Kotbah Misa Harian, Senin 5 nopember 2012




PAMRIH
DALAM  TEORI PERTUKARAN SOSIAL
 (Flp 2:1-4; Luk 14:12-14)
Kotbah Misa Harian, Senin 5 Nopember 2012
Di Soverdi Surabaya
(Rm. Benediktus Bere Mali, SVD)

Dalam kebiasaan di tempat kelahiranku, ada istilah AKEL GO’ON dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan terutama di dalam dunia adat Istiadat.  Akel Go,on berarti membantu atau menyumbang kepada sesama untuk pendidikan, untuk pernikahan, untuk kenduri, untuk pesta komuni pertama, dengan harapan ketika ada acara dari si penyumbang, sesama yang telah dibantu itu membantu atau menyumbang kembali kepadanya. Dengan kata lain, paradigma “akel go’ on”  sama dengan paradigma “give and take”  atau memberi untuk menerima atau membantu untuk mendapat balasan secara material, dalam membantu sesama.

Bantuan berdasarkan paradigma “akel go’on” ini mendatangkan dua hal. Secara positif sesama menerima bantuan dalam acara-acara yang diselenggarakannya. Tetapi secara negatif, keluarga yang sudah dibantu, kantongnya tidak boleh kosong, untuk kembali membantu semua yang telah membantunya, ketika mereka itu melakukan acara pesta adat dan pesta gereja di dalam keluarganya. Ketika kantongnya kosong, tepat sesama itu melakukan pesta adat atau pesta sekolah, maka harus meminjam uang untuk membantunya. Jumlah uang untuk membantu tergantung buku catatan bantuan yang telah diterimanya. Jika seseorang membantu sesama lima ratus ribuh dan itu dicatat dalam buku catatan pemberi sumbangan dan buku catatan penerima sumbangan, maka besarnya itu pula yang akan dikembalikan dalam membantu sesama yang mengadakan pesta adat atau pesta sekolah. Biasanya dan sudah menjadi umum, setiap keluarga memiliki buku catatan pribadi tentang menyumbang kepada siapa dan juga buku catatan menerima sumbangan. Buku ini dikenal dalam bahasa daerah, Buku “Akel Go’on”.               


Pandangan di atas sangat manusiawi. Setiap orang yang menciptakan  “akel go’on” dalam hidupnya pasti akan mendapat banyak balasan, imbalannya. Setiap orang yang banyak membantu akan mendapat banyak  bantuan juga.

Pandangan yang terkesan sangat materialistik ini dilihat secara rohani. Dasar pandangan spiritual adalah yang disampaikan Yesus di dalam Injil hari ini. Yesus menekankan agar bantuan kepada sesama harus didasarkan pada ketulusan dan tanpa pamrih.  Dengan demikian, bantuan itu tidak melahirkan beban bagi diri sendiri. Kalau membantu secara pamrih, maka ketika orang yang dibantu itu tidak membalas kembali bantuan, maka akan menimbulkan tekanan psikologis bagi diri sendiri.
Membantu tanpa pamrih itu memerdekakan diri. Bantuan seperti itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus pada hari ini. Mengikuti kehendak Yesus berarti mengutamakan Kerajaan Allah. Utamakanlah Kerajaan Allah maka yang lain akan ditambahkan. Tugas kita adalah mengutamakan kehendak Allah, soal balasan adalah urusan Tuhan.

Jadi : akel go’on itu adalah balasan secara material dan secara langsung. Bantuan tanpa pamrih itu balasan spiritual yang wilayahnya dan urusan Tuhan yang diimani. Atau dalam teori pertukaran sosial : Akel Go’On memberi untuk menerima secara material, sedangkan dalam bidang keagamaan, memberi untuk menerima harta rohani. Keduanya ada Pamrihnya. Yang satu pamrih secara material. Kedua pamrihnya secara rohani. Maka sebetulnya tidak ada yang namanya tanpa pamrih dalam hidup ini. Dari segi sosiologi.


