Bukan Menjadi Musuh di dalam Selimut

 *P. Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Hari Rabu dalam Pekan Suci

31 Maret 2021

Yes 50:4-9a

Mzm.69:8-10.21bcd-22.31.33-34,R:14bc

Mat 26:14-25



Mengkambinghitamkan yang lain untuk membenarkan diri adalah sebuah cara menutupi kekurangan, keterbatasan, kesalahan, kedosaan diri di hadapan yang lain. Orang lain atau yang lain disalahkan untuk senantiasa membenarkan diri sering kita alami di dalam kehidupan kita bersama dengan orang lain, baik di dalam keluarga, komunitas, maupun di dalam masyarakat tempat kita hidup. Sangat kasihan bahwa Iblis selalu dituduh atau dikambinghitamkan sebagai pribadi yang sedang merasuki Yudas Iskariot sehingga dia menggunakan kaki kebenasannya berjalan menuju musuh-musuh Yesus untuk menyerahkan Yesus kepada para musuh-Nya dengan seharga 30 keping perak adalah seharga jual beli seorang hamba dalam masyarakat Yahudi pada zaman itu. Kasihan Iblis-lah dikambinghitamkan, yang dituduh menjadi sumber pengkhianatan dari Yudas Iskariot terhadap Yesus Sang Gurunya sendiri. 


Freud seorang Psikolog ternama berkata bahwa Kejahatan/Iblis-jahat dan kebaikan/malaekat-baik adalah dua makhluk atau dua sisi yang yang ada di dalam jiwa(psike) setiap manusia. Dua sisi itu seperti dua sisi mata uang perak yang ada di dalam psike manusia. Dua sisi itu seperti pisau bermata dua di dalam jiwa (psike) manusia. Misalnya mengapa seorang yang beragama yang senantiasa menggunakan jubah putih putih sebagai Simbol Kebaikan/malaekat itu perilakunya tidak berperikemanusiaan kepada sesamanya yang tidak sealiran denganya sehingga kebahagiaan orang lain mengalami kekurangan? Atau mengapa seorang kafir: orang Samaria di mata Agama Yahudi, justru memiliki pikiran positif, perasaan empati pada orang yang terluka oleh para perampok/penyamun, yang sedang tergeletak di tepi jalan itu, melihatnya lalu merawat dan melayaninya secara tuntas sampai ia sembuh, sedangkan orang yang beragama Yahudi: imam, lewi, yang lewat di jalan itu, melihat orang yang tak berdaya itu, tetapi tidak melakukan apa-apa terhadapnya? Dua contoh Pertanyaan di atas yang dapat kita menjawabnya secara  pribadi, mempertegas kembali bahwa jiwa manusia memuat Iblis buruk-malaiakat baik sekaligus. Signal baik dan signal buruk sedang bertumbuh dan berkembang subur di dalam jiwa (psike) setiap pribadi manusia. 


Yudas Iskariot sedang lebih mengaktifkan signal kuat bersumber dari jiwa Iblis di dalam dirinya, yang menggerakan kaki kebebasannya berjalan menuju jalan kegelapan yaitu menjual Yesus seharga 30 keping perak kepada kepada para musuh Yesus. Kerja signal kuat Iblis buruk Yudas Iskariot itu sungguh sangat berhasil bahwa Yesus diserahkan kepada musuh-Nya atas mediasi Yudas Iskariot, pengkhianat, musuh dalam "selimut" komunitas 12 murid. Betapa jahatnya Yudas Iskariot yang lebih mengaktifkan signal jiwa Iblis buruk di dalam dirinya. Sebaliknya di dalam bacaan pertama, Yesus tidak seperti Yudas Iskariot yang menggunakan kakinya berjalan pergi kepada musuh-musuh Yesus dan menjual Yesus. Yesaya menggunakan lidah-nya untuk menyampaikan kata-bahasa yang menyelamatkan sesama di sekitar. Yesaya menggunakan telinganya mendengarkan Sabda Allah dan melakukan apa yang didengarnya sesuai kehendak Allah yang setia menyelamatkan semua orang. Yesaya menggunakan inderanya melaksanakan kehendak Allah yang ada di dalam jiwa(psike)nya tetapi mematikan signal buruk yang juga lengket di dalam jiwa(psike)nya juga.


