, tempat tetapi tetap fokus pada Sabda Allah.

Misi Ke luar

Kita tidak merasa puas dengan diri sendiri karena kita telah berpakaian pesta dalam perjamuan Tuhan. Kita akan lebih layak di hadapan Tuhan yang mengundang kita ke perjamuanNya kalau kita memiliki kepedulian yang tinggi pada sesama yang memiliki kerinduan untuk masuk dalam undangan Perjamuan Tuhan, yang masih kabur di mata mereka. Kita adalah misionaris seperti Paulus dengan menggunakan segala sarana yang ada untuk menyebarkan dan memperkenalkan Undangan Tuhan kepada semua orang agar mereka dapat memasuki Perjamuan Pesta Tuhan, dengan pakaian pesta yang layak. Kita menyebarkan undangan Tuhan ke perjamuanNya dengan pakaian pesta yang kita kenakan sebagai saksi kita kepada mereka yang kita undang. Lewat teladan baik yang kita berikan, mereka yang kita layani tentu lebih merasa tersentu untuk mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan.


Penutup

Mari kita selalau berpakaian pesta dalam hidup kita karena kehidupan ini adalah perayaan Perjamuan Tuhan. ***

Tuhan Mengundang Semua Memasuki PerjamuanNya

HMB XXVIII A
Yes 25 : 6 - 10a
Flp 4 : 12 – 14. 19 – 20
Mat 22:1– 14


Pengantar


Beberapa kali komunitas kita menerima undangan resepsi pernikahan. Meskipun kita di dalam komunitas ini banyak orang, mereka yang mengirim undangan itu menulis di salah satu pojok undangan dengan tulisan demikian : “Undangan berlaku hanya untuk satu orang. Tamu undangan harus membawa undangan saat menghadiri resepsi pernikahan”. Tentu saja orang yang mengundang membatasi orang yang diundang karena memiliki alasan yang masuk akal yaitu materi, tenaga pelayan tamu dan waktu yang terbatas.


Biblis


Sama saudara yang terkasih. Hari ini kita mendapat undangan yang tidak ada tulisan seperti undangan resepsi pernikahan yang biasa kita terima. Undangan perjamuan nikah yang kita terima hari ini bertolakbelakang dengan undangan di atas. Undangan perjamuan nikah yang kita terima hari ini berlaku untuk umum. Undangan ini terbuka bagi semua orang yang dicirikan aneka wajah, aneka budaya, suku dan agama. Undangan ini dari Tuhan sendiri. Tuhan mengundang semua untuk masuk ke dalam perjamuanNya. Tuhan yang kita kenal dalam Perayaan Ekaristi adalah Tuhan yang tidak tertutup tetapi terbuka bagi semua orang. Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang menyatukan perbedaan dijiwai oleh RohNya yang menyatuakan dan mendamaikan semua orang.

Undangan seperti ini sungguh istinewa. Pembawa atau penyebar undangan itu adalah para utusan Tuhan yang menyebarkan undangan itu kepada semua orang. Penyebar undangan itu adalah para Nabi dan para rasul. Keunikan sebuah undangan adalah tidak memaksa orang yang menerima undangan untuk hadir dalam perjamuanNya yang membahagiakan.

Penerima undangan adalah bangsa Israel sebagai bangsa terpilih Allah. Mereka ini menolak undangan dengan alasan sibuk urus harta kekayaan duniawi sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk membuat agenda untuk menghadiri perjamuan Nikah Tuhan. Mereka bukan hanya menolak dengan kata dan cara mereka tidak datang ke perjamuan Tuhan. Mereka membunuh para nabi yang membawa undangan Perjamuan Tuhan kepada mereka.

Tuhan mendengar pembunuhan terhadap para nabi yang membawa undangan kepada bangsa Israel itu. Tuhan memberi kutukan kepada bangsa Israel yaitu menghacurkan Israel menjadi reruntuhan. Hukuman itu datang terjadi karena penolakan bangsa Israel terhadap undangan kerajaan Allah dan terutama karena mereka membunuh para nabi yang membawa undangan kepada mereka.

Tuhan tidak berhenti dan tidak bosan-bosan menyebarkan undangan kepada semua manusia. Bangsa terpilih Tuhan, Israel setelah menolak undanganNya kini Tuhan menyebarkan undangan kepada bangsa-bangsa lain. Para nabi dan para rasul menjadi pembawa dan penyebar undangan Tuhan. Bangsa-bangsa lain yang diundang ini menerima undangan dan datang ke perjamuan Tuhan. Ada dua kelompok yang datang masuk dalam perjamuan Tuhan. Kelompok pertama adalah mereka yang berpakaian pesta. Kelompok yang kedua tidak berpakaian pesta. Pakaian pesta adalah hidup bermoral orang beriman. Yang tidak berpakain pesta itu tidak layak mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan. Dia yang tidak berpakaian pesta itu dihukum oleh Tuhan. Yang berpakaian pesta adalah orang yang layak bagi perjamuan Tuhan. Mengapa? Berpakaian pesta perjamuan Tuhan berarti mengenakan pakaian kehendak Allah. Orang yang berpakaian pesta demikian itu adalah mereka yang layak memasuki Perjamaun Tuhan yang memberi kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.

Semua orang diundang baik yang tahu tentang undangan itu atau belum tahu baik atau setengahsetengah tahu tentang keunikan undangan itu. Pembawa undangan atau penyebar undangan Tuhan atau penyebar warta khabar gembira undangan Tuhan tidak cukup menyerahkan undangan itu tetapi dengan pengajaran dan pendidikan yang melewati sebuah proses pengenalan undangan itu agar sampai pada mengenakan pakaian pesta perjamuan Tuhan. Paulus sebagai misionaris melaksanakan tugasnya meyebarkan undangan perjamuan Tuhan kepada umat di Filipi. Kegembiraan dan harapan muncul dari umat di Filipi ini bahwa mereka memberi respons yang sangat positif yaitu mereka memberi sumbangan materi, perhatian, cinta dan doa bagi Paulus dalam melaksanakan tugasnya sebagai misionaris. Umat Filipi yang dilayani Paulus sampai menjadi umat yang menjadi misionaris dengan cara mereka yaitu mendukung dengan doa, materi, perhatian dan cinta kepada Paulus sebagai misonaris. Dukungan umat Filipi ini menunjukkan adanya tanda-tanda umat Filipi mulai mengenakan pakaian pesta perjamuan Tuhan. Misi Paulus berhasil di Filipi. Meskipun umat Filipi begitu dekat dekat dengan Paulus, Paulus tidak merasa melekat pada orang-orang dan materi serta perhatian umat Filipi. Kelekatan seorang misionaris pada hal-hal duniawi adalah batu sandungan bagi banyak orang untuk datang ke perjamuan Tuhan. Paulus tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk semakin dekat dengan Tuhan. Paulus tetap fokus pada penyebaran undangan Tuhan kepada semua orang, orang lain juga masuk dalam perjamuan Tuhan dengan pakaian pesta.


Kita

Misi Ke dalam


Kita melihat bacaan suci hari ini dengan pola kita sebagai orang beriman. Kita yakin dan berharap bahwa kita semua mau menerima undangan Tuhan dan mau memenuhi undangan Tuhan dengan berpakaian pesta. Pakaian pesta kita barangkali masih ternoda oleh dosa-dosa kita, kelekatan kita pada materi, tempat tertentu, manusia tertentu maka pada saat ini kita disadarkan kembali agar kita mau mencuci bersih pakaian pesta nikah yang kita kenakan dalam Perjamuan Tuhan sehingga pakaian pesta perjamuan Tuhan itu tetap terjaga dan tetap layak dikenakan dalam memasuki Perjamuan Tuhan. Berpakaian pesta berarti selalu setia dan komit pada Sabda Allah dalam segala tempat dan waktu. Hal ini terwujud dalam hidup kita jika kita mau berkorban seperti Paulus meninggalkan hal duniawi, tidak melekat pada orang, materi, tempat tetapi tetap fokus pada Sabda Allah.


Misi Ke luar


Kita tidak merasa puas karena kita telah berpakaian pesta dalam perjamuan Tuhan. Kita akan lebih layak di hadapan Tuhan yang mengundang kita ke perjamuanNya kalau kita memiliki kepedulian yang tinggi pada sesama yang memiliki kerinduan untuk masuk dalam undangan Perjamuan Tuhan, yang masih kabur di mata mereka. Kita adalah misionaris seperti Paulus dengan menggunakan segala sarana yang ada untuk menyebarkan dan memperkenalkan Undangan Tuhan kepada semua orang agar mereka dapat memasuki Perjamuan Pesta Tuhan, dengan pakaian pesta yang layak. Kita menyebarkan undangan Tuhan ke perjamuanNya dengan pakaian pesta yang kita kenakan sebagai saksi kita kepada mereka yang kita undang. Lewat teladan baik yang kita berikan, mereka yang kita layani tentu lebih merasa tersentu untuk mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan.


Penutup


Mari kita selalau berpakaian pesta dalam hidup kita karena kehidupan ini adalah perayaan Perjamuan Tuhan. Pakaian pesta yang senantiasa kita kenakan itu mempunyai tanggungjawab sosial agar orang lain, sesama kita juga boleh mengenakan pakaian pesta perjamuan Tuhan dan layak masuk Perjamuan Tuhan. Kita adalah perpanjangan tangan Tuhan dalam membagi undangan Tuhan bagi semua orang untuk memasuki Pesta Perjamuan Tuhan. Untuk itu kita mau berkorban demi Tuhan dan keselamatan orang banyak. ***

Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada Suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu

HARI MINGGU BIASA XXVII TAHUN A
YES 5 : 1- 7
FLP 4 : 6 - 9
Mat 21 : 33 - 43


Panas

Beberapa hari terakhir ini kita sungguh merasakan panas matahari yang mengganggu istirahat kita, pekerjaan kita, rencana kita untuk jalan-jalan. Kita merasa tidak nyaman karena kita berusaha untuk adaptasi dengan alam sekitar kita yang semakin panas. Ini adalah satu bukti pemanasan global yang langsung kita alami. Hal ini terjadi karena manusia menebang hutan secara tidak beraturan menyebabkan tanah gundul semakin luas dan akibat langsung yang kita alami adalah suhu udara yang semakin panas. Penebangan hutan secara liar adalah satu bukti nyata bahwa bumi pemberian Tuhan ini tidak dijaga oleh manusia. Bumi adalah Kebun Anggur milik Allah ini tidak dijaga oleh manusai secara baik, tidak diolah secara baik sehingga semakin hari semakin buruk kebun anggur Tuhan ini. Ini menunjukkan bahwa kita manusia tidak bertanggungjawab dalam menggarap bumi sebagai kebun anggur yang dimiliki oleh Tuhan yang telah memeberikan kebun anggur kepada kita ini.

Biblis

Bacaan pertama dan Injil berbicara tentang kebun anggur. Pemilik kebun Anggur adalah Tuhan Allah. Penggarapnya adalah bangsa Israel anak kesayangan Allah. Para hamba utusan Allah adalah para nabi yang membawa suara Allah kepada para penggarap kebun anggur agar menggarap kebun anggur sesuai kehendak pemilik kebun anggur sehingga dapat memberi hasil yang baik, sesuai harapan pemilik kebun anggur.

Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa penggarap itu bekerja onar sehingga menghasilkan buah yang masam. Pemilik kebun anggur menghukum para penggarap itu dengan tidak menurunkan hujan ke atasnya. Pemilik kebun anggur itu membongkar semua pagar kebun anggur agar tanaman anggur diinjak-injak orang. Pemilik kebun anggur marah.

Dalam bacaan Injil pemilik kebun anggur itu membuka kebun anggur. Menanam pagar di sekelilingnya, menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kepada para penggarap, lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik ia mengirim hamba-hambanya kepada para penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi hamba-hamba itu ada yang dipukul, hamba yang lain dibunuh, yang lain lagi mereka lempari dengan batu. Kemudian pemilik kebun anggur itu mengutus lagi hamba-hamba yang lain kepada para penggarap untuk mengambil hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi mereka juga diperlakukan sama seperti hamba kelompok pertama. Akhirnya pemilik kebun anggur itu mengirim PutraNya sendiri kepada para penggarap kebun anggur untuk meminta hasil yang menjadi bagiannya. Pemilik kebun anggur berpikir bahwa anaknya yang diutus pasti disegani. Tetapi ketika para penggarap itu melihat anak itu, mereka berkata seorang dengan yang lain, “Ia adalah ahli waris! Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Maka mereka menangkap dia, melemparkan dia keluar kebun anggur itu lalu membunuh dia. Penggarap kebun anggur itu tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Para penggarap hanyalah penggarap bukan pemilik kebun anggur. Merebut kebun anggur lewat pembunuhan ahli waris adalah kejahatan yang paling besar dalam hukum bangsa Yahudi. Maka patut mendapat hukuman menurut aturan Yahudi. Penggarap kebun anggur ini adalah orang-orang yang tamak. Karena ketamakan mereka maka pemilik kebun anggur itu mengambil kembali kebun anggurnya dari para penggarap itu yaitu bangsa Israel dan menyewakan kepada para penggarap lain yaitu bangsa-bangsa lain yang mau menggarap kebun anggur itu sesuai dengan kehendak pemilik kebun anggur. Kebun anggur diserahkan kepada bangsa-bangsa lain yang setia menjaga dan mengolah kebun anggur itu sesuai harapan pemilik kebun anggur yaitu supaya kebun anggur itu menghasilkan buah-buah yang baik.