Kotbah Misa Hari Minggu 4 Nopember 2012



KASIH  ITU
HUKUM  PERTAMA DAN UTAMA

Ul 6:2-6; Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34
Kotbah Misa Hari Minggu,
Minggu 4 Nopember 2012
Di Kapela St. Maria Ursulin
Jln. Darmo Surabaya

(Rm. Benediktus Bere Mali, SVD

Pada hari ini Gereja melalui Kalender Liturgi dan Perayaan Ekaristi mengingatkan kita bahwa di antara begitu banyak tawaran hukum, di antara begitu banyak aturan yang ditawarkan, di antara begitu variasinya iklan, di antara begitu banyak adat istiadat dan budaya yang ditawarkan kepada kita dalam dunia multicultural yang menyertai perjalanan kehidupan kita, hanya satu yang utama dan terutama yaitu Hukum Kasih.


Hukum Kasih itu diungkapkan di dalam tanda tambah Salib Yesus. Mengapa Tambah bukan kurang atau bagi atau kali Salib Yesus itu? Ada dua hal perlu kita dalami dalam renungan hari Minggu ini. Salib Itu Tambah. Yesus menambahkan pada diri kita yang utama dan terutama yaitu KASIH. Kalau kita sudah mempunyai yang lain-lainnya tetapi tanpa Kasih itu berarti kita masih mengalami kekurangan yang pertama dan yang utama. Kalau kita sudah doa, devosi, karunia Roh, berbahasa Roh, donatur terbesar, tetapi belum mempunyai kasih itu berarti kita masih mengalami kekurangan yang  pertama dan utama yaitu KASIH. Kalau kita kekurangan Kasih maka dengan ditambahkan KASIH yang nyata yang kita lihat pada TANDA TAMBAH YESUS DI SALIB. 

Orang yang memiliki Kasih adalah orang yang mengimani Yesus yang menderita, wafat di Salib dan kemudian bangkit.  Apa artinya SALIB puncak kasih Tuhan kepada kita dan model Kasih kita kepada Tuhan dan sesama? SALIB berarti Saat Aku Lemah Ingat Bapa (Allah). Dengan mengingat Allah dalam keadaan yang lemah, berupa godaan dari dalam dan luar diri, seluruh tenaga terfokus pada Bapa di Surga sumber kekuatan dan keselamatan. Pada saat manusia mengandalkan Tuhan di situ Kasih menjadi nyata di dalam hidupnya. 


MENGASIHI adalah intisari bacaan – bacaan suci pada hari ini. Mengasihi adalah kata kerja aktif, dibentuk dari kata dasar KASIH.  Saya saat menyiapkan renungan ini, mencoba membayangkan KASIH itu seperti apa dan coba saya mengatakan bahwa KASIH itu lebih dapat dimengerti seperti ini. Saya mencoba mengertinya dengan memberikan singkatan dari kata KASIH yang dibentuk dari lima huruf, K, A, S, I, H. Huruf K disingkat Kehendak. Huruf A disingkat Allah. Huruf  S disingkat Selalu. Huruf I disingkat Isi. Huruf H disingkat Hatiku,  Hatimu, Hati Kita, Hati Semua Orang.   Dengan demikian kata KASIH singkatan dari KEHENDAK ALLAH SELALU ISI HATIKU-MU-KITA-SEMUA.  Dengan kata lain, KASIH berarti Kehendak Allah memenuhi diri-ku-mu-kita-semua.


Kalau kita membayangkan Kasih itu seperti makanan yang setiap hari kita makan dan minuman yang setiap hari kita minum maka orang yang dipenuhi oleh kehendak Allah, adalah juga orang yang kenyang akan Kehendak Allah sang penyelamat. Orang yang dipenuhi Allah adalah orang yang memperoleh kekuatan yang penuh dalam melaksanakan segala sesuatu yang menyelamatkan diri dan sesama serta alam semesta.


Perutusan kita adalah perutusan KASIH. Kehendak Allah Selalu Isi Hatiku-mu-kita-semua adalah intisari karya Pelayanan kita. Menjalani tugas dan karya Pelayanan ini, merupakan sebuah perjalanan yang tidak selalu mulus. Tantangan ataupun hambatan selalu dijumpai entah itu datang dari dalam diri sendiri, ataupun datang dari luar diri kita.

Hambatan itu dikenal atau saya sebut dengan kata ANTI. Kata ANTI saya singkat demikian. Aku Nekat Tanpa Ilahi (Allah). Anti radikal adalah aku nekat tanpa Ilahi (Allah) dalam pikiran, kata dan perilaku. ANTI radikal berarti orang sama sekali putus hubungan atau kontak dengan Allah.