Kita adalah manusia seperti Yudas Iskariot dan Yesaya yang juga memiliki sisi terang dan gelap di dalam jiwa(psike) kita dalam pandangan Psikolog Freud. Kita terinspirasi Yesaya yang lebih mengaktifkan signal jiwa (psike) kebaikan dengan menggunakan telinga untuk setia mendengarkan Sabda Allah dan mengatakan tentang Sabda Allah yang menyelamatkan dan menyejukan hati, rasa, dan budi sesama atau dengan kata lain kata dan  aksi Yesaya untuk selalu menyelamatkan sesama dan dunia. Bukan kata dan aksi kita seperti Yudas Iskariot yang menjadi musuh di dalam selimut dalam keluarga besar para murid Yesus atau menjadi pengkhianat di dalam komunitas 12 murid karena Yudas Iskariot sangat dominan mengaktifkan signal kuat buruk di dalam jiwa(psike)nya dalam perspektif Psikolog Freud. 


Kebebasan adalah satu bagian penting di dalam diri kita. Kita menggunakan kaki kebebasan kita untuk berjalan menuju Terang Sejati dalam Kristus Yesus seperti kaki Yesaya di dalam bacaan pertama dan bukan menggunakan kaki kebebasan kita menuju kegelapan seperti Yudas Iskariot di dalam bacaan Injil hari ini. Ingatlah bahwa psikemu- psikeku-psikekita mengandung signal baik dan buruk sekaligus. Kebebasanmu-kebebasanku-kebebasankita dapat memilih yang baik untuk keselamatan bersama.***

"Mengapa Pemimpin dan Ekonom kelompok 12 para murid Yesus itu sedang mengalami Krisis panggilan?"

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Renungan Misa Harian

Selasa dalam Pekan Suci

30 Maret 2021

Yes 49:1-6

Yoh 13:21-33.36-38



"Mengapa Pemimpin dan Ekonom kelompok 12 para murid Yesus itu sedang  mengalami Krisis panggilan?"




Krisis adalah satu bagian dari perkembangan hidup manusia baik secara fisik-biologis, sosial, psikologis, dan spiritual. 12 Murid Yesus adalah orang-orang yang sudah dewasa secara fisik bahkan ada yang sudah mapan dalam pekerjaan lalu meninggalkan pekerjaan mapannya itu kemudian menjadi murid Yesus dan hidup bersama Yesus selama 3 tahun lamanya. Tetapi mereka sebagai manusia mengalami Krisis dalam panggilan mereka sebagai murid Yesus. Yesus sebagai guru mereka lebih mudah dari para murid-Nya. Hanya dalam 3 Tahun mereka hidup bersama Yesus. Formasi mereka sangat singkat kalau dibandingkan dengan situasi formasi kita sekarang. 


Krisis Petrus dan Yudas Iskariot sangat jelas di saat-saat akhir hidup bersama Yesus. Petrus sebagai pemimpin mengalami krisis dan itu akan tampil di dalam penyangkalannya terhadap Yesus. Sekalipun demikian kemudian Petrus bertobat. Kemudian Petrus menjadi pemimpin atau Paus Pertama dalam hirarki Gereja Katolik. Kepemimpinan Petrus diteruskan sampai hari ini dalam diri para Paus penggantinya. 


Sedangkan Yudas Iskariot lebih parah lagi bahwa Yudas mengkhianati Sang Guru dengan menjual Yesus kepada para musuh-Nya seharga jual seorang hamba pada saat itu, sebesar 30 keping perak. Uang itu untuk dirinya sendiri. 


Yudas Iskariot selama hidupnya dalam kelompok 12 murid,  bermain dua kaki yaitu melayani kebutuhan kelompok 12 murid dan sekaligus pada saat yang bersamaan mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri. Contoh Yudas mencuri uang dari komunitas kelompok 12 murid untuk dirinya sendiri. Hal ini terungkap saat Maria Magdalena meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya. Yudas menegur Yesus bahwa tidak penting meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu  yang sangat mahal harganya 300 dinar itu dari persembahan Maria Magdalena kepada Yesus. Lebih Baik uang itu untuk  menolong orang-orang miskin yang lebih membutuhkan. Yudas terlalu masuk pada urusan pribadi Maria Magdalena yang memberikan yang terbaik kepada Yesus.


Tetapi motivasi Yudas bukan itu, ia katakan itu agar  ia  dapat mencuri uang itu untuk dirinya sendiri. Ia menggunakan alasan yang tampak sangat masuk akal di mata publik tetapi setelah menerima uang, karena ia bendahara, uang itu digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.