Aplikasi

Kita adalah SVD atau imam diosesan. SVD dan keuskupan adalah pemilik kebun anggur dan menyerahkan kepada kita untuk kita kelolah dengan harapan menghasilkan buah-buah yang baik yaitu damai, bahagia dan keselamatan bagi sesama. Kebun anggur tempat kita kerja itu adalah paroki, komunitas, atau kantor. Pemilik kebun anggur menyerahkan kebun anggur itu kepada kita didasari oleh sebuah keprcayaan dan penghargaan yang tinggi kepada setiap kita. Maka kita pun sebagai penggarap kebun anggur itu terpanggil menjaga kepercayaan yang kita terima dari pemilik kebun anggur dengan bekerja baik dan jujur serta bijaksana. Dengan demikian kebun anggur yang kita garap, tidak diambil dan dialihkan oleh pemilik kebun anggur kepada penggarap lain yang lebih dipandang bertanggungjawab.


Penutup

Mari kita berusaha menjaga kepercayaan yang kita terima dari para pemimpin kita baik dari keuskupan, serikat dan komunitas dalam melaksanakan tugas-tugas kita agar kita menjadi penggarap – penggarap kebun anggur dalam konteks kita masing-masing, dalam lapangan pekerjaan kita masing-masing sebagai tempak kesaksian kita tentang nilai-nilai ketekunan, kejujuran dan damai yang mengalir dari Kerajaan Allah yang kita imani. Terutama dan pertama mari kita bersama-sama berjuang menjaga panggilan kita sebagai imam dan bruder dalam menggarap kebun anggur Allah yang dipercayakan kepada kita dengan penuh tanggungjawab. Amin.

Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada Suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu

Panas

Beberapa hari terakhir ini kita sungguh merasakan panas matahari yang mengganggu istirahat kita, pekerjaan kita, rencana kita untuk jalan-jalan. Kita merasa tidak nyaman karena kita berusaha untuk adaptasi dengan alam sekitar kita yang semakin panas. Ini adalah satu bukti pemanasan global yang langsung kita alami. Hal ini terjadi karena manusia menebang hutan secara tidak beraturan menyebabkan tanah gundul semakin luas dan akibat langsung yang kita alami adalah suhu udara yang semakin panas. Penebangan hutan secara liar adalah satu bukti nyata bahwa bumi pemberian Tuhan ini tidak dijaga oleh manusia. Bumi adalah Kebun Anggur milik Allah ini tidak dijaga oleh manusai secara baik, tidak diolah secara baik sehingga semakin hari semakin buruk kebun anggur Tuhan ini. Ini menunjukkan bahwa kita manusia tidak bertanggungjawab dalam menggarap bumi sebagai kebun anggur yang dimiliki oleh Tuhan yang telah memeberikan kebun anggur kepada kita ini.

Biblis

Bacaan pertama dan Injil berbicara tentang kebun anggur. Pemilik kebun Anggur adalah Tuhan Allah. Penggarapnya adalah bangsa Israel anak kesayangan Allah. Para hamba utusan Allah adalah para nabi yang membawa suara Allah kepada para penggarap kebun anggur agar menggarap kebun anggur sesuai kehendak pemilik kebun anggur sehingga dapat memberi hasil yang baik, sesuai harapan pemilik kebun anggur.

Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa penggarap itu bekerja onar sehingga menghasilkan buah yang masam. Pemilik kebun anggur menghukum para penggarap itu dengan tidak menurunkan hujan ke atasnya. Pemilik kebun anggur itu membongkar semua pagar kebun anggur agar tanaman anggur diinjak-injak orang. Pemilik kebun anggur marah.

Dalam bacaan Injil pemilik kebun anggur itu membuka kebun anggur. Menanam pagar di sekelilingnya, menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kepada para penggarap, lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik ia mengirim hamba-hambanya kepada para penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi hamba-hamba itu ada yang dipukul, hamba yang lain dibunuh, yang lain lagi mereka lempari dengan batu. Kemudian pemilik kebun anggur itu mengutus lagi hamba-hamba yang lain kepada para penggarap untuk mengambil hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi mereka juga diperlakukan sama seperti hamba kelompok pertama. Akhirnya pemilik kebun anggur itu mengirim PutraNya sendiri kepada para penggarap kebun anggur untuk meminta hasil yang menjadi bagiannya. Pemilik kebun anggur berpikir bahwa anaknya yang diutus pasti disegani. Tetapi ketika para penggarap itu melihat anak itu, mereka berkata seorang dengan yang lain, “Ia adalah ahli waris! Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Maka mereka menangkap dia, melemparkan dia keluar kebun anggur itu lalu membunuh dia. Penggarap kebun anggur itu tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Para penggarap hanyalah penggarap bukan pemilik kebun anggur. Merebut kebun anggur lewat pembunuhan ahli waris adalah kejahatan yang paling besar dalam hukum bangsa Yahudi. Maka patut mendapat hukuman menurut aturan Yahudi. Penggarap kebun anggur ini adalah orang-orang yang tamak. Karena ketamakan mereka maka pemilik kebun anggur itu mengambil kembali kebun anggurnya dari para penggarap itu yaitu bangsa Israel dan menyewakan kepada para penggarap lain yaitu bangsa-bangsa lain yang mau menggarap kebun anggur itu sesuai dengan kehendak pemilik kebun anggur. Kebun anggur diserahkan kepada bangsa-bangsa lain yang setia menjaga dan mengolah kebun anggur itu sesuai harapan pemilik kebun anggur yaitu supaya kebun anggur itu menghasilkan buah-buah yang baik.

Aplikasi

Kita adalah SVD atau imam diosesan. SVD dan keuskupan adalah pemilik kebun anggur dan menyerahkan kepada kita untuk kita kelolah dengan harapan menghasilkan buah-buah yang baik yaitu damai, bahagia dan keselamatan bagi sesama. Kebun anggur tempat kita kerja itu adalah paroki, komunitas, atau kantor. Pemilik kebun anggur menyerahkan kebun anggur itu kepada kita didasari oleh sebuah keprcayaan dan penghargaan yang tinggi kepada setiap kita. Maka kita pun sebagai penggarap kebun anggur itu terpanggil menjaga kepercayaan yang kita terima dari pemilik kebun anggur dengan bekerja baik dan jujur serta bijaksana. Dengan demikian kebun anggur yang kita garap, tidak diambil dan dialihkan oleh pemilik kebun anggur kepada penggarap lain yang lebih dipandang bertanggungjawab.


Penutup

Mari kita berusaha menjaga kepercayaan yang kita terima dari para pemimpin kita baik dari keuskupan, serikat dan komunitas dalam melaksanakan tugas-tugas kita agar kita menjadi penggarap – penggarap kebun anggur dalam konteks kita masing-masing, dalam lapangan pekerjaan kita masing-masing sebagai tempak kesaksian kita tentang nilai-nilai ketekunan, kejujuran dan damai yang mengalir dari Kerajaan Allah yang kita imani. Terutama dan pertama mari kita bersama-sama berjuang menjaga panggilan kita sebagai imam dan bruder dalam menggarap kebun anggur Allah yang dipercayakan kepada kita dengan penuh tanggungjawab. Amin.

Mempertanyakan Kuasa Yesus

Ada orang yang melihat kuasa Yesus untuk menyembuhkan sebagai kuasa Setan bukan kuasa Allah. Pertanyaan itu terbukti dalam Yesus mempertanggungjawabkan perbuatannya dalam menyembuhkan orang kerasukan setan. Hasil perbuatannya membuktikan bahwa Yesus menyembuhkan dengan kuasa Allah bukan kuasa setan. Ciri khas kuasa Allah adalah menyatukan, menyembuhkan, menyehatkan, mendamaikan, tidak memecahbelah, tidak menindas, tidak melukai dan tidak menyakiti. Sebaliknya ciri kuasa setan adalah memecahbelah, melukai, menindas, mengobyekan manusia, menyengsarakan dan menyulitkan orang lain.

Dalam bacaan Injil secara jelas dikatakan bahwa Yesus memiliki keunikan yang keluar dari kuasa Allah dalam menyembuhkan dan menyelamatkan, membebaskan, memerdekakan, orang yang kerasukan setan, ditindas oleh setan. Kerja setan yang merusak diganti dengan kuasa Allah yang menyembhkan. Bacaan Injil hari ini 10 Oktober 2008 Lukas 11 : 15 - 26 tentang Yesus menyembuhkan dengan kuasa Allah. Kuasa yang menyatukan dalam aneka perbedaan. Kuasa itu ditegaskan dalam oleh Paulus dalam bacaan Galatia 3 : 7 - 14 tentang orang yang beriman yang memiliki kuasa Allah adalah mereka yang tidak membawa perpecahan tetapi persatuan dalam perbedaan karena asal-usul dan latarbelakag yang berbeda-beda.

Aplikasi bagi kita. Dalam kehidupan seorang imam ketika kaul-kaulnya dilanggar, umat akan mempertanyakan apakah Anda menjadi dalam kuasa Allah atau kuasa setan? Ketika kehadiran seorang imam di Paroki menjadi pemecahbelah umat dan tidak menyatukan umat, orang atau umat akan mempertanyakan apakah imam itu bekerja atas nama kuasa Allah atau kuasa setan? Ketika seorang dosen memberi nilai skripsi harus ada pamrihnya maka seorang mahasiswa yang tahu amrihnya itu akan mempertanyakan etikan dan iman seorang dosen itu, apakah Dosen itu bekerja atas nama kuasa Allah atau kuasa setan? Ketika seorang dokter mengadakan malpraktek, orang akan bertanya apakah dosen ini merawat dalam kuasa Allah atau kuasa setan? Singkat pertanyaan-pertanyaan di atas menyadarkan kita agar kembali bekerja sebagai orang beriman dalam Kuasa Allah yang menyelamatkan orang sebanyak-banyaknya.


BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH
Bersatu dalam memperjuangkan yang baik bagiku dan bagimu dan bagi kita semua.
Bukan bersatu untuk merusak yang merupakan kuasa setan.

APAKAH SEMUA TAHU BERTERIMAKASIH?

Saya yakin semua orang tahu berterimakasih. Tetapi tidak semua mengungkapkan terimakasih dalam perbuatan dan teladan yang nyata. Dalam dua bacaan suci ini menyatakan hal di atas. Dalam Filipi 4 : 10 - 19 tertulis pengalaman Paulus yang mengungkapkan terimakasih banyak kepada umat Filipi yang membantu dan memberi banyak hal baik materi dan doa kepada Paulus yang menjadi misionaris Kabar Gembira Tuhan. Dalam bacaan Injil Mat 25 : 14 - 26 di sana ada yang tahu terimakasih dan ada yang tidak tahu terimakasih. Hamba yang diberi lima dan dua talenta tahu terimakasih kepada pemberi talenta dengan menggandakannya. Sebaliknya hamba yang menerima satu talenta malas dan tidak tahu terimakasih dengan tidak menggandakan talenta itu.

Malam ini Kamis 9 Oktober 2008 pemberkatan ruko Milik Keluarga AJI WIDIANTO SUTEJO dan MELANIE YUNIOR POETRI. Ini adalah satu ungkapan terimakasih kepada Tuhan yang telah memberi banyak talenta kepada mereka. Talenta ini mereka mau terus lipatgandakan untuk kesejahteraan keluarga ini dan sesama yang ada di sekitar dan sangat membutuhkan bantuan mereka. Kita mendukung dalam doa dan Perayaan Ekaristi ini agar berhasil dan hasilnya berlipat ganda. AMIN***

IDENTITAS MISIONARIS

Apa menjadi keunikan seorang misinaris? Itu adalah pertanyaan mendasar dalam ret-ret persiapan tahbisan imamam pada 1-9 September 2004 di pertapaan OCSO di Rawaseneng. Ada dua hal yang membentuk keunikan seorang misionaris yaitu hidup doa yang kokoh dan aktivitas yang mengalir dari sebuah kekuatan doa kepada yang mahakuasa. Keduanya ditemukan perdasarkan dua tokoh Maria dan Marta dalam menerima Yesus yang bertemu di rumah mereka. Dua keunikan ini penting diberi peluang untuk ditumbuhkembangkan dalam sejarah formasi pribadi sebagai seorang misionaris Allah.***

DOA BAPA KAMI

Berdoa berarti berkomunikasi dengan Tuhan secara lebih mendalam. Satu doa yang paling bagus adalah doa Bapa Kami yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Ada tiga pokok penting ada dalam doa Bapa kami ini yaitu : Mengusduskan, memohon dan mengampuni. Kita berdoa agar kita menjadi kudus seperti Allah adalah Kudus. Kita berdoa agar kita memohon apa yang kita butuhkan bukan apa kita sukai. kita berdoa agar mampu mengampuni sesama kita. Berdoa di sini adalah sebuah formasi diri menurut kehendak Allah. Formasi diri tidak akan berakhir. Kita sepanjang hidup kita terus membentuk diri menuju hidup yang berkelimpahan dalam Yesus Tuhan. Hidup kelimpahan kemanusiaan dalam multikulturalisme dan hidup iman dalam dunia sekular. ***

SIAPAKAH YESUS?