Ini menjadi musuh utama dalam pewartaan KASIH. Menghadapi keadaan seperti ini, dalam dunia yang semakin maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kita dapat melembutkan orang yang ANTI Kasih dengan kesaksian hidup. Peran performatif dari seorang pelayan Tuhan menjadi kekuatan utama dalam karya Pelayanan kasih kepada dunia dan sesama. Hal ini berarti seseorang sungguh memiliki KASIH. Kehendak Allah Selalu Isi Hatinya dalam segala tempat dan situasi.


Kita mengalami ANTI dalam Menyebarkan KASIH. Tetapi kita selalu memberi KASIH dengan teladan hidup, kepada mereka yang ANTI sebab itulah membuat KASIH kita semakin SEMPURNA.

Kasih itu pertama dan utama dari yang lain termasuk iman dan harapan. Maka seorang anak yang memiliki Kasih, dia mengutamakan studinya, masa depannya, kuliahnya, jadwal kuliahnya. Seorang ayah memiliki Kasih sebagai yang utama dan pertama, maka dia harus mengutamakan pekerjaannya, keluarganya dari yang lainnya. Seorang ibu yang memiliki Kasih, maka dia mengutamakan kesehatan dan pendidikan anak-anaknya. Seorang imam mengasihi Allah maka dia harus mengutamakan imamatnya daripada yang lain-lainnya.

Kasih artinya KEKUATAN KEHENDAK ALLAH SELALU ISI  (MENGISI) HATI-KU-MU-KITA SEMUA. Di dalam orang yang memiliki KASIH tiada kata ANTI yang berarti Aku Nekat Tanpa Ilahi (Allah).

Kotbah Harian Misa, Kamis 25 oktober 2012



KUALITAS DALAM OTONOMI DAERAH.
(Ef 3:14-21; Luk 12:49-53).
Kotbah hari kamis,  25 Oktober 2012  
di Kapela  Soverdi St. Arnoldus Surabaya.

(Rm. Benediktus Bere Mali, SVD).

Kita mengenal aneka pandangan hidup dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada kesempatan ini ditampilkan prinsip politisi dan prinsip kenabian. Ada prinsip politik yang mengatakan bahwa yang abadi adalah kepentingan. Tetapi prinsip kenabian mengatakan bahwa yang abadi adalah yang benar adalah benar, yang salah adalah salah, dalam takaran firman Allah. Dalam dunia politik, demi kepentingan pribadi, yang salah bisa dibenarkan dan yang benar disalahkan. Kepentingan pribadi yang dimaksud adalah kalau politisinya dari daerah A, maka kepentingan daerah A menempati posisi pertama, dari yang lainnya, walaupun melalui cara-cara yang tidak halal. Dalam dunia politik yang sedang menekankan otonomi daerah ini, soal kualitas personal urutan kesekian, sedangkan yang diutamakan adalah orang seasal, sesuku, sehobi, sabakat, seperasaan, yang memberikan rasa aman dalam kehidupan perpolitikan. Nah di sinilah peluang bagi para politisi untuk menumbuhkan sikap dan perilaku KKN secara aman. Hanya dengan sikap dan prinsip kenabian, tembok sikap dan prilaku KKN digonggong dengan sikap kritis demi sebuah pembaharuan.


Kita memang di satu pihak merasa senang dengan adanya prinsip otonomi daerah yang sedang dikembangkan di tanah air, mulai dari daerah pedesaan sampai perkotaan, karena ada tempat istimewa bagi masyarakat setempat untuk menempati posisi-posisi sentral di dalam kepemimpinan. Hanya satu hal yang tidak disadari adalah dalam penerapan otonomi daerah melupakan kualitas personalia di dalam menempati posisi-posisi kunci untuk kesejahteraan bersama.

Salah satu contoh nyata yang dijalankan untuk membangkitkan kesadaran akan pengutamaan kualitas personalia di atas otonomi daerah, adalah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode lima tahun ke depan, dari luar Jakarta. Contoh ini sekaligus sebagai satu paradigma yang mengutamakan kualitas personalia di dalam kepemimpinan, bukan berdasarkan sesuku, seagama, sedaerah, sekota. Contoh ini akan cepat atau lambat, akan bergerak mulai dari pusat Jakarta menuju seluruh pelosok Indonesia dari sabang sampai merauke, untuk mengutamakan kualitas personalia dalam menduduki posisi kunci bagi kemajuan rakyat di dalam segala segi kehidupan.