Di sini kita melihat, Petrus sekalipun mengalami jatuh bangun sebagai murid Yesus,  tetapi toh ia menjadi pelayan Yesus dan umatNya  yang sampai tuntas. Sedangkan Yudas menjadi murid yang melayani  secara tuntas hanya untuk dirinya sendiri dengan sikap oportunis dalam kelompok 12. Hal itu berpuncak pada penjualan Yesus sang Gurunya seharga 30 keping perak seharga seorang hamba pada saat itu. Buahnya Yudas mati bunuh diri. Harta kekayaan duniawi dengan menjual Yesus yang dimilikinya tidak memberi kebahagiaannya, tetapi justru  sebaliknya bahwa ia menjadi orang yang mengalami stress tingkat tinggi dan akhirnya ia mati dengan cara membunuh dirinya sendiri. 


Kita belajar dari Petrus dan Yudas Iskariot. Dua tokoh ini sangat inspiratif dalam melihat realitas pemimpin dan ekonom dalam kenyataan hidup kita baik dalam lingkup kecil maupun makro. Seringkali masalah ada dalam komunitas karena spirit dua tokoh ini secara negatif masih hidup dalam. Komunitas makro maupun mikro. Atau sebaliknya secara positif spirit dua tokoh ini masih berjalan menggunakan kaki mereka di jalan yang benar sesuai arahan Yesus sang Guru sejati pada zaman kita dewasa ini.***

Mengapa Maria Magdalena

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian

Senin, dalam Pekan Suci, 29 Maret 2021

Yes.42:1-7

Mzm.27:1.2.3.13-14

Yoh.12:1-11


Mengapa Maria Magdalena membasuh/meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya lalu melapnya dengan rambutnya yang adalah mahkota seorang wanita dalam bangsa Yahudi? 


Kaki Yesus beda dengan kaki Yudas. Yudas menggunakan kakinya untuk kejar materi, uang untuk dirinya sendiri. Contoh dia menggunakan kakinya pergi ke sana kemari untuk mencuri uang seperti dikatakan dalam Injil hari ini tanpa niat baiknya untuk kembali berjalan di jalan yang benar sesuai kehendak Yesus Sang Gurunya. 

Bahkan sampai akhir hidup Yesus, justru Yudas menggunakan kakinya pergi bersekongkol dengan para musuh Yesus dan menyerahkan Yesus kepada para musuh dengan harga hanya 30 keping perak seharga jual beli  seorang hamba pada masa itu. 

Uang itu untuk dirinya sendiri. Yudas benar-benar egois menjual Yesus untuk memperkaya dirinya sendiri. Sebaliknya kaki Maria yang dulunya pendosa dan mendapat harta kekayaan dengan kerjaannya sebagai pelacur, kemudian Yesus mendampinginya secara baik sehingga ia menggunakan kakinya  bukan lagi pergi menjauh dari Yesus dan bukan lagi menjadi pelacur melainkan menjadi orang yang kembali bertobat, menggunakan kakinya berjalan kepada Yesus, meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu  yang sangat mahal harganya itu lalu melapnya dengan rambutnya yang adalah tanda mahkota terhormat bagi seorang wanita dalam masyarakat bangsa Yahudi. 

Mengapa kaki Yesus? Karena Yesus menggunakan indera kakinya untuk  berjalan sambil berbuat baik lewat teladan hidup, pewartaan, dan tanda dan mukjizat. Artinya Yesus menggunakan kaki-Nya untuk melakukan hal yang baik, untuk menyelamatkan, untuk membawa kebenaran, kebaikan dan keadilan bagi semua orang lintas batas. Yesus menggunakan kaki untuk berjalan membangkitkan Lazarus. Yesus menggunakan kaki untuk melaksanakan kehendak YAHWEH dengan menjadi seorang hamba YAHWEH yang setia sampai mati seperti dalam Bacaan Pertama hari ini. 


Pengalaman Maria Magdalena akan kaki Yesus berjalan mendatanginya dan menyelamatkannya inilah membangkitkan Maria Magdalena sangat rendah hati di hadapan Yesus dengan meminyaki kaki Yesus sebagai penyelamat atas dirinya dan semua orang, dengan minyak Narwastu yang Mahal harganya dan melap kaki Yesus dengan Rambutnya yang adalah mahkota seorang Yahudi dalam masyarakat Yahudi. Tindakan Maria Magdalena ini menunjukan bahwa Maria Magdalena merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah dan manusia. Maria Magdalena sangat dekat dengan Yesus dan cinta pada Yesus diungkapkannya dengan memberi yang terbaik kepada Yesus sumber kebaikan sejati dan diwujudkan dengan menggunakan kaki berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dalam membagi kebaikan kepada sesama yang dijumpai-Nya. 