Saya mengenal Yesus dari ceritera orang lain dan dari ceritera Kitab Suci. Yesus adalah Guru. Yesus adalah Pengampun. Yesus adalah pendoa. Yesus adalah pedagang. Yesus adalah nelayan. Yesus adalah petani. Yesus adalah pemuda. Yesus adalah dokter. Yesus adalah pebela perempuan. Yesus adalah pelayan para ibu janda. Yesus adalah pembangkit orang mati. Yesus adalah pemimpin. Yesus adalah pekerja. Yesus adalah pemberi teladan. Yesus adalah pribadi revolusioner. Yesus adalah pribadi yang kritis. Yesus adalah seorang nabi. Yesus adalah pertapa. Yesus adalah tabah. Masih banyak pribadi Ysus yang dikenal berdasarkan refleksi pribadi kita masing-masing berdasarkan konteks persoalan dan situasi yang sedang membentuk pengenalan dan pemahaman kita tentang Yesus yang kita imani seturut pengalaman iman kita akan Yesus yang kita imani dan kita wartakan.


Petrus mengenal Yesus sebagai Mesias penyelamat dunia. Di atas dasar iman Petrus ini, Gereja di bangun dan Kunci Gereja Tuhan beri kepada Petrus. Maka dengan pengenalan Yesus yang terus berkembang sesuai dengan konteks zaman maka Gereja selalu hidup dan kreatif membangun Gereja sehingga selalu kontekstual tidak mandeg membosankan.


Inspirasi

YES 22 : 19 - 23
ROM 11 : 33 - 36
MAT 16 : 13 - 22

MISA SYUKUR WISUDA YOYO DKK DI ITATS

MELANGKAH PASTI MENGGAPAI IMPIAN



Proficiat kepada Yoyo dkk yang hari ini diwisuda. Ini satu kebanggaan sekaligus satu keberhasilan yang telah mereka raih. Impian mereka menjadi kenyataan. Keberhasilan ini kita rayakan dalam suasana bahagia. Kebrhasilan ini bukan jatuh dari langit juga bukan keluar dari dalam tanah. Keberhasilan ini adalah sebuah usaha dan perjuangan pribadi, orang tua, sahabat dekat, dan terutama karena Berkat Tuhan.




TERIMA


Mereka telah menerima banyak hal dari TUHAN. Tuhan memberi berkatNya yang berlimpah ruang kepada mereka. Rahmat Tuhan itu mereka rasakan dan mereka alama dalam pemberian yang mereka dapatkan dari pertama-tama kedua orang tua, adik dan kakak kandung, keluarga besar di rumah, para dosen atau pendidik, sahabat kenalan, dan terutama kemampauan dasar yang telah mereka terima dari Tuhan yang disebutkan dalam bacaan suci Mat 25 : 14 - 26. Mereka telah menerima pemberian dari bapak dan ibu kost dan orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung membantu mereka. Tuhan berkarya di dalam diri mereka.


KASIH


Pemberian yang mereka terima tidak berhenti di situ. Pemberian itu adalah sebuah perutusan. Mereka kini telah menjadi sarjana. Sarjana ini tidak berhenti setelah wisuda. Mereka akan diutus sebagai terang dan garam di tempat kerja mereka masing-masing. Mereka harus melipatgandakan kemampuan mereka. Orang banyak yang hidup bersama mereka akan mengalami terang dan garam yang mengenakkan dan memberi kenyamanan bagi mereka. KASIH SEJATI Tuhan mengutus mereka untuk memberi kesaksian tentang kasih yang sejati itu.


Kemampuan mereka yang telah dilgalisasikan lewat wisuda ini akan memberi kekuatan bagi mereka untuk bertindak yakin dalam memainkan ilmu mereka kepada dunia. Aspek sosial dari ilmu mereka akan teruji di tempat kerja mereka masing-masing.


Mereka sadar bahwa setiap mahasiswa pernah membohongi orang tua, dalam hal penggunanaan keuangan. Oleh karena ini itu mereka beri maaf yang sebesar-besarnya kepda orang tua.

Tugas berat mereka adalah membalas perjuangan orang tua dalam kerja mereka. Mereka ingin membalas kebaikan orang tua dalam lima tahun pertama bertugas.



RENEW


Mereka bukan sarjana map dari kantor ke kantor menunggu jadi pegawai negeri. Mereka harus menjadi sarjana yang kreatif dalam hidup mereka. Mereka mau lebih berwiraswasta ketimbang PNS yang gali lubang tutup lupang dan masa depannya untuk cepat sukses karena terhalang oleh tembok kantor dan kursi mati. Wiraswasta adalah lebih besar peluangnya untuk cepat sukses apalagi didasari oleh kreativitas yang bagus, maka waktu adalah uang. Setiap peluang dan kesempatan dibaca secara cepat untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan. Talenta bukan sekedar kemampuan tetapi soal iman kepada Kristus yang diumpamakan dengan perumpamaan talenta yang harus digandakan. Sama seperta kemampuan perlu digandakan dan dibungakan demimkian juga iman kita harus digandakan agar semakin banyak pengikut Kristus dalam segala zaman.



Tema BERLANGKAH PASTI MENGGAPAI IMPIAN ditulis dengan MERAH DAN PUTIH karena suasana HUTRIN = HARI ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA. TOGA DAN MELANGAKAH DALAM JEJAK KAKI ITU DITULIS DENGAN WARNA PUTIH MENUNJUKKAN BAHWA MEREKA INGIN TETAP BERSIH JUJUR TIDAK KKN DALAM KERJA MEREKA. ITU ADALAH IMPIAN MEREKA. MELANGKAH PASTI DITULIS DENGAN WARNA MERAH MENUNJUKKAN BAHWA MEREKA TIDAK INGIN UNTUK MENUMPAH DARAH ORANG LAIN DEMI EGOISMENYA. ****


INSPIRASI

FILIPI 4 : 10 - 19 : TERIMA KASIH atas PEMBERIAN JEMAAT
MATEUS 25 : 14 - 26 : PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA : Soal Kemampuan dan Iman Perlu dirambatkan

ILMUNYA AMBIL TELADAN BURUKNYA JANGAN IKUTI

Banyak orang pintar di negeri ini. Sedikit orang baik di dunia ini. Dalam Injil kita mendengar bahwa para elite pandai berkotbah dan berpidato dan berteori. Tetapi mereka tidak melaksanakan apa yang baik yang mereka ajarkan kepada murid atau bawannya. Hal ini sudah ada pada zaman Yesus. Para Farisi dan ahli-ahli Taurat menjadi orang terkemuka dalam kehidupan sosial mereka. Tetapi mereka bukan menjadi teladan bagi rakyat atau bawahannya. Maka para murid Yesus melihat hal itu ganjil. Yesus memberi peneguhan dalam Sabda ini : " Ambillah ajarannya tetapi jangan mengikuti perbuatan buruk mereka". Yesus sangat bijak dalam memberi peneguhan kepada para muridNya. Yesus menghendaki agar para murid memiliki karakter pribadi yang bijaksana salam menilai setiap peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.


Inspirasi
Yeh 43 : 1- 7a
Mat 23 : 1 - 12

SULIT KOTBAH DADAKAN PADA MOMENT PENTING

Seorang gembala hampir setiap saat memiliki kesempatan untuk berbicara di depan publik. Terus-menerus tampil di depan publik dari yang disiapkan secara matang sampai dadakan, rasa-rasanya mengalami kehabisan bahan, bahkan banyak komentar sinis dari umat, kok omongnya itu-itu saja sih.

Satu moment untuk tampil didepan umum adalah Perayaan Kelahiran meliputi perkawinan, wisuda, perak, jabatn dsb.


Ada tiga pokok kerangka yang selalu menjadi pengatur jalannya pembicaraan agar terarah yaitu :

1. Memory.
Dalam hal ini sebuah peryaan mengarahkan orang yang merayakan ke arah masa lalu yang penuh dengan pengalaman suka dan dukanya. Kejengkelan, problem, kebahagiaan, kegagalan, keberhasilan, pengampunan yang mewarnai perjalanan hidup di masa lalu sampai sebelum memasuki hri H perayaan itu. Ini adalah acuan untuk renungan hari raya kini.

2. Celebration.
Perayaan tentu membuat bahagia. Ada banyak teman lama berkumpul. Makanan enak. Shering pengalaman yang saling memperkaya, menguatkan dan menyegarkan. Ada acara persaudaraan yang membuat refresh kembali setelah hampir merasa jenuh dengan rutinitas. Perasaan senang dan bahagia mewarnai perayaan puncak.


3. RENEW.

Ada yang baik dan kurang di masa lalu. Masa depan penuh peluang untuk berkembang maju. Apa yang mau dibarui? Sukses ata setia atau dua-duanya. Kembangkan sendiri dalam meditasimu. Amin

Kreatif Menyelesaikan Kesulitan Hidup

Kehidupan bahagiaan adalah idaman setiap manusia normal yang beriman kepada Tuhan Yesus. Dalam perjalanan menuju cita-cita itu tidak selamanya berjalan dalam rasa yang senang tanpa beban kesulitan hidup. Di sela-sela ziarah menuju kebahagiaan yang dirindu probelama menjadi satu eksisitensi yang mewarnai setiap perjalanan hidup menuju tujuan bahagia yang diharapkan.


Kesulitan ada untuk diatasi. Penyelesaiannya bisa kita belajar dari pengalaman raja dan binatang kesayangannya Keledai yang terjerat masuk dalam sebuah sumur tua yang digali tapi tidak mendaptkan air dan membiarkan terbuka tanpa ditutup. Keledainya terperosok ke dalam sumur lubang tua itu dan raja seorang diri tidak dapat mengeluarkan Keledai dari sumur tua itu. Raja pun tidak kehilangan akal. Raja memerintah seluruh rakyatnya datang di sekeliling sumur tua itu dan menggali tanah disekitar sumur tua itu lalu tanah itu dibuang kedalam sumur tua itu. Keledai yang ada didalam sumur ketika tanah yang dibuang kedalam sumur itu selalu mengenai tubuhnya dan keledai itu terus berontak dalam sumur tua itu. Nah pemberantakan itu membuat Keledai itu mengintak tanah yang diinja itu semakin mengeras dan membantu sehingga semakin lama-lama sumur itupun menjadi penuh dengan tanah dan Keledai itu dapt keluar dari sumur tua itu. Keledai itu hidup dan Raja senang dan bahagia.


Hari ini kita merayakan syukur bersama keluarga ERIC - RENATA yang akan menjalankan perkawinan pada tanggal 20-08-2008. Harapan di kepala mereka adalah hidup keluarga yang bahagia. Cita-cita itu dalam perjalanan hidup kedua caon mempelai, nanti akan menghadapi kerikil-kerikil tajam yang mewarnai ziarah hidup mereka. Belajar dari sang raja, kesulitan tidak membuat diri panik. Justru kesulitan membuat diri kreatif untuk keluar dari kesulitan yang sedang dialami.

Kekuatan ERIC-RENATA dalam menghadapi setiap kesulitan adalah Iman Kepada Kristus Yesus yang memiliki kasih yang sejati. Dalam bacaan Injil Yoh 15 : 9-17 tentang Kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabatnya. Ef 5 : 22 - 33 tentang Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri. Kasih yang sejati seperti kasih Yesus kepada kita umatNya. Yesus mencintai kita seutuhnya tidak setengah-setengah. Dia bahkan menyerahkan nyawaNya untuk menyelamatkan kita. Aspek korban Yesus menjadi cintoh bagi korban kita satu terhadap yang lain. Yesus berkorban tanpah pamrih. Demikian juga kita mengimaniNya Dia yang demikian. Iman seperti ini tidak turn dari langit. Iman seperti ini tidak tumbuh dari dalam tanah. Iman seperti ini harus kita hidup sendiri dalam ziarah rohani kita. Iman seperti ini harus diusahakan dalam perjalanan hidup kita.