Penerapan prinsip mengutamakan kualitas personalia dalam menempati jabatan jabatan kunci, pasti mendapat reaksi yang beragam, ada yang mengafirmasi, tetapi ada saja yang menegasi. Mereka yang sudah mapan hidup dengan otonomi daerah, suku, adat, agama, tanpa memperhatikan kualitas, pasti menegasi yang menekankan kualitas personalia dalam kepemimpinan. Sebaliknya mereka yang mengutamakan bobot personalia di dalam menduduki jabatan-jabatan sentral untuk kesejahteraan bersama, pasti dengan antusiasmenya mengafirmasi seratus persen upaya dan penerapan kualitas personalia dalam menempati posisi-posisi sentral guna mengambil keputusan untuk kesejahteraan umum.

Yesus datang ke dunia membawa misi yang mengutamakan kualitas personalia dalam memimpin diri dan sesama dalam kriteria diriNya yaitu untuk kepentingan keselamatan banyak orang. Maka segala pandangan dan prinsip yang mengutamakan egoisme pribadi, suku, adat, daerah tertentu, harus dikritisi untuk membangun kesadan bersama akan gerakan bersama membangun untuk kesejahteraan umum dalam arti fisik dan keselamatan universal dalam arti rohani.

Misi keselamatan universal melintas batas itu diungkapkan dalam paradigma Tuhan Yesus dalam sabdaNya ini: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi” Api berfungsi untuk membuat sesuatu lebih baik dan berguna untuk hidup dan kehidupan manusia. Misalnya api memasak beras menjadi makanan untuk dimakan manusia agar hidupnya berkelanjutan. Api juga berfungsi membakar dan menghanguskan serta meghancurkan.

Dalam arti rohani, api membakar habis semua prinsip hidup yang mengutamakan egoisme, agar yang ada adalah prinsip kesejahteraan umum dan keselamatan universal. Kesejahteraan umum dan keselamatan universal ini adalah kerinduan dan harapan semua manusia di seluruh dunia. Untuk menerapkan itu di dalam realitas hidup nyata setiap hari, kita tidak mengharapkan hal itu jatuh turun dari langit dan atau tumbuh dari dalam tanah. Kita membutuhkan personalia yang berbobot untuk memimpin dan mengatur secara baik dan benar dalam merealisasikan kesejahteraan bersama dan keselamatan universal di dalam kehidupan bersama mulai dari komunitas basis keluarga, komunitas biara, sampai di seluruh dunia. Apakah kita terbuka terhadap sesama yang hadir sebagai pewarta Sabda Yesus: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi” di dalam komunitas basis Gerejani, komunitas biara, pastoran, paroki, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dunia? Keterbukaan terhadap sikap kritis anggota sebuah komunitas adalah awal yang baik untuk pengalaman akan kesejahteraan bersama dan keselamatan universal.

PERSELINGKUHAN AKAR KEKERASAN DALAM KELUARGA

Bagaimana Menyelesaikan Perselingkuhan Dalam Adat Suku Bunak?

P. BENEDIKTUS BERE MALI, SVD


Suku Bunak di Asueman seratus persen beragama Katolik. Setiap hari Minggu umat Katolik merayakan Ibadat Sabda atau Perayaan Ekaristi. Tetapi NS ( Nosa selingkuhan T) dan T (suami sah Y baik secara adat suku Bunak maupun berdasarkan hukum Gereja Katolik) yang beragama Katolik merayakan cinta monyet di atas motor WIN dan berpuncak di Asuulun. Saksinya adalah D (saudara Y) dan L (Saudara sulung Y). Y (isteri sah T) sudah bertahun-tahun mengalami kekerasan yang dihujankan T atas dirinya. Anak-anaknya yang masih kecil melihat kekerasan ayah (T) terhadap mama (Y) tercinta, hanya dengan menggugurkan airmata kesedihan. Puncak kekerasan itu ternyata berakar perselingkuhan T dan NS. Berikut proses permainan cinta monyet yang direkam lewat saksi kunci D dan L atas permainan cinta monyet T dengan NS.