Maria pasti melalui pengalaman meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu dan membersihkan dengan rambutnya ini mau mengatakan bahwa rambu kepala Simbol mahkota kepala/otak ini dapat digunakan untuk segala sesuatu yang Yesus ajarkan bagi keselamatan semua orang. Pengalaman ini bagi Maria Magdalena sangat spesial, karena kaki Yesus lah yang dapat menyelamatkan dirinya, mempertobatkan dirinya. Maria berterima Kasih kepada Yesus dengan memberikan yang terbaik kepada Yesus.


Pesan bagi kita adalah kaki kita semestinya seperti kaki Yesus yang yang berjalan sambil berbuat baik dalam setiap detik untuk semua orang bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja. Itulah jejak kaki digital daring dan luring. ****

Yesus Komitmen Menyempurnakan Identitas Agama Bangsa Yahudi

  *P.Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan Misa Hari Minggu Palma, 28 Maret 2021. Tahun B. 


Yes 50:4-7

Mzm. 22:8-9.17-18a.19-20.23-24; Ul"2a

Flp. 2:6-11.

Mrk. 15:1-39


Politik identitas adalah cara paling mudah untuk meraih kuasa dalam dunia perpolitikan. Kelompok mayoritas Suku, bahasa, agama, asal, adalah lahan empuk bagi seorang calon legislatif dan eksekutif untuk  dapat memakai politik identitas dalam kompetisi politik untuk dapat dengan mudah meraih kuasa dan harta bagi dirinya dan bagi pendukungnya berbasis politik identitas. Dalam kompetisi semacam ini hasil akhirnya adalah soal kalah dan memang dan sudah pasti bahwa yang menang adalah calon dari kelompok mayoritas sedangkan kualitas kelompok minoritas sudah pasti mengalami kekalahan. Politik identitas kelompok mayoritas dimainkan oleh team sukses calon eksekutif maupun legislatif semakin mengokohkan kelompok mayoritas dan pada saat yang sama, team sukses membuat kelompok minoritas tidak berdaya dalam bersaing di dunia perpolitikan untuk sebuah kekuasaan dan harta yang bersifat sangat temporal, tidak eternal.


Bangsa Yahudi dan Agama Yahudi sedang berada dalam penjajahan bangsa Roma. Orang Yahudi memiliki identitas utama yaitu Bait Allah Yerusalem adalah tempat doa kepada Yahweh sebagai Allah Esa bagi mereka. Penjajah Roma mengakui dua identitas ini tetapi pada saat yang sama penjajah Roma itu tetap mengontrol semua aktifitas di dalam lingkungan Bait Allah.


Yesus sebagai seorang bangsa Yahudi datang bukan untuk menghapus atau melawan identitas agama bangsa leluhur-Nya. Tetapi Yesus datang dan berkarya serta melakukan Mukjizat untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi secara nyata. 

Bagi Yesus Bait Allah Yerusalem menjadi tempat doa bagi bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain karena bagi Yesus Yahweh adalah Allah semua bangsa bukan hanya Allah orang Yahudi. 

Tetapi orang Yahudi berprinsip YAHWEH adalah hanya Allah mereka bukan Allah orang lain. Bagi Yesus YAHWEH itu telah menjadi manusia dalam diri-Nya sendiri, dan Yesus adalah Allah, tetapi bagi orang Yahudi Yesus menghujat Allah.  

Yesus adalah Bait Allah yang hidup dan Yesus adalah YAHWEH yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Bagi Yesus, inilah yang dimaksudkan dengan Yesus ada dan hadir di antara orang Yahudi untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi yang berpusat pada Bait Allah sebagai pusat sembah YAHWEH, monoteisme iman bangsa Yahudi, kepercayaan serta pengalaman akan YAHWEH dalam hidup bangsa Yahudi.

 Tetapi orang Yahudi yang anti-Yesus, menggunakan politik identitasnya yang berpusat pada monoteisme, menuduh Yesus sebagai penghujat Allah dan karena alasan itulah Yesus mengalami kisah sengsara, disalibkan, dimakamkan seperti di dalam Injil Markus hari ini. 