ERIC- RENATA akan menjalani kehidupan berkeluarga. Cinta sejati Kristiani yang dijumpai dalam diri Kristus harus menjadi dasar cinta sejati Anda berdua. Aspek korban harus menjadi utama dalam hidup Anda berdua. Korban bukan dituntut dari Renata oleh Eric. Renata juga tidak hanya menuntuk agar ERIC harus berkorban. Jangan mengharapkan pasangan Anda untuk berkorban. Tetapi Anda sendiri yang mau berkorban bagi orang lain seperti Korban Yesus yang Anda imani. Jangan tanyakan apa korban isteri bagi anda. Tetapi utamakanlah apa korban Anda bagi isteri Anda. Ubahlah dirimu sebelum orang lain diubah. Mengubah diri utama dalam mengalami keluarga yang bahagia yang dicita-citakan. ******

"Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi"

Hidup kekal mempunyai kedua bagian ini kekinian dan keakanan. Hidup kekal itu telah dialami saat ini lewat meninggalkan segala yang bersifat mengikat diri. Hidup lepas bebas untuk mengutamakan Sabda Allah pemilik hidup kekal merupakan saat mengalami hidup kekal di dunia ini. (Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22. Lepas bebas dari segala penghalang untuk menjadi manusia sempurna. Meninggalkan egoisme menjadi insan yang silider. Menjadi manusia yang kreatif untuk menuju kesempurnaan. Aku belum sempurna. Aku mau hidup seterusnya untuk menjadi sempurna. Aku tidak akan tenang sebelum hidupku sempurna dalam Tuhan Yesus yang kuimani. ****

KONSPIRASI FARISI - PARA MURID HERODES ANTIPAS

MEMAKNAI HARI RAYA KEMERDEKAAN RI KE 63

Kehidupan bersama itu tidak selamanya mendatangkan kenyamanan. Kehidupan bersama seringkali mendatangkan ancaman satu terhadap yang lain atau persaingan satu terhadap yang lain secara tidak sehat, saling menjatuhkan satu terhadap yang lain, dengan cara-cara yang licik dan bahkan lewat konspirasi-konspirasi tertentu. Kehidupan dalam masyarakat Israel juga terjadi persaingan. Orang Farisi dan Para Murid Herodes merasa tersaingingi dengan kehadiran Yesus. Mengapa?

Kehadiran Yesus sebagai tokoh spiritual menarik banyak perhatian massa yang langsung mengikuti Yesus sebagai tokoh spiritual mereka yang mereka idam-idamkan. Mereka merasa save mengikuti Yesus. Yesus memeberi makan kepada yang lapar dan miskin. Hal ini menjadi nyata dalam Mujizat pergandaan Roti dan ikan. Mereka mendapat mujizat penyembuhan dari Yesus, yang sakit disembuhkan, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar. Dengan demikian Yesus semakin terkenal dalam masyarakat. Banyak orang yang mengikuti Yesus. Para pengijut Yesus itu berasal dari massa atau umat kaum Farisi dan massa atau rakyat Herodes Antipas. “Yesus berhasil mengail pengikutNya di kolam kaum Farisi dan kolam Herodes Antipas”. Satu keunikan dari Yesus menarik banyak orang yang kemudian menjadi pengikutNya adalah Yesus melayani mereka untuk kepentingan dan kesejahteraan mereka yang dilayani. Yesus mengutamakan kesejahteraan umum. Itu inti sari yang menyentuh kerinduan dan harapan umat yang Yesus layani. Hal itu mereka temukan dalam tokoh spiritual Yesus, tidak mereka temukan dalam para Farisi yang punya jabatan dan kedudukan dalam institusi agama Yahudi dan Penguasa Sipil Herodes Antipas.

Kaum Farisi dan Para Pengikut Herodes merasa tersaingi bahkan sangat terancam dengan kehadiran Yesus pemimpin spiritual. Orang Farisi dan Para Murid Herodes mulai menyusun kelicikan mereka untuk mematahkan popularitas Yesus. Untuk menggolkan semua ambisi mereka untuk tetap berkuasa dan tetap memiliki massa, maka kaum Farisi dan para pengikut Herodes mulai menyusun konspirasi untuk menjatuhkan Yesus. Hasil konspirasi mereka itu mereka ungkapkan dalam upaya mereka untuk mejerat Yesus, lewat pertanyaan kepada Yesus: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar?” Mereka mengharapkan agar Yesus menjawab tidak atau ya, sebagai pintu untuk menjerat Yesus. Dalam konspirasi mereka, kalau Yesus menjawab Ya maka Yesus menyangkal rasa kebangsaanNya sebagai bangsa Yahudi. Secara teologis, Israel adalah tanah Suci dari Allah sebagai penguasa satu-satunya. Membayar Pajak kepada Kaisar berarti mennyangkal iman kepada Allah sebagai fondasi identitas iman bangsa Yahudi. Jawaban ya untuk membayar pajak kepada Kaisar akan mendatangkan para pengikut kaum Farisi mengadakan revolusi lewat demontrasi besar-besaran bahkan Yesus akan dilempar oleh para pendomo karena jawaban Ya itu merupakan satu pemerkosaan terhadap identitas bangsa Yahudi. Kalau Yesus menjawab tidak, maka Herodes Antipas dan para pengikutnya akan menyerang Yesus karena Dia tidak taat pada Penguasa Sipil saat itu yang dikendalikan oleh Penjajah Romawi.
Menarik bahwa Yesus tidak menjawab ya atau tidak terhadap pertanyaan yang menjerat DiriNya. Yesus sungguh menampilkan diri sebagai pribadi yang dipenuhi oleh kebijaksanaan dalam SabdaNya ini: “"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."(Mat 22:21). Dengan jawaban ini Yesus membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap "urusan kaisar" maupun keprihatinan mereka mengenai "urusan Allah" dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya.
Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkal jawaban Yesus “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Dalam perkataan Yesus “berikanlah kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya”, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama. Salah satunya adalah pajak dan kolekte untuk Bait Allah mereka gunakan untuk kepentingan diri sendiri bukan untuk kepentingan bersama. Jawaban Yesus secara implisit kritik terhadap kaum Farisi dan penguasa sipil yang korup uang rakyat dan umat.
Tema pembayaran pajak oleh rakyat untuk kesejahteraan rakyat dan kolekte dari umat untuk kesejahteraan umat tetap aktual untuk dibicarakan pada moment penting Hari Raya Kemerdekaan RI yang ke 63 pada hari ini. Pembicaraan tentang tema pajak dan kolkete menyangkut dua hal penting yang terlibat langsung yaitu rakyat atau uamt yang membayar pajak atau kolkete dan penguasa atau pemimpin agama yang menerima dan megelolah serat menyalurkan pajak atau kolekte untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dalam Gereja maupun dalam masyarakat bangsa dan negara.

Tujuan pajak dan uang kolekte itu untuk kesejahteraan rakyat dan umat masih perlu direfleksikan lebih dalam lagi pada kesempatan istimewa Hari Raya Kemerdekaan Negara Indonesia ini, dalam memberi makna pada Kemerdekaan Negara Indonesia yang dirayakan ke 63 tahun. Merdeka berarti bebas dari kemiskinan dalam arti yang luas, mencakup sarana pendidikan yanga memadai yang tidak merata di tanah air, penyebaran tenaga dokter yang tida mereta di tanah air, sarana kesehatan yang tidak mereta, kemiskinan materi, masih ada dan dialami oleh rakyat maupun oleh umat beriman. Satu akar soal utama kemiskinan sampai hari ini belum tersembuhkan adalah masih ada pemerataan korupsi di tanah air Indonesia yang Hari Merayakan Kemerdekaannnya yang ke 63.

Pipa penyaluran Pajak dari rakyat untuk rakyat itu tersumbat oleh para penyalur uang rakyat kepada rakyat demi kesejahteraan bersama. Uang dari rakyat lancar mengalir ke tangan para penguasa, tetapi para pengelolah menyunat uang itu sehingga rakyat tetap misin , sedangkan penguasa terus sejahtera. Rakyat miskin yang telah susah payah membayar pajak hanya menonton kesejahteraan para penguasa yang enjoy menikmati uang rakyat. Rakyat sederhana tahu ketamakan para penguasa tapi tapi mereka tidak mempunyai beking yang kuat untuk kritik pedas pada para penguasa yang korup. Demikian juga dalam Gereja sebagai lembaga rohani yang mendapat kolekte dari umat untuk kesejahteraan umat. Apakah dalam Gereja juga melakukan hal yang sama? Kalau demikian orang-orang yang bekerja dalam institusi Gereja harus bertobat.

Melihat realitas seperti ini kita dihadapkan pada permenungan tentang KEMERDEKAAN Negara Republik Indonesia. Sebagai orang beriman, kita merenungkan Kemerdekaan dalam Kristus yang memiliki warna Keadilan dan Cinta Kasih. Kemerdekaan dalam Kristus yang meiliki warna Keadilan berarti kita sebagai orang beriman mau mengutamakan keadilan dalam tugas dan karya kita, dalam bidang apapun dan dimanapun kita berada. Merenungkaan kemerdekaan dalam Cinta Kasih mengantar kita kepada satu sikap hidup bahwa kita dipanggil untuk melayani umat, anggota komunitas, konfratres, dimana kita hidup dan ke mana kita diutus. Melayani berarti kita memiliki pengorbanan diri demi kesejahteraan bersama dan kesejahteraan komunitas. AMIN **** Ad multos annos***

Surabaya,
17 Agustus 2008
Haria Raya Kemerdekaan RI
Sir 10:1-8; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

MENEGUR YANG SALAH

Kita semua sadar bahwa setiap kita tidak ada yang sempurna. Kita semua tidak ada yang tidak berdosa. Dalam keadaan kita yang seperti itu kita semua mempunyai satu harapan agar kita menjadi manusia yang sempurna. Kesempurnaan yang akan kita raih bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit atau tumbuh dari dalam tanah. Tetapi sesuatu yang kita usahakan baik secara pribadi maupun secara bersama-sama.


Satu cara untuk mencapai kesempurnaan adalah seperti yang disampaiakn dalam Injil Hari ini. Yesus bersabda supaya kita bersedia untuk menegur sesama yang salah dan berdosa dan kita sendiri juga bersedia untuk ditegur sebagai satu jalan menuju kesempurnaan yang ingin diraih. Teguran di sini dimaksud sebuah teguran yang membangun bukan menjatuhkan.


Teguran itu akan mengubah diri menuju kesempurnaan yang diharap kalau penerima teguran yang membangun itu membuka diri dan rendah hati untuk berubah dan diubah oleh teguran sesama yang membangun itu.


Injil hari ini mengarahkan kita agar kita memiliki keterbukaan hati dan kerendahan hati di hadapan Tuhan yang selalu menegur kita lewat sabdaNya yang setiap hari kita dengar dalam Perayaan Ekaristi. Sikap itu menuntun kita untuk transparan demi kebaikan bersama dalam kehidupan komunitas kita masing-masing.


"KALAU SAUDARAMU BERBUAT DOSA TEGURLAH DIA DIBAWA EMPAT MATA"
Mat 18 : 15 - 20

PERUBAHAN

Perubahan. Ada perubahan di sekitar kita. Perubahan itu dilihat dan ditulis lewat media cetak dan ditonton di televisi dan disiarkan dalam radio. Ada perubahan yang baik. Ada perubahan yang tidak baik. Perubahan baik misalnya pendidikan dan kesehatan serta kesejahteraan semakin baik dirasakan oleh sesama. Perubahan yang tidak baik dapat kita lihat publikasi tentang pemerkosaan, pembunuhan dan perusakan alam dan lingkungan hidup.


Kita dihadapkan pada suatu pilihan hidup terhadap perubahan-perubahan yang demikian. Pilihan kita punya takaran yang bersumber kepada Yesus mengalami perubahan rupa manusiawi menjadi rupa ilahiah. Perubahan itu berpuncak lewat jalan penderitaan salib sebagai jalan menuju keselamatan universal-global.

Kita mengimani Yesus yang demikian. Pada hari ini tanggal 6 Agustus Hari Raya Yesus Beurbah Rupa di Gunung Tabor. Kita mau berubah dan mengubah sesuai visi perubahan Yesus yaitu keselamatan universal. Nilai kebaikan bagi umum inilah yang seharusnya menjadi jiwa setiap gerak pelayanan kita sebagai utusan Allah di tengah dunia dewasa ini.

FAMILY

FAMILY ?
Father And Mother I Love You. Bapa dan Mama Saya mencintaimu.
Cinta nyata yang dialami anak manusia adalah cinta kedua orangtua yang baik kepada anak - anaknya. Anak yang baik adalah mencintai kedua orang tuanya.

Umat Miskin Pastor Kaya?

Kemiskinan terjadi karena ada dua hal ini yaitu kemalasan manusia dan kesalahan sistem sosial sebagai pipa yang menyalurkan dana pembangunan demi kesejahteraan bersama. Apa yang kita lakukan terhadapa kedua penyebab kemiskinan itu ? Yesus memberi makan kepada lima ribu orang yang lapar karena apa? Bisa saja karena kemiskinan karena kemalasan dan bisa karena para penguasa dunia atau sipil pada zamannya tidak menyalurkan dana demi kesejahteraan umum. Yesus berbelaskasihan kepada mereka lewat memberi makan kepada mereka. Lalu kita pada zaman ini bagaimana kita melihat kemiskinan dan kelaparan yang ada di sekitar kita? Apakah kita dengan institusi kita menyalurkan dana bagi perbaikan ekonomi umat? Umat kaya kolekte naik. Pastor makmur.

Uskup Melayani Pasutri ME Angkatan 182 dengan Perbuatan

Pada tanggal 18 - 20 Juli 2008 saya dengan Romo Save mengikuti APME ( Akhir Pekan ME ) di Rumah Ret-ret Bintang Kejora Pacet. Pada hari Minggu 20 Juli 2008, waktu evaluasi relasi Pasutri selama 90 Menit di kamar masing-masing, Uskup melayani Pasutri dengan perbuatan konkrit. Uskup mengantar Snack dari kamar ke kamar kepada pasangan suami isteri yang diberi kesempatan untuk evaluasi relasi dari hari ke hati dalam kamar masing-masing selama 90 menit. Apa reaksi pasutri menerima pelayanan uskup?