Pada hari Minggu 29 Agustus 2010 terjadi kekerasan dalam sebuah keluarga suku Bunak di Dusun Asueman, Desa Aitoun, Kecamatan Raihat. Pada pagi hari, suami (T) memukul isteri (Y) lalu suami (T) menggunakan motor Winnya keluar Rumah. Anaknya (A ) melihat T memuat seorang NS menuju ibu kota Kabupaten Belu. Anak A tidak tega melihat mamanya dipukul sakit lalu ayahnya T pergi dan memuat nona selingkuhannya menuju ke ibukota. Anaknya A memberikan informasi kepada keluarga Y di kota Atambua dan sekitarnya untuk menanti kedatangan T dan Nona selingkuhannya (NS) di ibukota. Keluarga Y itu adalah D dan L. D dan L menunggu di Pasar Lama Atambua mengenakan helm masker sambil mengamati motor T dan NS dari kampung Asueman. Informasi lewat SMS itu sangat tepat dan selang beberapa jam, Motor WIN yang dikendarai T dan dibelakangnya NS datang memasuki ibu kota Kabupaten. D dan L selalu membuntuti motor Win dari belakang mengikuti arah T dan NS.

Tibalah mereka di Asuulun dan masuk ke dalam kios-kios yang menjual makanan dan minuman ringan di sana lalu T dan NS menikmati makanan ringan itu sambil memainkan cinta monyetnya. D dan L memarkir motornya di tempatnya yang agak jauh dan mulai menelpon keluarga dan saudara saudari Y. Selang beberapa menit, D dan L pun membuka helm maskernya tepat di depan T dan NS yang sedang memainkan cinta monyet di tempat rekreasi Asuulun.

T dan NS kaget dengan kedatangan D dan L yang mengaborsi permainan cinta monyet mereka. Muka merah dan pemberontakan nurani T dan NS mulai bermain. Mau lari tak mampu, tidak mengaku pun tidak bisa. T sudah mempunyai empat anak dan sudah mempunyai dua cucu. Pemberontakan nurani bertubi-tubi menghantuinya dan kini masalah menjadi lebih rumit dan urusan adat akan memakan banyak korban. Korban tenaga, pikiran, materi dan membuang-buang waktu untuk mengurus adat permainan cinta monyet T dan NS.

Urusan adat itu melibatkan tiga pihak besar. Suku Y, suku T, dan Suku NS. T berada pada posisi serba salah. Beban adat ganda harus ditanggung T. Beban adat T terhadap Y sebagai isteri sah secara adat dan Gereja Katolik. Beban adat T terhadap NS sebagai anak gadis yang belisnya harus ditanggung T dan keluarga suku T. Kenikmatan cinta monyet sesaat mendatangkan penderitaan dan korban serta beban adat ganda, berupa korban binatang dan uang yang diperoleh dalam bekerja bertahun-tahun. Ini adalah kebodohan yang tidak perlu. Kenikmatan sesaat mendatangkan kerugian yang berlipat ganda. Nasib anak-anak semakin buram karena biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak tersedot dan dialirkan kepada pelunasan beban adat karena permainan cinta monyet T dan NS sesaat.

Demikianlah perayaan cinta monyet di atas motor WIN dan di tempat rekreasi Asuulun sesaat mendatangkan kerugian ganda yang harus melibatkan banyak orang dari suku T, Suku Y, dan suku NS. Pembangunan sumber daya manusia dalam keluarga Y dan T mulai menuju kekerdilan. Tentu semua keluarga tidak mengharapkan peristiwa serupa terjadi di dalam keluarga idamannya. ***

KOTBAH BERKAT RUMAH

Berkat Gembala Memberi Rahmat Berlimpah Atas Rumah Ini




*Rm. Benediktus Bere Mali, SVD*




Bapa Ibu saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus…



Kita semua pernah menimba ilmu di pendidikan formal. Buktinya kita mendapat Surat tanda lulus atau ijazah resmi dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. Dengan bukti itu, kita dapat melamar dan diterima untuk bekerja di kantor atau perusahaan-perusahaan ternama.
Seorang imam secara liturgis ditahbiskan oleh Uskup. Bukti bahwa seorang imam tertahbis harus ada surat legal dan tanda tangan uskup pentahbis, sehingga Pelayanan imam tertahbis secara hukum diakui dan diterima, baik ketiga berkarya di dalam Negeri maupun berkarya di luar Negeri sebagai seorang misionaris.