Yesus komitmen bahwa Ia datang untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi yaitu bangsa-Nya sendiri. Dan hal ini bukan dari diri-Nya sendiri tetapi atas kehendak YAHWEH yaitu Allah Bapa-Nya sendiri. Yesus berani menampilkan diri dalam menyempurnakan identitas bangsa Yahudi. Yesus tampil siap menerima semua halangan tantangan hambatan dan gangguan bahkan penderitaan di Salib dan kematian dalam tangan bangsa-Nya sendiri untuk   menyempurnakan identitas bangsa-Nya sendiri. Yesus tampil sebagai seorang Hamba yang tidak mengeluh sedikitpun dalam mengalami siksaan di tangan bangsa-Nya sendiri untuk menyempurnakan identitas bangsa Yahudi. 


Bacaan Pertama secara jelas mengokohkan bahwa sang hamba yang menderita itu tidak menyembunyikan muka ketika dinodai, karena hamba itu tahu bahwa hamba tidak akan mendapat malu. Hamba itu meneguhkan hatinya seperti teguhnya gunung batu karena hamba itu tahu bahwa hamba itu tidak akan mendapat malu. Karena Tuhan menyertai hamba itu. 


Bacaan Kedua, menampilkan spiritualitas hamba dalam diri Yesus dalam menyempurnakan identitas bangsa Yahudi.  Yesus mengosongkan diri-Nya, merendahkan diri secara tuntas dan taat kepada Allah sampai mati, bahkan sampai mati di kayu Salib. 


Yesus menyempurnakan identitas bangsa-Nya sendiri tetapi bangsa-Nya sendiri merasa mapan dengan identitas orde lama yang telah ternoda oleh korupsi, kolusi serta nepotisme. 

Bait Allah digunakan sebagai tempat perdagangan untuk mencari keuntungan bagi dirinya dengan mengorbankan umatnya sendiri. Misalnya Yesus marah dan membalikan meja perdagangan di sekitar Bait Allah menjelang paskah Yahudi  karena pertentangan nilai   kejujuran dan ketulusan yang diperjuangkan Yesus dalam penjualan binatang kurban paskah dan tukar mata uang asing di Bait Allah telah diwarnai oleh manipulasi jabatan imam Yahudi dalam kerja sama dengan kontrol penjajahan Roma untuk mencari keuntungan bagi diri dan mengorbankan Umat sederhana. 

Orang orang Yahudi memperalat Agamanya untuk mencari keuntungan diri semata. Yesus memperjuangkan bahwa Bait Allah yang sesungguhnya untuk doa semua bangsa yang datang ke Bait Allah pada Hari Raya paskah Yahudi untuk sebuah perayaan ingatan dan kenangan akan kemerdekaan dari penjajahan Mesir. 

Ingatan beda dengan kenangan. Ingatan lebih pada persolan kemanusiaan yang terdapat dalam peristiwa pembebasan dari penjajahan Mesir. Sedangkan kenangan lebih pada kemerdekaan itu yang lebih pada adanya karya Roh Kudus dan semangat dan kekuatan dari dalam diri untuk mengalami kemerdekaan itu. 

Kenangan lebih pada keterlibatan Allah sebagai penyelamat dan ditanggapi secara psikologis bahwa setiap orang yang mau bebas dari penjajahan senantiasa  berjuang tanpa lelah melewati proses menuju kemerdekaan seutuhnya  sebagai orang beriman dan dengan perjuangan manusiawi secara total. 


Perayaan Minggu Palma adalah ingatan akan persoalan kemanusiaan yang diperjuangkan Yesus  yaitu Yesus menyempurnakan identitas bangsa Yahudi dalam usianya 33 Tahun. Tetapi para senior dan sesepuh bangsa Yahudi tidak menerima bahkan menyalibkan-Nya sampai mati.

Perayaan Minggu Palma ini adalah Kenangan akan Yesus yang adalah YAHWEH yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bekerja untuk keselamatan begitu banyak orang, bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Yesus bekerja sampai mati di Salib. 

Perayaan Hari Minggu Palem adalah perayaan Kenangan akan misteri Allah yang telah menjadi manusia dalam diri Yesus adalah Allah yang hidup di antara kita, komitmen pada tugas perutusan-Nya sampai mati di Salib. ***


Mengapa imam besar Kayafas mengatakan bahwa Yesus mati dapat menyatukan semua anak-anak Allah yang tercerai-berai?