Para pasutri yang terdiri dari orang cina dan Jawa itu sangat merasa tidak layak dilayani seorang Uskup Pemimpin terttinggi Gereja Katholik Surabaya. Mereka berpikir bahwa ini adalah satu hal yang baru karena Uskup yang setingkat jabatan dengan Gubernur melayani umatnya,dengan mengantar snack dari kamar-ke kamar. Ini adalah contoh yang luar biasa. Uskup saja melayani mengapa suami isteri tidak bisa saling melayani?

AKSI NYATA JPIC PROVINSI SVD JAWA

Ben, Salam ke Galvestone. Kita tentu most welcome rencana Fr. Bob u membantu VIVAT di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Beliau pernah singgung (share) pemikiran seperti itu ketika saya bertemu dg. beliau tahun lalu di Bordentown. Bagi kami di Indonesia, rencana ini menjadi sangat relevant ketika JPIC SVD-SSpS Indonesia sedang merencanakan dan mendesign pembentukan VIVAT Indonesia sebgai badan penghubung antara VIVAT International dan gerakan JPIC kita di akar rumput.

sebuah info kecil: pagi ini saya ke Wonorejo, pantai timur Surabaya u survey lokasi penghijauan. Tgl.14 Juni yad JPIC SVD-SSpS Jawa bersama paroki-paroki SVD di Surabaya akan menanam 6.000 pohon manggrove dalam rangka perayaan seabad kematian St.Arnold & St. Josef, serta berpartisipasi dalam peringatan Hari Mangrove se-dunia. Kegiatan ini juga bersifat partispatif dan inklusif, diikuti oleh berbagai elemen masyarakat lokal seperti tani & nelayan setempat, pemuda Ansor, mahasiswa Papua, aktivist lingkungan dari UPN dan Forum Peduli Lingkungan dari Kec. Rungkut Surabaya. Para frater novis dan studiosi kita dari Malang dan Batu, Mudika dari paroki-paroki SVD Surabaya dan suster SSpS tidak ketinggalan dalam ikut menyukseskan program ini. Sekitar 300 orang akan ambil bagian dalam aksi "penyelamatan ibu bumi" ini dari ancaman global warming & abitrasi pantai. Diharapkan kehadiran Bambang DH, walikota Surabaya untuk membuka acara tersebut.

Salam banyak buat Fr. Fisher dan selamat berakhir pekan u semua rekan Alles.

Paul

PEDULI SIGIT DAN SEPEDA SANG PENDOA

met pagi Yen, apa kabar? sehat? semoga deh!
pagi ini seperti biasa aku bangun, trus doa pagi. senin dan kamis, kami misa sore dan acara pagi diisi doa komunitas.

pagi tadi seperti biasa kami berdoa. ada dua orang yang ikut bergabung. ibu pertama seorang ibu yang lebih muda. sangat asing untuk saya. sedangkan ibu kedua, adalah ibu tua berumur 65 tahun. Ibu yang lebih muda, tidak masuk ke kapel, ia hanya duduk di depan pintu masuk kapel kami. sementara yang tua, duduk di tengah kami.

tidak ada yang istimewa dalam doa pagi, kecuali mendaraskan masmur dan doa-doa gereja biasa. juga doa-doa pribadi. yang istimewa adalah bahwa setelah selesai doa, saya keluar, ibu muda yang di luar kapel tadi tidak ada. kemudian ketika ibu tua selesai doa, dia mrebes mili (mata berkaca-kaca) menangis karena sepeda tua yang dimilikinya hilang. saya juga tidak melihat sepeda lagi, padahal sebelum masuk kapel, saya melihat sepeda itu ada.

ibu tua itu lapor kepada saya. antara bingung, nyesal, kehilangan. dia bercerita kalau dia datang untuk mendoakan anaknya. ibu itu rajin sekali datang. hanya hari ini ada intensi khusus untuk anaknya, makanya dia doa pagi (harusnya kan dia datang sore untuk misa).
saya merasa kasihan karena rumahnya jauh dan sepeda itu satu-satunya sarana transportasi yang ia miliki. dan akhir saya mengirim seorang bruder untuk menghantar dia ke rumahnya. cukup jauh, sekitar 3 km dari rumah kami. saya hanya berjanji untuk mencarikan sepeda itu, siapa tahu nanti kami bisa temukan di kampung atau di pasar loak.

setelah membantu ibu itu untuk bisa pulang, saya masuk ke kamar makan dan berbicara. ibu yang lebih muda untuk sementara kami duga sebagai yang mengambil. kata beberapa teman, ibu muda itu sering menipu beberapa orang diantara kami sehingga beberapa orang menduga bahwa ia kemungkinan adalah orang yang membawa sepeda tua itu. dan ada rasa simpati untuk ibu yang kehilangan sepeda itu.

kehilangan memang tidak selalu mudah diterima. saya pernah merasakan sendiri apa arti sebuah kehilangan. kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan benda atau harta yang kita miliki, seringkali membawa "luka" atau "duka" yang tidak selalu mudah untuk diterima. anthony de mello, menjelaskan bahwa duka, luka dan rasa sakit ini karena seringkali kita manusia begitu "melekat" dengan entah barang, entah orang atau pribadi. kelekatan ini yang sering menjadi penyebab penderitaan dalam kehidupan kita manusia.

bagus, kalau dalam kehidupan kita ini, kita tidak melekat. ini sebuah idealisme. tidak melekat dengan barang, orang, dengan jabatan, tempat tinggal atau tempat berkarya. tapi jujur, MENGHILANGKAN KELEKATAN INI TIDAK SELALU MUDAH. Tidak selalu mudah mengalahkan diri kita dari kelekatan. pengosongan diri, penyangkalan diri (kenosis) atau barangkali yang disebut "nirwana", sangatlah tidak mudah untuk banyak orang. kita sebagai manusia justru cenderung untuk melekat pada begitu banyak pribadi, harta kekayaan, jabatan atau apapun yang menjadikan kita merasa lebih "hebat, kaya, berkedudukan, bla bla bla bla bla bla". kita hanya manusia biasa. kita belum bisa seperti yesus yang menyangkal diri. kita belum seperti budda yang mengosongkan diri. kita masih menjadi diri kita yang SEDANG BERJUANG, JATUH BANGUN, untuk menjadi lebih baik. untuk tidak melekatkan diri kepada apapun dan siapapun kecuali melekatkan harapan, iman, dan cinta kita kepada Sang Pencipta Kehidupan. tapi kita sedang berjuang dan terus akan berjuang. dan kita tahu, bahwa perjuangan kita, seringkali gagal. tidak selalu perjuangan kita berhasil.

akhirnya Yen, kamu kan sering bantu aku. aku ijin ya, sebagian uang itu akan aku gunakan untuk membelikan sepeda untuk ibu tua itu. saya tahu persis siapa ibu tua itu. saya tahu, setidaknya sejak saya di yogya ia merupakan salah satu orang yang paling rajin berdoa, pergi ke kapel dan gereja. karena itu kalau kita bantu dia dengan sepeda, saya cukup yakin, dia pasti akan berdoa untuk kita.

wis ini dulu.
salam dan doa

Kunjungan yang Menyembuhkan

Saya pernah sakit. Sakit fisik. Sakit psikis. Stress. Sepi. Kesendirian. Merasa hampa. Merasa tidak ada semangat untuk melakukan pekerjaan utama. Pengalaman-pengalaman itu nyata, konkrit dialami manusia pada umumnya dalam frekuensi yang berbeda-beda. Saat-saat mengalami pengalaman seperti itu ada satu harapan yang terbentuk dalam benak manusia. Harapan itu adalah dikuatkan oleh sesama. Dteguhkan kembali oleh teman. Disegarkan kembali oleh sahabat dekat. Kekuatan itu dapat lewat kunjungan dan perhatian sesama.

Kunjungan itu membutuhkan pengorbanan. Korban waktu. Korban tenaga. Korban uang. Berkorban harta, waktu dan materi itulah yang dilukiskan oleh Maria yang mengunjungi Elisabet saudarinya. Satu kunjungan pastoral yang menguatkan dan bahkan menggembirakan. Membangkitkan semangat hidup bagi yang dikunjungi. Kunjungan dari hati ke hati. Kunjungan cinta. Hiduplah cinta dalam hati semua yang mendapat kunjungan. Hiduplah Hati Manusia dengan kunjungan penuh cinta dan pengorbanan. Kunjungan itu diterapkan dalam kunjungan kepada orang sakit di Rumah Sakit. Atau orang sakit pada umumnya.



Pesta ST. Maria Mengunjungi Elisabet 30 Mei 2008
Kunjungan Pastoral Maria yang membawa keselamatan

Tiada Kurang Gizi dalam Keluarga "Surya Wacana" Malang


Setiap manusia lahir dari rahim ibu. Demikian juga anak-anak dari orang tua Surya Wacana. Di usia perkawinan perak kedua orang tua Surya Wacana , Bapa dan Mama Surya Wacana pada tahun yang kedua puluh lima ini, tetap produktif dalam perkawinannya. Sejak mengandung anak sulung yang dilahirkan di Pulau Dewata Bali, orang tua Surya Wacana tetap mengandung dan melahirkan putera-puteranya. Keluarga orang tua Surya Wacana ini unik.


Keunikannya adalah sejak awal perkawinan dan mengandung serta melahirkan anak-anaknya semuanya adalah anak laki-laki. Tidak ada anak perempuan. Sudah dipikir matang dan memperaktekan KBA-nya Pater Paul Klein dalam kehidupan perkawinan, sehingga sejak awal orang tua Surya Wacana selalu mengandung dan melahirkan anak laki-laki. Kedua orang tua Surya Wacana telah tahu persis masa-masa relasi intim mereka untuk selalu mengandung dan melahirkan anak laki-laki.


Dari sekitar ratusan anak yang dikandung orang tua surya wacana itu tempat kelahirannya berbeda-beda. Anak sulung dikandung dan dilahirkan di Pulau Dewata Bali. Lalu menyusul anak-anaknya yang lahir di tempat yang beraneka. Ada yang lahir di Jogjakarta. Ada yang lahir di Jakarta. Ada yang lahir di Palembang. Ada yang lahir di Malaysia. Ada yang lahir di Nias. Ada yang lahir di Sumatera. Ada yang lahir di Aceh. Ada yang lahir di Ambon. Ada yang lahir di Atambua. Ada yang lahir di Solo. Ada yang lahir di Pulau Cendana. Ada yang lahir di pulau seribu sungai. Ada yang lahir di Flores. Ada yang lahir di Sumba. Ada yang lahir di Sumbawa. Ada yang lahir di Papua.


Tempat kelahiran anak-anak yang berbeda-beda itu menunjukkan bahwa orang tua Surya Wacana memiliki satu orientasi agar anak-anaknya dibentuk dengan rasa aneka budaya tempat mereka dilahirkan dalam satu keluarga Surya Wacana. Orang tua Surya Wacana memiliki pandangan jauh kedepan agar anak-anaknya menjadi manusia yang memiliki satu hati Surya Wacana dalam menampilkan diri dengan keunikannya yang khas berbeda satu anak dengan yang lainnya. Orang tua Surya Wacana memiliki satu hati yang bersumber pada Hati Yesus yang diturunkan kepada anak-anaknya yang dikandung dan dilahirkan dalam aneka wajah dan budaya sebagai pakaian keunikan yang mereka kenakan. Kesamaan anak-anak orang tua Surya Wacana dalam satu hati Yesus sebagai intisari iman mereka dalam penghormatan terhadap kenekaan pakaian budaya yang anak-anaknya pakai sebagai suatu keindahan yang memberi sejuta inspirasi bagi dunia.


Saya merasakan saat ini bahwa orang tua Surya Wacana yang mengandung dan melahirkan saya serta memberi makan minum yang bergizi yaitu ilmu dan iman secara seimbang yang mengantar saya kepada pola pemahaman akan formasi saya pada taraf ilmu dan iman yang menuntun saya kepada pembentukan diri oleh Satu Hati Aneka Wajah dalam dunia zaman saya. Pola pemahaman ini menjadi pola perilaku saya dalam hidup saya. Orientasi kedua orang tua saya Surya Wacana itu sungguh saya alami dan itu yang saya ceriterakan kepada kakak-kakakku dan adik-adikku sebapa dan semama Surya Wacana di hari bahagianya pada pesta perak perkawinan Bapa dan Mama Surya Wacana ini.


Saya dibekali dengan makanan yang bergizi itu dan kini saya menjadi insan yang mandiri dalam bekerja. Walau pendapatanku dalam bekerja tidak seberapa tetapi saya mesti bersyukur kepada ibu dan bapaku Surya Wacana. Saya mau memberi yang terbaik kepada kedua orang tua Surya Wacana di hari ulang tahun perak pernikahannya ini, yaitu saya mau menjadi anaknya yang bekerja dengan hati dalam setiap pekerjaan dan pelayanan saya. Saya sungguh menjadi anak yang sadar akan asal saya dari Terang Kasih Sejati Surya Wacana sebagai orang tua saya yang telah mengandung dan melahirkan saya. Maka saya mau memancarkan Terang Kasih Yang Sejati yang menjadi karakter orang tua Surya Wacana kepada seluruh dunia tempat saya diutus dan saya melayani semua manusia. Terang Kasih Sejati itu adalah Yesus Sendiri yang senantiasa menguatkan saya.