Pada malam hari ini, kita merayakan Perayaan Ekaristi di dalam rumah baru ini. Pengesahan rumah oleh Allah, dalam Perayaan Ekaristi ini, membawa rahmat ganda kepada keluarga ini. Pertama,Iman akan kehadiran Allah yang memiliki kasih, persahabatan, damai, dalam rumah ini, di dalam diri anggota keluarga ini. Kedua, Pengesahan ini meneguhkan iman keluarga ini agar dalam suka dan duka, keluarga ini tetap setia pada Tuhan dan sesama dalam keluarga ini. Ketiga, keluarga ini menjadi teladan iman bagi sesama dilingkungan ini, di tempat kerja dan dimana saja keluarga ini berada.


Hari ini Yesus mempersembahkan rencana muliaNya kepada Tuhan dalam doaNya di Gunung Tabor. Setiap langkah Yesus akan dilaksanakan setelah mendapat pengesahan Allah BapaNya sendiri. Satu ide yang menonjol dalam pesta Yesus dimuliakan di atas Gunung Tabor adalah Ia akan ke Yerusalem untuk kematianNya di atas Kayu Salib sebagai jembatan jalan menuju kehidupan bahagia abadi di Surga. Ide ini mendapat pengesahan dari Allah BapaNya di Surga, dalam Sabda Allah dari dalam Surga: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Pengesahan Allah ini terjadi di Tabor, disebut Gunung Kemuliaan Allah. Pengesahan itu adalah langkah penting dan menentukan yang Ia akan ambil.


Pengesahan itu akan diakui kalau ada saksi. Dalam aturan yang berlaku pada zaman Yesus itu, setiap pengesahan akan diakui kalau paling minimal ada dua orang saksi yang memberi tandatangan asli atas pengesahan itu. Pengesahan misi Yesus oleh Allah BapaNya di Surga dalam SabdaNya, diakui dan diterima karena ada dua tokoh besar dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi yang menjadi saksi yaitu Musa dan Elia. Siapakah kedua saksi ini?
Musa adalah seorang tokoh besar agama Yahudi yang memberikan Hukum yang besar kepada Israel. Sepuluh Perintah Allah diberikan oleh Musa kepada bangsa Israel. Sedangkan Elia adalah seorang yang paling besar di antara nabi-nabi. Pengesahan ini mau menyatakan kepada Yesus agar Ia berjalan terus dan melanjutkan segala sesuatu yang telah ditetapkan. Ia berangkat ke Yerusalem untuk menderita dan mati di salib lalu bangkit dari antara orang mati adalah ketetapan Bapa. Dan apa yang Ia kerjakan adalah suatu penyempurnaan dari segala kehidupan dan pemikiran dan karya dari bangsaNya, bahwa Allah juga sudah mengesahkan langkah-langkah yang Ia telah ambil.

Transfigurasi atau perubahan rupa Yesus dimaksudkan untuk meneguhkan hati /iman ketiga rasul inti itu yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus, agar mereka tidak goyah imannya apabila menyaksikan kesengsaraan Yesus nanti. Transfigurasi ini pun menjadi tonggak penghiburan bagi para rasul di saat-saat mereka mengalami kesengsaraan dan kesulitan dan menjadi jaminan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan mereka alami di Surga, sebagai yang telah dijanjikan Yesus.


Inilah pengesahan visi keselamatan dan misi menuju keselamatan melalui via dolorosa. Peristiwa iman akan kebahagiaan melalui jalan salib Tuhan memberikan kekuatan sekaligus inspirasi kepada kita untuk selalu menimbah kekuatan Tuhan dalam mengalami penderitaan yang kita alami. Tuhan menderita untuk banyak orang. Pengorbanan Tuhan harus menjiwai setiap tugas karya Pelayanan kita dimana saja kita berada. Ini kekhasan kita sebagai pengikut Yesus sang guru kita.


Inspirasi: Dan 7:9-10.13-14. 2 Ptr 1:16-19 . Luk 9:28b-36. MT. 97 : 1-2.5-6. 9. Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya di Tabor. Meditasi Persiapan Misa di Soverdi Jumat Pertama 6 Agustus 2010. Pemberkatan Rumah di Wilayah Rungkut.