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Harian Sabtu 27 Maret 2021

Yeh 37:21-28

Yoh 11:45-56

Mengapa imam besar Kayafas mengatakan bahwa Yesus mati dapat menyatukan semua anak-anak Allah yang tercerai-berai?

Kematian dapat melahirkan duka yang mendalam bagi anggota keluarganyab dan sahabat kenalannya. Kematian dalam budaya tertentu dapat mengakhiri semua persoalan dan penderitaan bagi orang yang meninggal.  Juga dalam budaya tertentu  Kematian  itu merupakan momen penting untuk mempertemukan semua keluarga dan sahabat kenalan. Kematian juga dapat mendamaikan anggota keluarga yang konflik. Dalam budaya tertentu, konflik keluarga dapat didamaikan kembali pasa saat satu anggota keluarga meninggal.  Artinya kematian dapat mematikan konflik anggota keluarga lalu menghidupkan kembali perdamaian dan persatuan anggota keluarga yang masih hidup.


Yesus mati untuk menyatukan Anak-Anak Allah yang tercerai-berai. Yesus adalah pemenuhan nubuat Yehezkiel, bahwa Allah akan menyatukan bangsa Israel dari segala ujung bumi.  Tuhan Allah akan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.  

Yesus adalah Allah yang telah menjadi nyata dan hidup di antara kita dalam Sabda dan Ekaristi Kudus. Yesus menyatukan kita dalam kebenaran menurut kehendak Allah Bapa dan Roh Kudus. Menyatukan semua orang dalam kebenaran Allah dapat menyelamatkan tetapi dapat melukai orang yang tidak jujur di hadapan Allah dan sesama serta terhadap nuraninya sendiri.  


Seperti orang-orang Yahudi yang sulit menerima kebenaran Allah dalam diri Tuhan Yesus karena lebih takut terhadap kuasa duniawi daripada Kuasa Allah yang menjadi nyata di dalam diri Tuhan Yesus. Mereka membenarkan Kuasa Duniawi dan demi kuasa duniawi, Tuhan Yesus dianggap sebagai penghujat Allah. 


Dalam kehidupan kita seringkali kita alami pengalaman Yeremia dan Yesus. Kebenaran Allah yang menyelamatkan yang kita sampaikan dalam hidup bersama sering ditolak oleh pimpinan atau senior karena mereka merasa bahwa mereka yang hidup lebih dahulu itu lebih benar daripada kita yang masih yunior. Yesus berkarya mulai usia 30 Tahun sampai 33 Tahun. Kebenaran yang dibawah-Nya dilihat sebelah mata oleh senior bangsa Yahudi.  ***





 Liturgia Verbi (B-I)

Hari Biasa Pekan Prapaskah V

Sabtu, 27 Maret 2021



Bacaan Pertama
Yeh 37:21-28

"Aku akan menjadikan mereka satu bangsa."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah firman Tuhan Allah,
"Sungguh, Aku menjemput orang Israel
dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi;
Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru
dan akan membawa mereka ke tanah mereka.

Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka,
di atas gunung-gunung Israel,
dan satu orang raja memerintah mereka seluruhnya;
mereka tidak lagi menjadi dua bangsa,
dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.

Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhala,
atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan,
atau dengan semua pelanggaran mereka.
Tetapi Aku akan melepaskan mereka,
dari segala penyelewengan mereka,
dengan mana mereka berbuat dosa.
Aku akan mentahirkan mereka,
sehingga mereka akan menjadi umat-Ku
dan Aku akan menjadi Allahnya.

Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya,
dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala.
Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku
dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia.
Mereka akan tinggal
di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub,
di mana nenek moyang mereka tinggal;
Sungguh, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka
akan tinggal di sana untuk selama-lamanya,
dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya.

Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka,
dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka.
Aku akan memberkati mereka dan melipat gandakan mereka,
dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka
untuk selama-lamanya.
Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka;
Aku akan menjadi Allah mereka
dan mereka akan menjadi umat-Ku.
Maka bangsa-bangsa akan mengetahui,
bahwa Aku, Tuhan, menguduskan Israel,
pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka
untuk selama-lamanya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Yer 31:10.11-12ab.13,R:10d

Refren: Tuhan Allah menjaga kita
seperti gembala menjaga kawanan dombanya.

*Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa,
beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh,
katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel
akan mengumpulkannya kembali,
dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya!

*Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub,
telah menebusnya
dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya.
Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion,
muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan Tuhan.

*Pada waktu itu
anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai,
orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira.
Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan,
akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.



Bait Pengantar Injil
Yeh 18:31

Buanglah dari padamu
segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku
dan perbaharuilah hati serta rohmu.



Bacaan Injil
Yoh 11:45-56

"Yesus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan
anak-anak Allah yang tercerai berai."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria,
dan yang menyaksikan sendiri
apa yang telah dibuat Yesus terhadap Lazarus
percaya kepada-Nya.
Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi,
dan menceriterakan kepada mereka,
apa yang telah dibuat Yesus itu.

Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi
memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul.
Mereka berkata, "Apakah yang harus kita buat?
Sebab orang itu membuat banyak mujizat.
Apabila kita biarkan Dia,
maka semua orang akan percaya kepada-Nya,
lalu orang-orang Roma akan datang,
dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."

Tetapi seorang di antara mereka,
yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu,
berkata kepada mereka, "Kamu tidak tahu apa-apa!
Kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu,
jika satu orang mati untuk bangsa kita
dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."

Hal itu dikatakan Kayafas bukan dari dirinya sendiri.
Tetapi, sebagai Imam Besar pada tahun itu, ia bernubuat
bahwa Yesus akan mati untuk seluruh bangsa;
bukan untuk bangsa itu saja,
tetapi juga untuk mengumpulkan dan
mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.
Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum
di antara orang-orang Yahudi.
Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun,
ke sebuah kota yang bernama Efraim.
Di situ Ia tinggal bersama murid-murid-Nya.

Waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat,
dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem
untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu.
Mereka mencari Yesus, dan sambil berdiri di dalam Bait Allah,
mereka berkata seorang kepada yang lain,
"Bagaimana pendapatmu?
Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

Demikianlah sabda Tuhan.

Lebih baik Menghindar dari penjahat daripada berhadapan yang dapat mematikan

*P.Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan Misa Harian

Jumat, 26 Maret 2021

Yer 20:10-13

Yoh 10:31-42


Mengapa Yesus Menghindari  orang Yahudi yang hendak membunuh-Nya saat Dia menyebut diri Anak Allah dan menyamakan diri sebagai Allah dan menghujat Allah, bukan ke tempat lain tetapi harus ke Sungai Yordan? 


Yesus memulai karya-Nya di bumi ini dibuka dengan pembaptisan-Nya di Sungai Yordan. Kalimat utama pada saat pembaptisan adalah "Inilah Anak-Ku yang terkasih kepada-Nya lah Aku berkenan." Yesus adalah Anak Allah. Karya-Nya adalah Karya Allah. Yesus berkata, "Aku dan Bapa adalah Satu. Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku."  

Tetapi orang Yahudi menuduh Yesus sebagai penghujat Allah. Pandangan monoteisme Orang Yahudi pada YAHWEH membuat mereka marah pada Yesus yang menyebut diri sebagai Allah. 


Yesus Menghindari orang Yahudi pergi ke Sungai Yordan tempat awal karya pelayanan-Nya di depan publik. Di Sungai Yordan inilah para Nabi mewartakan Pertobatan untuk percaya kepada Yesus Putera Allah. Yesus Menghindari orang Yahudi yang hendak membunuh-Nya ke Sungai Yordan dengan tujuan mulia yaitu melihat kembali karya-Nya untuk kebenaran yang memerdekakan dunia. 

Sungai Yordan adalah tempat pembaptisan-Nya dan di tempat inilah banyak orang yang percaya kepada-Nya seperti di dalam Injil hari ini. Yesus memurnikan dan mengokohkan kembali misi-Nya dan siap mewartakan kebenaran bahwa Diri-Nya adalah Sabda Allah yang hidup di antara manusia termasuk orang-orang Yahudi yang menolak dan bahkan hendak membunuh-Nya. 

Sabda itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Tetapi orang-orang Yahudi yang memiliki-Nya tidak menerima-Nya. Dia adalah terang yang sesungguhnya tetapi orang Yahudi dikuasai oleh kegelapan sehingga mereka menolak-Nya. 


Meskipun Yesus ditolak, persatuan-Nya yang kokoh dengan Bapa-Nya menjadi kekuatan sempurna dalam mengalami penolakan dan diancam untuk dibunuh oleh orang-orang Yahudi. 