Saya sungguh dikuatkan oleh kakak-kakakku dan adik-adikku yang sebapa dan semama Surya Wacana, yang pergi ke berbagai pelosok dunia menjadi pewarta Sang Terang Sejati Yesus Kristus yang dibentuk mulai dalam kehidupan iman keluarga Surya Wacana didukung dengan pendidikan filsafat untuk membahasakan Kristus dalam bahasa manusia tempat para putera Surya Wacana bermisi. Tentu ceritera kakak-kakakku dan adik-adikku yang bekerja di tanah misi baik dalam negeri maupun di luar negeri pada perak Surya Wacana ini sangat memperkaya saya. ****

Beny Mali, SVD


"BURUNG-BURUNG BERKICAU MESKI HARI MASIH GELAP"

Keterlibatan Misioner Kita
Dalam Perspektif Harapan Kristiani

Paul Rahmat, SVD

“Burung-burung berkicau meski hari masih gelap”
(Rabin Tagore)


Selamat datang dan terima kasih untuk kesediaanya mengikuti acara rekoleksi ini.[1] Rekoleksi ini merupakan bagian dari seri kegiatan rekoleksi komunitas kita selama Tahun Centenial ini untuk mengenang seabad wafatnya St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz.

Tema rekoleksi kita pada sore ini adalah harapan kristiani. Kita coba merefleksikan tema ini dengan mengacu pada ensiklik Spe Salvi dari Paus Benedict XVI. Secara khusus, kita ingin melihat kaitan antara warta kabar gembira tentang „harapan kristiani“ dengan keterlibatan misioner dan tugas kerasulan kita dewasa ini. Secara sederhana dapat kita katakan, misi kita (Gereja, SVD) dewasa ini, tidak lain, ialah membawa „harapan“ bagi umat manusia dan dunia yang paling membutuhkan. Hal ini sejalan dengan harapan Bapa-bapa Konsili Vatikan II melalui Gaudium et spes yang mengatakan: „Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga“ (GS 1).

Kita akan merefleksikan tema ini pertama-tama dengan mengeksplorasi hakikat harapan kristiani dan jalan atau cara menghyati hidup dalam perspektif pengharapan kristiani. Kemudian kita akan melihat implikasi-implikasi praktis dari ajaran tersebut bagi hidup kerasulan dan keterlibatan misioner kita dewasa ini. Dan akhirnya, renungan ini akan ditutup dengan melihat sepintas atau belajar dari pengalaman hidup kedua orang kudus kita, St. Arnodlus dan Josef Freinademetz. Mereka adalah orang-orang biasa yang tidak hanya memiliki harapan tetapi juga memberi kesaksian tentang pengharapan bagi oranbg-orang sezamannya. Boleh dikatakan, mereka adalah saksi dan pelayan pengharapan.

1. Hakikat Harapan Kristiani

Apa itu „harapan“ dan secara khusus „harapan kristiani?“ Makna kata „harapan“ pertama-tama dapat dilukiskan secara metafor. Pujangga besar India, Rabin Tagore mengatakan „harapan“ adalah seperti „burung-burung berkicau di pagi hari meskipun hari masih gelap.“ Penulis buku spritual modern, Henri M. Nouwen, mengibaratkan harapan itu seperti seorang pelaut yang sedang berlayar di tengah samudra raya dengan biduknya yang kecil; di tengah ombak dan gelombang samudra itu ia masih melihat sebuah pulau dan mengarahkan biduknya ke sana. Sastrawan besar Rusia, Dotowjesky, melukiskan orang yang mempunyai harapan seperti seorang yang berada di dalam sebuah terowongan panjang dan gelap gulita, namun ia masih melihat seberkas cahaya lampu pada ujung terowong itu. Orang-orang yang punya harapan menyadari situasi „gelap“, terkadang penuh resiko dan berbahaya di sini dan kini, akan tetapi masih mampu „melihat“ sesuatu yang meng-gembirakan sekalipun masih sangat jauh, dan atas dasar itu mereka mengarahkan pandangan mereka ke depan dan mendayagunakan seluruh energi, kapasitas, dan semua resources yang mereka miliki untuk meraihnya.

Paus Benedict dalam Spe Salvi menegaskan bahwa harapan kristiani didasarkan pada iman. Dapat dikatakan, orang yang berharap adalah orang yang beriman. Perjanjian Baru memberi kesaksian tentang hal ini. Surat kepada Orang Ibrani, misalnya, mengaitkan „kepenuhan iman“ (Ibr 10:23) dengan „...berpegang teguh pada keyakinan tentang pengharapan kita“ (Ibr 10:23). Gereja Perdana membandingkan situasi hidup orang-orang sebelum dan sesudah mereka menjadi kristen. Sebelum berhubungan dengan Kristus melalui pembaptisan, mereka hidup „tanpa harapan dan tanpa (mengenal) Allah di dunia“ (Eph 2:12). Kepada umat di Tesalonika, Paulus mengatakan bahwa mereka tidak seharusnya „bersedih seperti orang lain yang tidak mempunyai harapan“ (1 Thes 4:13), yang tidak mempunyai masa depan. Esensi harapan kristiani bertumpu pada iman akan Allah yang benar yang mengubah dan membentuk hidup baru. Karena itu, harapan kristiani bersifat sekaligus performatif dan transenden. Performatif karena harapan yang dilandasi oleh iman akan Allah membentuk dan mewujudkan hidup baru dan dengan cara yang berbeda. Trasenden karena harapan kristiani melampaui harapan itu sendiri.

Aspek yang esensial dari harapan kristiani ialah kepercayaan akan keselamatan kekal yang dibawa oleh Yesus Kristus. Berbeda dengan orang-orang „kafir“, orang-orang krsiten perdana mempunyai masa depan dan percaya bahwa hidup mereka tidak berakhir dalam kehampaan atau kekosongan. Bagi orang-orang pada zaman modern ini, kata „hidup kekal“ seringkali menakutkan dan menganggap suatu keberadaan yang monoton dan tak berubah. Paus Benedict menegaskan bahwa hidup kekal tidak dimengerti sebagai suatu peredaran waktu yang terjadi satu sesudah yang lain dalam lingkaran musim atau kalender. Hidup kekal, demikian Spe Salvi, dibayangkan sebagai suatu moment kepuasan puncak (the supreme moment of satisfaction). Itu seperti menceburkan diri dalam lautan cinta yang tak berkesudahan, sebuah moment di mana waktu sesudah dan sebelumnya tidak eksis lagi. Inilah yang dinamakan „harapan kristiani.“

Secara retotrik ensiklik Spe Salvi bertanya: apa yang kita harapkan dan apa tidak dapat kita harapkan? Konteks dari pertanyaan ini, dan ini yang mau dikritisi dan ditantang oleh Paus Benedikt, adalah pemikiran atau kepercayaan orang-orang pada zaman modern ini yang mengantikan iman atau harapan akan keselamatan (hidup) kekal dengan bertumpu pada keyakinan (iman) akan kemajuan (pembangunan) dan teknologi. Kamajuan dan teknologi; pada satu sisi, memang menawarkan banyak peluang untuk hal-hal yang baik dan positif, namun, pada sisi yang lain, membuka kemungkinan kepada hal-hal yang jahat dan kekejaman yang menghancurkan. Pada sebuah lorong di kantor PBB, New York, dipamerkan sebuah patung manusia yang terbuat dari besi perunggu, diambil dari kota Hirosima pasca perang dunia II. Patung perunggu itu tampak luka memar, tersobek-sobek. Patung itu sengaja dipancangkan pada tempat umum untuk menunjukkan dan mengingatkan kepada para pengunjung akibat yang sangat kejam dari bom atom Hirosima. Patung itu merupakan sebuah saksi sejarah akan kekejaman dari sebuah „kemajaun dan teknologi“ yang menghancurkan dalam sejarah peradaban umat manusia abad 20.

Jadi, kembali kepada pertanyaan Spe Salvi tadi, apa yang boleh kita harapkan? Paus Benedict menjawab pertanyaan ini secara sederhana, namun tegas: “Marilah kita letakan persoalan ini secara sangat sederhana: orang membutuhkan Allah, jika tidak ia tidak mempunyai harapan.” Allah, dan secara eksplisit Yesus Kristuslah, dasar dan tumpuan harapan kristiani, juga dasar dan tumpuan harapan keselamatan bagi seluruh umat manusia dan dunia. Tema seluruh kunjungan pastoral Paus Benedict di Amerika Serikat minggu lalu adalah “Christ, Our Hope.” Tema ini cukup provokatif atau profetik mengingat sebagian masyarakat Amerika yang sekular atau sebagian orang beragama merasa skeptis akan akan hidup dan masa depan bumi kita dan ketika para scientist mengklaim ‘iman’ akan teknologi sebagai ‘penyelamat dunia’ dari ancaman global warming. Paus Benedict dalam Spe Salvi menegaskan keyakinannya bahwa Yesus Kristus adalah harapan satu-satunya bagi umat manusia dan dunia.


2. Jalan dan Praxis (Sekolah) Pengharapan

Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana kita menghyati hidup dalam perspektif pengharapan kristiani serta menumbuhkannya? Ensiklik Spe Salvi menawarkan 3 jalan di mana kita dapat „belajar“ (sekolah) mengalami dan menumbuhkan spiritualitas hidup dalam perspektif pengharapan ini, yaitu: doa, aksi (keterlibatan/komitmen) dan penderitaan.

a. Doa – sebuah sekolah pengharapan

Konteks atau setting (sikon) di mana kita belajar berharap ialah berdoa. Dapat kita katakan, doa adalah sebuah sekolah pengharapan. „Seandainya tidak seorang pun mendengarkan saya, Allah masih mendengarkan saya. Ketika saya tidak dapat berbicara dengan siapa pun, saya selalu dapat bercakap-cakap dengan Allah. Kalaupun tidak ada orang lagi yang membantu saya untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan yang melampaui kemampuan manusiawi untuk berharap, Allah dapat menolong aku. Ketika saya terbenam dalam kesendirian yang sempurna....; jika saya berdoa maka saya tidak pernah sendirian“ (SS 32). Pengalaman Nguyen Kardinal Van Thuan berada di penjara komunis Vietnam selama 13 tahun membuktikan kekuatan doa yang mampu menumbuhkan harapan dalam situasi-situasi batas yang tampaknya tiada harapan. Kardinal Nguyen masih dapat mendengarkan dan berbicara kepada Allah dan hal ini menumbuhkan harapan baginya yang memampukan dia, setelah keluar dari penjara, memberi kesaksian tentang pengharapan kepada dunia; suatu harapan yang lebih besar yang tidak terkalahkan oleh kekelaman malam-malam yang sepi di penjara komunis selama bertahun-tahun.

Mengacu pada homili St. Agustinus tentang surat pertama rasul Yohanes, Paus Benedict memperlihatkan hubungan yang begitu indah antar doa dan harapan. Bagi Agustinus, doa adalah sebuah latihan (exercise) menumbuhkan keinginan atau kerinduan. Manusia diciptakan untuk sebuah keagungan atau kebesaran – bagi Allah sendiri. Ia diciptakan untuk dipenuhi oleh Allah. Namun hatinya terlampau kecil bagi kebesaran itu yang telah ditentukan baginya. Ia harus dirombak, diperbesar. Dengan menganugerahkan rahmatNya, Allah meneguhkan keinginan kita; melalui keinginan itu Ia memperbesar jiwa kita dan dengan memperbesarnya Ia meningkatkan kapasitas kita untuk menerimanya.

Paus mengingatkan bahwa berdoa tidak menempatkan diri kita keluar dari sejarah atau pergumulan hidup sehari-hari dan menarik diri kepada urusan (bisnis) pribadi atau kesenangan privat. Ketika kita berdoa secara benar, kita akan mengalami proses permurnian (purification) yang membuka diri kita kepada Allah dan dengan demikian juga membuka diri kepada sesama manusia.

Untuk mengembangkan proses pemurnian itu, perlunya kita berdoa baik secara pribadi maupun menggunakan doa-doa umum gereja (doa liturgis). Pada satu sisi, doa merupakan suatu hubungan yang sangat personal dan intim dengan Allah, Allah yang hidup. Pada sisi yang lain, doa itu harus dituntun dan didisermen oleh doa-doa utama gereja, para orang kudus, doa liturgis. Sharing pengalaman Kardinal Ngunyen selama tahun-tahun di penjara menunjukan bahwa ketika ia tidak mampu lagi berdoa secara pribadi, ia hanya mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Itu memberikan kekuatan baginya untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun di penjara serta menumbuhkan harapan hidup akan masa depan.