“NILA SETITIK MERUSAK SUSU SEBELANGA”


* Rm. BENEDIKTUS BERE MALI, SVD*
Setiap kita pernah melakukan pekerjaan yang sempurna. Saat itu kita tentu mendapat penghargaan yang baik dari sesama di sekitar yang menyaksikan hasil pekerjaan dan menikmati hasil pekerjaan kita. Kita juga pada saat yang berbeda dapat melaksanakan tugas-tugas kita secara asal-asalan sehingga hasilnya tidak menarik perhatian banyak orang yang kita jumpai dan melihat hasil pekerjaan kita. Hasil pekerjaan buruk yang kita tampilkan mendatangkan hujan penilaian yang buruk bahkan sangat kasar menutupi sejuta keberhasilan yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun lamanya. Kita melakukan sebuah kesalahan menghapus sejuta perbuatan baik yang menarik berjuta-juta orang yang memberikan apresiasi yang luarbiasa. Menyesal kemudian tiada berguna.

Petrus adalah gambaran sosok manusia yang digambarkan di atas. Dia ketika memberikan jawaban yang bagus dan benar menurut penanya, dia diberi kepercayaan oleh penanya untuk melaksanakan tugas besar yang diberikan kepadanya. Sebaliknya ketika dia menjawab pertanyaan penanya secara amburadul tidak sesuai dengan harapan penanya, dia diberi label bodoh dan bahkan disebut setan iblis. Kepercayaan kepada Petrus dan penilaian terhadap Petrus sebagai iblis ini memberikan inspirasi kepada kita. Kita ingat akan peribahasa ini, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Peribahasa ini berarti sebuah kesalahan cilik dapat menghancurkan bangunan kebaikan yang dikerjakan selama bertahun-tahun. Peribahasa ini memang memberikan inspirasi yang berat bagi kita untuk memiliki kepekaan untuk tetap memelihara kebaikan dan kebenaran yang sedang kita miliki melalui perjuangan yang panjang selama bertahun-tahun.
Kita jatuh dalam banyak hal. Kita jatuh karena kita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Ada kejatuhan yang membuat kita bisa bangkit lagi. Ada kejatuhan yang membuat kita tidak berdaya sama sekali dalam paradigma tertentu. Meskipun demikian, kita masih mempunyai sebuah peluang untuk kembali membangun kembali kehancuran kebaikan kita akibat kesalahan kita sendiri. Peluang itu tidak ditemukan dalam diri manusia. Peluang berat itu ada dalam diri kuasa Roh Allah sendiri. Kuasa Roh Allah itu akan terlaksana dalam diri manusia yang memiliki lahan kerendahan hati dalam dirinya. Kerendahan hati itu membuka peluang bagi Allah mengalirkan rahmat pembaharuan yang berat dalam diri manusia yang memiliki kerendahan hati. Aliran rahmat Roh Allah itu akan mengalir deras dari medan yang lebih tinggi kepada arah yang lebih rendah. Pandangan kita menuju kepada Allah Roh Kudus di tempat yang tinggi yang mengalirkan rahmatNya yang memperbaharui bangunan hati manusia yang memiliki kerendahan hati.

Marilah kita memiliki modal kerendahan hati yang berat bagi Allah Roh Kudus yang mengalirkan rahmatNya yang berat ke dalam diri kita. Kerendahan hati adalah syarat mutlak untuk berubah dan diubah Tuhan Yesus. Mari kita memiliki harta kerendahan hati untuk memperoleh kekayaan rahmat pembaharuan dalam Tuhan.***


Meditasi persiapan misa hari Kamis 5 Agustus 2010
Di Soverdi Surabaya. Matius 16 : 13 -23. Yer 31 : 31 – 34. MT. 51:12-13.14-15.18-19

BERMIMPI MENJADI "ORANG". BERMIMPI MENJADI "MAN"

Rm. Benediktus Bere Mali, SVD.



Orang Tua yang mempunyai mimpi pasti mengharapkan anak-anaknya menjadi orang. Orang dalam bahasa Inggris MAN. MAN dapat disingkat sebagai berikut.M singkatan dari Money. A singkatan dari Autority. N singkatan dari Name. Menjadi orang berarti memiliki uang, kekuasaan dan nama besar. Entah sadar atau tidak sadar setiap orang tua memimpikan anak-anaknya menjadi orang, menjadi MAN.

Ada banyak anak yang menanggapi mimpi orang tuanya dengan baik dan positif. Ungkapan rekasi positif itu dengan rajin bekerja, rajin berdoa dan rajin belajar. Ada banyak anak yang menjadi orang. Ada banyak anak yang menjadi kaya, mendapat kedudukan dan menerima Nama Besar. Singkatnya ada banyak anak yang menjadi "kaya".