Berdoa, demikian Spe Salvi, pada akhirnya melibatkan dimensi personal (pribadi) dan publik. Kita dapat berbicara kepada Allah dan sebaliknya Allah berbicara kepada kita. Dengan cara demikian, kita melakukan proses permunian yang membuka diri kita kepada Allah dan kita dipersiapkan untuk menjadi pelayan (ministers) harapan bagi sesama. Kita dimampukan untuk membawa harapan yang besar, menjadi pelayan pengharapan bagi yang lain. Harapan kristiani selalu merupakan harapan bagi yang lain. Itu adalah sebuah harapan yang aktif, yang terlibat (an active hope), di mana kita berjuang mencegah hal-hal yang mengarah kepada tujuan atau akhir yang buruk atau jahat. Harapan kristiani itu adalah harapan yang aktif dalam arti bahwa kita mengupayakan agar dunia membuka diri bagi Allah. Hanya dengan cara itu harapan kristiani sungguh menjadi harapan umat manusia.


b. Aksi – keterlibatan

Semua usaha manusia yang serius dan benar merupakan harapan dalam aksi. Harapan dalam aksi atau keterlibatan/komitment adalah usaha-usaha untuk mewujudnyatakan harapan-harapan kecil atau besar, menyelesaikan pelbagai tugas dan tanggungjwab, yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kita, atau kita bekerja untuk membuat dunia ini semakin berwajah manusiawi dan bercahaya yang menawarkan harapan bagi masa depan.

Harapan itu harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar atau perspektif yang lebih luas. Hidup kita akan segera kehilangan harapan jika kita tidak dapat mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar mencapai sesuatu secara efektif pada periode waktu tertentu atau tidak lebih daripada yang dijanjikan oleh para penguasa politik dan ekonomi. „Kiranya penting untuk diketahui,“ demikian Paus Benedict, „bahwa saya dapat selalu berharap, sekalipun dalam hidupku atau dalam peridoe sejarah di mana saya hidup tampaknya tidak ada yang bisa diharapkan. Hanya keyakinan yang besar akan harapan bahwa hidupku dan sejarah pada umumnya, yang walupun tampaknya gagal semuanya, diteguhkan oleh kekuatan CINTA yang tidak berkesudahan.“ Harapan semacam ini akan memberi arti dan nilai bagi kita serta keberanian untuk bertindak, bertahan dan bertekun dalam segala kesulitan.

Iman dan harapan merupakan sumber inspirasi dan basis dari usaha-usaha kita mempersiapkan datangnya Kerajaan Allah di atas bumi ini. Tentu saja kita tidak dapat membangun Kerajaan Allah di dunia dengan usaha-usaha kita sendiri. Kerajaan Allah merupakan sebuah anugerah yang besar dan indah dan sekaligus menjawabi harapan kita. Kita tidak dapat menggapai langit dengan tangan kita sendiri atau menuai surga dengan upaya kita sendiri. Surga adalah sebuah pemberian, suatu hadiah dari Allah.

Akan tetapi, kalau kita sunguh sadar bahwa surga yang tinggi tidak bisa dipetik, juga benar bahwa kita tidak bisa bersikap dan berperilaku masa bodoh terhadap Allah dan karena itu juga tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap panggilan sejarah. Kita dapat membuka diri kita dan dunia dan membiarkan Allah masuk di dalamnya. Kita dapat membuka diri kita kepada Kebenaran, Cinta, dan Kebaikan. Inilah yang dilakukan oleh para orang kudus, yang memberi banyak kontribusi bagi keselamatan dunia. Kita dapat membebaskan hidup kita dan dunia dari berbagai kerancuan dan kontaminasi yang dapat merusak masa kini dan masa depan. Kita dapat mengeksplorasi sumber-sumber alam, dan menjaganya agar tidak rusak. Dengan cara ini kita dapat mengelola alam secara benar, yang diberikan sebagai anugerah bagi kita, menurut hukum-hukum intrinsik dan tujuannya yang sebenarnya. Dengan demikian, aksi-aksi atau keterlibatan kita, pada satu pihak, memberikan harapan bagi kita dan orang lain; pada pihak lain, harapan yang besar selalu bertumpu pada janji-janji Ilahi yang memberi kita keberanian dan mengarahkan aksi kita baik pada waktu yang baik maupun yang sulit.

c. Rela menderita

Seperti aksi, menderita adalah bagian dari eksistensi manusia. Penderitaan sebagian berasal dari kefanaan kita, dan sebagian disebabkan tumpukan dosa, yang terakumulasi sepanjang sejarah dan terus bertumbuh sampai hari ini. Ada upaya untuk mengurangi, membatasi dan memerangi penderitaan itu, tetapi kita tidak dapat melenyapkannya. Paus Benedict menegaskan bahwa kita dapat disembuhkan bukan dengan menghindari atau melarikan diri dari penderitaan, melainkan dengan kemampuan dan kerelaan menerima penderitaan, memamatangkan diri melalui penderitaan itu dan menemukan maknanya dengan menyatukan diri dengan Kristus yang menderita dengan cinta.

Menurut Spe Salvi, kemanusiaan kita secara esensial ditentukan dan diukur oleh hubungan antara penderitaan dan penderita. Ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Masyarakat yang tidak mampu menerima penderitaan dan tidak sanggup membantu membagikan penderitaan dan memberi kesaksian tentang penderitaan melalui belaskasih (compasio) adalah masyarakat yang kejam dan kurang manusiawi. Masyarakat tidak dapat menerima anggota-anggotanya yang menderita dan mendukung mereka jika individu-individu tidak sanggup menerima penderitaan mereka sendiri. Seorang Individu tidak dapat menerima penderitaan orang lain jika ia secara pribadi tidak mampu menemukan makna penderitaan itu; dalam konteks ini, penederitaan adalah suatu lorong (jalan) pemurnian dan pertumbuhan menuju pematangan diri, sebuah jalan pengharapan. Sesungguhnya, menerima orang lain yang menderita berarti saya menerima penderitaannya dengan suatu cara yang membuat penderitaannya itu menjadi (milik) penderitaan saya. Dengan demikian, penderitaan itu menjadi penderitaan yang dibagikan, disharekan dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain diresapi oleh cahaya cinta. Kata Latin “con-solatio” mengungkapkan secara indah penderitaan yang berbagi ini. Consolatio berarti berada bersama yang lain dalam kesepian (solitude), sehingga kesepian itu menjadi redup dan hilang.

Selanjutnya, kemampuan menerima penderitaan demi kebaikan, kebenaran dan keadilan merupakan kriteria yang esensial bagi kemanusiaan. Sebab, seandainya kesejahteraan dan rasa aman pribadi menjadi lebih penting daripada kebenaran dan keadilan, maka orang akan mudah jatuh dalam godaan akan kekuasaan yang sewenang-wenang kekerasan dan dan kejahatan. Kebenaran dan keadilan mesti berdiri di atas zona kenyamanan pribadi, jika tidak, hidup kita menjadi sebuah kepalsuan. Unsur fundamental dari kemanusiaan kita ialah rela menderita demi kebenaran dan keadilan; menerima penderitaan secara sukarela dan dengan cinta.

Pertanyaannya ialah sanggupkah kita menderita demi kebenaran dan keadilan dengan rela dan cinta? Iman kristiani menunjukkan bahwa kebenaran, keadilan dan cinta bukan sekadar sesuatu yang ideal, tetapi sungguh nyata, sebuah realita kehidupan. Itu dinyatakan oleh Allah yang rela menderita untuk kita dan bersama kita. Manusia begitu berharga di mata Allah sehingga Ia sendiri menjadi manusia supaya menderita bersama manusia atas suatu cara yang amat real – mendarah-daging – sebagaimana dinyatakan dalam passio Yesus. Di sini, dalam seluruh penderitaan umat manusia, kita dipersatukan oleh Yesus yang mengalami dan menanggung penderitaan bersama kita; di sini, consolatio dari cinta Allah yang berbelaskasih menjadi nyata. Dengan demikian cahaya pengharapan merekah.

Jadi doa, aksi dan penderitaan – ketiga-tiganya - adalah jalan dan cara bagaimana kita menghayati dan menumbuhkan pengharapan dalam hidup kita. Sekarang, kita mau melihat implikasi-implikasi parktis dari harapan kristiani bagi hidup kerasulan dan karya misi kita dewasa ini.


3. Implikasi bagi Keterlibatan misioner kita dewasa ini

Mari kita sejenak mengamati situasi sekitar kita, di tanah air kita dan situasi global untuk melihat relevansi dan signifikansi dari perspektif pengharapan ini dalam kaitan dengan tugas perutusan kita dewasa ini. Dalam konteks global, kita sedang berhadapan dengan banyak issue-issue besar yang mendesak di dunia: pemanasan global, AIDS-HIV, kelaparan, kemiskinan, pengrusakan hutan dan lingkungan hidup, bencana-bencana alam beruntun, perdagangan senjata, perdagangan anak dan perempuan, eksploitasi tenaga kerja asing, migrasi dari desa ke kota atau dari negara-negara berkembang (selatan) ke negara-negara maju (utara) yang membawa dampak yang serius dan berbagai konsekuensinya.

Persoalan-persoalan global ini menjadi nyata dan actual di negara kita. Setiap hari kita membaca koran atau menonton di TV. Kita mendapatkan kabar buruk, misalnya, kemiskinan dan pengangguran yang meraja lela, anak-anak yang mengalami gizi buruk, busung lapar, putus sekolah, sakit-penyakit; ibu yang bunuh anak-anaknya, bencana alam yang bertubi-tubi – banjir, tanah longsor, gempa bumi, Lumpur Lapindo; kelangkaan bahan pangan, kenaikan harga sembako; pengrusakan hutan, rusaknya jalan raya dan infrastruktur lainnya, maraknya praktek-praktek korupsi. Kita dapat terus menambahkan litani keprihatinan ini.

Melihat situasi keprihatinan tersebut, muncul pertanyaan: apa yang masih dapat kita harapkan di sekitar kita dan di dunia ini? Apakah hidup kita sebagai religius-biarawan dapat menawarkan sesuatu yang bisa menjadi tanda-tanda ‘harapan” bagi orang-orang dan dunia sekitar kita? Pesan apa yang kita bawa atau tawarkan bagi orang-orang yang tampaknya ‘kehilangan harapan’ akan hidup dan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan ini mengarahkan kita pada 3 implikasi praktis dari harapan kristiani bagi hidup kerasulan dan karya misi kita dewasa ini.

Pertama, mengenai respons and keterlibatan misioner kita. Seperti yang ditegaskan oleh Spe Salvi, bahwa pada satu sisi kita tidak boleh bersikap masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan mendesak sekitar kita dan di dunia ini. Tetapi, pada isi lain, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak dapat menggapai langit dengan tangan kita sendiri atau menuai surga dengan usaha-usaha kita sendiri. Dalam kaitan dengan ini, Paus Benedict memperkenalkan istilah “harapan-harapan kecil” dan “harapan-harapan besar” yang dapat memotivasi kita dalam menanggapi situasi dan kebutuhan-keubuthan mendesak dewasa ini. “Harapan kecil” mengacu pada usaha-usaha atau tanggapan kita untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak sesama umat manusia dan dunia dewasa ini; membebaskan manusia, ciptaan dan dunia dari hal-hal merusak, menindas dan membelenggu martabat manusia dan wajah alam. Kita membuka ruang dalam diri kita, orang lain dan dunia agar Allah masuk dan KerajaanNya meraja di atas bumi ini. Tanggapan dan keterlibatan kita bisa menjadi tanda-tanda harapan – bagaikan setitik air bagi sebatang telaga yang merana di musim kemarau; tanggapan itu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga secara komunal dan institusional. Dengan kata lain, hati baik dan maksud baik saja tidak cukup; Perlu ada perencanaan dan strategi, kolaborasi dan management yang tepat agar kita dapat memberi respons secara efektif terhadap persoalan-persoalan tersebut dan dengan demikian mampu memenuhi harapan bagi yang paling membutuhkan. Kita perlu menggalang semua kekuatan, kapasitas dan resources yang kita miliki baik secara pribadi, komunal maupun institusional, untuk membawa dan mewujudnyatakan harapan kristiani itu di sini dan kini.

Pada pihak lain, “harapan besar” selalu bertumpu pada janji-janji Allah yang memberi keberanian dan arah dari semua aksi, perjuangan dan keterlibatan kita di dunia. Orang-orang kudus, seperti yang akan kita lihat pada St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz, atau Ibu Teresa dari Calcuta, mempunyai harapan-harapan yang dapat mereka tawarkan bagi orang-orang sezamannya melalui aksi dan keterlibatan mereka, namun mereka tetap bertumpu pada ‘harapan besar’ akan penyelenggaraan dan janji-janji Ilahi untuk memenuhi dan menyelesaikannya. Kata-kata ibu Teresa yang terkenal mengenai pelayanan bagi orang-orang yang paling miskin di antara orang-orang miskin yang hampir meninggal: “Aku dipanggil bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.” Muder Teresa adalah orang yang memiliki harapan kristiani, dan atas dasar itu ia melakukan tugasnya dengan setia, entah menurut pandangan manusiawi pekerjaan itu gagal atau sukses, entah pada waktu baik atau pada masa-masa yang paling sulit.

Dalam kaitan dengan ini, kata-kata Uskup Oscar Romero patut kita kutip di sini:

“We accomplish in our lifetime only a tiny fraction of the magnificent enterprise that is the Lord’s work. We plant the seed that one day will grow. We plant foundations that need further development. We may never see the result…. We are the workers, not the master builders. We are the ministers, not the messiahs. We are the prophets of a future that is not our own.”
Kedua, mengenai inti harapan kristiani. Inti atau esensi pengharapan kristiani yang kita tawarkan bagi manusia dan dunia pada zaman ini bukan diri kita atau pekerjaan kita, bukan teknologi dan kemajuan modern, bukan juga ideologi-ideologi sezaman yang populis. Inti harapan kristiani ialah Allah sendiri – Alah yang berwajah manusiawi, yang hadir dan terlibat dalam sejarah umat manusia; yang menderita untuk dan bersama umat manusia. Dalam pencarian intelektual dan spiritual dengan penuh iman dan cinta, Paus Benedict meyakinkan kita bahwa Yesus Kristus adalah harapan kita, harapan seluruh umat manusia, harapan dunia. “Jesus Christ, our hope!”

Karena itu menjadi saksi dan pelayan harapan kristiani dewasa ini berarti mewartakan Kristus yang hidup atau memperkenal jalan-jalanNya. Kristus yang ditawarkan kepada dunia bukan terutama sebagai doktrin teologis, bukan ajaran filosofis yang abstrak, bukan sebagai sebuah ideologi alternatif melainkan sebagai seorang pribadi – pribadi yang hidup dan mencinta. Pengalaman para murid dan Jemaat-jemaat Kristen Awal seperti dalam kisah-kisah kebangkitan pada Perjanjian Baru dapat memberi contoh bagi kita. Petrus, Yohanes, Maria Magdalena, murid-murid Emaus, kesebelas rasul, Paulus, Stefanus, Philipus, para diakon adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus; mereka adalah saksi-saksi dan pelayan-pelayan pengharapan. Mereka memiliki sukacita, antusiasme, dan keberanian yang luar biasa untuk mewartakan Kristus yang hidup karena mereka telah mengalami perjumpaan secara pribadi dan komunal dengan Tuhan yang bangkit. Sekedar menyebut beberapa settings atau moment perjumpaan para murid dengan Kristus yang hidup: pada waktu memecahkan roti (ekaristi), dalam perjalanan menuju ke Emaus (sharing pengalaman), di tepi pantai danau Galilea (waktu menangkap ikan), pada saat pertemuan komunitas (rekoleksi para rasul) dan ketika menerima mandat perutusan dari Yesus di bukit Zaitun.

Dalam khotbah pada malam Paskah, P. Tony Pernia mengatakan bahwa kita bisa berjumpa dengan Kristus yang hidup secara pribadi justru pada saat kita menjalankan tugas perutusan, ketika kita dalam perjalanan mewartakan kabar gembira, ketika kita terlibat dalam tugas misioner kita seperti yang dialami para murid dan beberapa perempuan pada hari minggu Paskah. Komitmen missioner adalah settings yang memungkinkan kita mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan yang bangkit; Tuhan membiarkan diriNya untuk dijumpai di jalan, pada jalan misi; ketika kita berkomunikasi, berdialog dan terlibat dengan dengan orang-orang lain dalam tugas kerasulan dan pelayanan misioner kita.

Kapitel Jenderal SVD tahun 2000 telah menentukan „dialog profetik“ dengan keempat mata khas dari perutusan kita dewasa: kitab suci, komunikasi, animasi misi dan JPIC. Kapitel juga telah mengidentifikasi empat partner kita dalam dialog di jalan misi tersebut. Ketika kita berkomitmen melakukan „dialog profetik“ ini dan terlibat secara intens dengan rekan-rekan dialog kita di arena perutusan pada masa kini, di sana kita menemukan peluang untuk mengalami perjumpaan secara personal dengan Tuhan yang bangkit yang senantiasi berjalan bersama kita dan menyapa kita di jalan perutusan. Seperti pengalaman para murid, perjumpaan dengan Kristus yang hidup selalu membawa kegembiraan, pemahaman-pemahaman dan tantangan baru, semangat dan antusiasme, serta keberanian untuk menjadi saksi dan pelayan pengharapan „paskah“ bagi sesama dan dunia.

Ketiga, jalan pengharapan adalah jalan misi. Doa, aksi dan penderitaan adalah jalan pengharapan sebagaimana dianjurkan oleh ensiklik Spe Salvi. Itu juga adalah jalan untuk misi kita. Kita baik sebagai pribadi maupun sebagai korps (tarekat) dan gereja secara keseluruhan dapat menjadi tanda dan pelayan pengharapan kristiani melalui doa, keterlibatan dan penderitaan. Validitas kesaksian misioner kita dan pada akhirnya legacy dari harapan kristiani yang kita bawa bagi sesama dan dunia ditentukan dan diukur oleh ketiga elemen tersebut. Kesaksian hidup orang-orang kudus sepanjang sejarah, seperti St. Arnoldus, Josef Freinademetz dan Ibu Teresa dari Calcuta, menunjukan bahwa doa, keterlibatan missioner dan penderitaan sebagai konsekuensi dari komitmen iman dan keterlibatan dalam misi dapat menumbuhkan dan menyuburkan hidup kerasulan. Gereja menampakan vitalitasnya dan meningkatkan kapasitasnya untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi dunia, sakramen yang membawa berkat dan harapan bagi umat manusia melalui doa, keterlibatan yang nyata dan kerelaannya untuk menderita demi Cinta, Kebaikan, Kebenaran dan Keadilan.

4. Pelayan-pelayan Pengharapan

Ketika kita mengenang dan merayakan seabad kematian St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz, bagaimana kita melihat dan melukiskan kehidupan dua orang kudus kita ini dalam kacamata harapan kristiani? Mari kita melihat beberapa aspek dari sosok kepribadian dan hidup kerasulan mereka yang kiranya relevan dengan tema permenungan kita.

P. Peter Mchugh, pada sebuah refleksi dalam rangka perayaaan Tahun Centenial, mengatakan: “Arnold Janssen: the wrong person, at the wrong time, in the wrong place!” Ia adalah “the wrong person” karena tidak memiliki kualitas kepribadian yang normal yang diperlukan untuk mendirikan sebuah rumah misi bagi tarekat-tarekat misi internasional. Seorang teman kelasnya berkomentar: “dari teman-teman sekelas kami, Arnold Janssen adalah orang terakhir yang boleh Anda pertimbangkan untuk tugas itu.” Ia memulai rencananya itu pada “waktu yang salah” karena pada tahun 1870-an ada kesulitan besar bagi gereja-gereja di Jerman karena situasi politik Kulturkampf. Banyak pemimpin gereja dipenjarakan, paroki-paroki tanpa imam dan tarekat-tarekat religius dilarang oleh pemerintah Jerman. Ia mendirikan rumah misi itu pada “tempat yang salah” karena situasi politik pada masa kulturkampf, ia harus melintasi batas negara dan mendirikan rumah misi untuk berbahasa Jerman di luar tanah airnya sendiri.

Walaupun demikian, Arnold Janssen – seperti metafor dari Dotowdesky - adalah seorang yang mampu melihat seberkas cahaya pada sebuah ujung terowong yang gelap. Sekalipun situasi gereja dan sosial politik pada zaman Kulturkampf membuat banyak orang skpetis, dan tidak ada tanda-tanda yang menggembirakan, Arnoldus Janssen dengan visi iman yang teguh dan jauh ke depan, ia berani memulai suatu terobosan besar dengan langkah awal yang amat sederhana. Ia mendirikan rumah Misi Steyl hanya dengan mengandalkan penyelenggaraan Ilahi melalui doa yang tekun dan komitmen yang tinggi. Karena komitmen misionernya itu tidak jarang ia mengalami penderitaan lahir dan bathin.

Sekarang, kita beralih kepada St. Josef Freinademetz. Saya terkesan dengan sebuah gambar tentang Josef Freinademetz. Gambar itu melukiskan Shenfu Josef duduk dan bercakap-cakap dengan seorang anak kecil China sambil menunjukkan tangannya ke atas, ke langit. Barangkali ia sedang mengajar agama atau katekese tentang surga atau Allah kepada bocah itu. Gambar tersebut merupakan artifak, suatu illustrasi tentang hidup dan komitmen misioner seorang Josef Freinademetz. Kualitas kepribadian dan komitmennya untuk misi menggarisbawahi hidup yang dilandasi dan dimotivasi oleh iman dan pengharapan kristiani. Dapat dikatakan, kesalehan pribadi, keutamaan-keutamaan yang dihanyati Josef Freinademetz serta keterlibatan yang total untuk misi merupakan „harapan dalam aksi.“ Mari kita perhatikan beberapa hal berikut untuk menjelaskan hal tersebut:

Ø Ia beralih dari imam praja bergabung dengan Arnold Janssen untuk menjadi seorang misionaris; Ia meninggalkan tanah Tyrol yang indah dan berangkat ke tanah asing Tiongkok
Ø Ia menanggalkan pakaian dan kebiasaan sebagai orang Eropa dan mengenakan pakaian orang China dan belajar mengenal dan mencintai bahasa, makanan, adat-istiadat orang-orang Asia.
Ø Pada tahun 1900, Arnoldus Janssen mengundang Freinademetz ke Eropa untuk merayakan 25 tahun rumah misi di Steyl. Ia dengan rendah hati menolak undangan itu karena ia justru memilih untuk tetap tinggal di tanah misi yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan besar, dianiaya oleh kaum Boxer China yang anti orang-orang barat dan misionaris Eropa.
Ø Berdoa berjam-jam bahkan sampai larut malam di depan Sakramen mahakudus, juga ketika kembali dari perjalanan asistensi pastoral yang amat meletihkan.
Ø Setia dan tekun menjalankan katekese umat, melakukan kunjungan pastoral umat pda stasi-stasi yang jauh dan sulit, mengajarkan dan mendidik katekis denan sabar, menerima tugas dan tanggungjawab kepemimpinan baik dalam tarekat maupun gereja, setia bersama umat dalam situasi yang sulit dan penderitaan yang mereka alami.
Ø Sabar menanggung penderitaan ketika ia dibenci, dicurigai, dianiaya, jatuh sakit typhus yang akhirnya merenggut nyawanya.

Josef Freinadmetz melakukan transformasi diri atau peralihan (passing-over) sebagai “perjalanan pengharapan” tidak hanya secara fisik-geografis dan sosio-kultural (the outer journey of hope), tetapi juga secara spiritual (the inner journey of hope); Pada lapisan paling bawah dari proses transformasi ini ialah keyakinan iman dan harapan yang teguh untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang-orang tak beriman yang menjadi mainstream teologi pada waktu itu.

Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz memiliki komtimen untuk misi dengan iman dan harapan yang teguh dan dengan segenap hati, jiwa, spirit, dan tubuh yang terkadang rentan dan fragil. Mereka adalah saksi dan pelayan pengharapan bagi orang-orang sezamannya, bahkan melampaui generasinya. Mereka adalah orang-orang yang mampu „melihat“ seberkas cahaya lampu dalam terowong yang gelap; ibarat burung-burung yang bernyanyi di pagi hari ketika bumi terselimut oleh kepekatan malam.

Memiliki harapan kristiani berarti memiliki hidup baru yang dibentuk, diubah dan dituntun oleh pengharapan itu. Para rasul, orang-orang kudus, St. Arnoldus Janssen dan St. Josef Freinademetz tidak hanya memiliki harapan untuk disimpan bagi mereka sendiri, tetapi harapan mereka itu dishare dan dibagi kepada orang lain dan dunia. Dengan cara itu, mereka menjadi saksi dan pelayan pengharapan.

Dengan cara yang sama, kita juga dipanggil menjadi saksi-saksi dan pelayan-pelayan pengharapan ketika umat manusia dan dunia sekitar kita membutuhkan harapan itu, suatu kebutuhan yang real dan urgent. Karena, seperti kata St. Paulus, manusia dan dunia „diselamatkan dalam pengharapan” – Spe salvi facti sumus (Rom 8:24).





Doa Pembukaan Rekoleksi


Allah Bapa,
Engkau mencipta setiap orang menurut citramu
dan menempatkan tiap orang di bumi ini dengan suatu tujuan

Tuhan Jesus Kristus,
Engkau rela mati bagi kami
dan memanggil dengan nama kami masing-masing
untuk menyelesaikan tugas penebusanmu.

Allah Roh Kudus,
Engkau membantu kami untuk melaksanakan pekerjaan,
untuk apa kami dicipta dan dipanggil.

Dalam kehadiranMu yang kudus dan dalam namaMu:
Bapa, Putera dan Roh Kdus,
kami memulai rekoleksi komunitas kami ini.

Semoga semua pikiran, pemahaman, dan inspirasi
dalam permenungan ini berasal dariMu
dan dipersembahkan untuk kemuliaan namaMu.

Amin.







Rekoleksi Komunitas SOVERDI

Acara Adorasi

Lagu Pembukaan – pentakhtaan Sakramen mahakudus
Doa Salve: Paskah II .... diselingi dengan lagu-lagu dan hening....musik instrument
Pujian Malam: tema pengharapan
Pemberkatan sakramen
Lagu penutup
[1] Rekoleksi Komunitas SOVERDI dalam rangka Perayaan Tahun Centenial, pada hari Senin, 21 April 2008