Ada dua sikap manusia yang bisa ada setelah seseorang menjadi kaya. Kekayaan dilihat sebagai sarana bukan tujuan. Bisa juga orang bersikap seperti ini. Kekayaan duniawi dijadikan tujuan. Seseorang yang kaya bisa meyembahberhala kepada kekayaannya. Orang seperti ini dikenal atau disebut orang yang serakah atau orang yang tamak. Ciri khas orang yang tamak adalah mengumpulkan harta kekayaan duniawi tanpa mengalami sebuah kepuasan dan sulit sekali atau bahkan tidak sama sekali untuk membagikan harta duniawi kepada sesama sekitar yang paling berkekurangan dan paling membutuhkan pertolongan sesamanya.


Tuhan secara kreatif menegur orang-orang yang berada pada tingkat ketamakan pribadi atau dalam keserakahan kepribadian. Semakin banyak harta kekayaan duniwi akan mendatangkan ketidaknyamanan di waktu malam. Orang kaya Memikirkan hartanya sampai tidak dapat tidur karena takut hartanya dicuri orang. Untuk masuk ke dalam kemuliaan Kristus di Surga orang harus mematikan makhluk ketamakan atau keserakahan dalam rumah kediaman hatinya. Rumah hatinya harus membuka diri dan mengucapkan selamat datang kepada makhluk kaya dalam Tuhan Yesus untuk tinggal dan berdiam di dalam rumah hatinya. Orang seperti ini dikenal atau disebut dengan orang yang kaya secara spiritual.

Mereka yang disebut orang yang kaya secara spiritual memiliki keunikannya tersendiri. Beberapa keunikan yang dimiliki orang yang kaya di hadapan Allah adalah memiliki semangat solidaritas yang tinggi dalam hidup keberimanannya. Orang yang kaya spiritual adalah mereka yang bekerja secara tekun, sabar dan disiplin untuk mendapatkan harta kekayaan duniawi secara wajar dan lewat cara yang normal serta rela membagikan atau memberikan harta kekayaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan pertolongan agar mereka juga berkecukupan sehingga mereka juga boleh mengalami rahmat pemberian Tuhan yaitu harta kekayaan itu. Oranga yang kaya dalam Roh Allah adalah orang yang membagikan harta berupa kemampuan, talenta, kekayaan ilmu pengetahuan, tenaga, kepada pengutamaan kesejahteraan orang lain disamping memperhatikan kesejahteraan dirinya. Orang yang kaya di hadapan Tuhan selalu mengalami kesukacitaan yang mendalam dalam Bimbingan Tuhan, dan itu lahir atau mengalir keluar dari kerelaan berbagi kepada sesama melintas batas, kepada sesama yang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongannya. Hal ini lahir dari pola berpikir hidup keberimanan yang mengakui Allah yang tak kelihatan menampakan diriNya dalam wajah sesama yang hadir dan hidup bersama dimana dan kapan saja. Inilah rasa syukur dan terimakasih manusia kepada Tuhan pemberi aneka harta kekayaan kepadanya, lewat berupaya menggandakan hartanya dan solidaritas kepada sesama manusia.


Sumber akar kekuatan sikap solider manusia beriman berasal dari iman akan solidaritas Allah yang dirayakan dalam setiap liturgi ekaristi. "Terimalah dan makanlah inilah TubuhKu yang Kuserahkan bagimmu. Terimalah dan minumlah inilah piala darahKu yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa." Semoga iman kita ini memandu kita untuk memiliki semangat berbagi dalam hidup berkomunitas kita dan dalam hidup tugas dan karya pelayanan kita kapan dan dimana saja. *****




- INSPIRASI dari Hari Minggu Biasa XVIII Tahun C II.
Bacaan Pertama dari Kitab Pengkhotbah 1:2,2:21-23.
Mazmur 90:3-4,5-6,12-13,14,17.
Bacaan II dari Kolose 3:1-5,9-11.
Injil Lukas 12:13-21.
Kotbah ini disampaiakan di Kapela Soverdi Surabaya
Minggu 1 Agustus 2010, dalam Perayaan Ekaristi Kudus.
Umat yang hadir:
Dr. Eduardus Dosi SVD.
Provinsial SVD Jawa.
P. Thoby Kraeng Muda SVD,
P. Kletus Hekong SVD.
P. Fritz Meko SVD.
P. Klemens Amaunut SVD.
P. Dominikus Baok, SVD.
Dan Para tamu di Soverdi Surabaya.