Dalam bacaan pertama, Yeremia pun mengalami penolakan dan ancaman untuk dibunuh, sekalipun Yeremia mewartakan kebenaran Allah. Tetapi kekuatan satu-satunya Yeremia adalah Tuhan sendiri. Yeremia  berseru kepada Tuhan dan Tuhan membentenginya dan bahkan Tuhan mengutuk orang orang yang melakukan kejahatan terhadap dirinya.  Maka tepat sekali Mazmur tanggapan Hari ini, "orang yang berada di dalam kesesakan, berseru kepada Tuhan, pasti Tuhan mendengarkan suaranya." Orang benar di hadapan Tuhan pasti Tuhan memberikan solusi atas semua soal dan halangan yang diciptakan oleh tangan manusia. 


Kita menyambut Yesus dalam Ekaristi Kudus setiap hari. Yesus yang kita sambut itu adalah Allah sendiri, mengolah semua penolakan dan penghinaan secara tenang dan sangat dewasa. Kebenaran yang diwartakan-Nya ditolak oleh orang Yahudi yang adalah bangsa-Nya sendiri. Tetapi Yesus menerima penolakan itu dengan tenang. Yesus tidak frontal melawan orang Yahudi tetapi Yesus Menghindari mereka dan secara tenang mengolah penolakan itu secara baik di tempat yang tepat yaitu Sungai Yordan, tempat  awal tugas perutusan-Nya di depan publik. ***


†****************†********†*********†***†




Liturgia Verbi (B-I)

Hari Biasa Pekan Prapaskah V


Jumat, 26 Maret 2021


Bacaan Pertama

Yer 20:10-13


"Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah."


Pembacaan dari Kitab Yeremia:


Aku telah mendengar bisikan banyak orang,

"Kegentaran datang dari segala jurusan!

Adukanlah dia! Mari kita mengadukan dia!"

Semua sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh.

Kata mereka, "Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk,

sehingga kita dapat mengalahkan dia

dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!"


Tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah,

sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh,

dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Mereka akan menjadi malu sekali,

sebab mereka tidak berhasil;

suatu noda yang selama-lamanya tidak akan terlupakan!

Ya Tuhan semesta alam, yang menguji orang benar,

yang melihat batin dan hati,

biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka,

sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.


Menyanyilah untuk Tuhan, pujilah Dia!

Sebab Ia telah melepaskan nyawa orang miskin

dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.


Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan

Mzm 18:2-3a.3bc-4.5-6.7,R:7


Refren: Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan,

dan Ia mendengar suaraku.


*Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku!

Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku.


*Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung,

perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

Terpujilah Tuhan, seruku;

maka aku pun selamat daripada musuhku.


*Tali-tali maut telah meliliti aku,

dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

tali-tali dunia orang mati telah membelit aku,

perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.


*Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan,

kepada Allahku aku berteriak minta tolong.

Ia mendengar suaraku dari bait-Nya,

teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.


Bait Pengantar Injil

Yoh 6:64b.69b


Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.

Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal.


Bacaan Injil

Yoh 10:31-42


"Orang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus,

tetapi Ia luput dari tangan mereka."


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yonahes:


Sekali peristiwa

orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu.

Tetapi kata Yesus kepada mereka,

"Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku

Kuperlihatkan kepadamu;

manakah di antaranya

yang menyebabkan kamu mau melempari Aku dengan batu?

Jawab orang-orang Yahudi itu,

"Bukan karena suatu pekerjaan baik

maka kami mau melempari Engkau,

melainkan karena Engkau menghujat Allah,

dan karena Engkau menyamakan diri-Mu dengan Allah,

meskipun Engkau hanya seorang manusia."


Kata Yesus kepada mereka,

"Tidakkah ada tertulis dalam kitab Tauratmu

'Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?'

Padahal Kitab Suci tidak dapat dibatalkan!

Maka, Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan,

disebut allah,

masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa

dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia

'Engkau menghujat Allah!'

Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?

Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku,

janganlah kamu percaya kepada-Ku.

Tetapi jikalau Aku melakukannya

dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku,

percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu,

supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti,

bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."

Sekali lagi mereka mencoba menangkap Yesus,

tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan,

ke tempat Yohanes dulu membaptis orang,

lalu Ia tinggal di situ.


Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata,

"Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun,

tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."

Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.


Demikianlah sabda Tuhan.

Tuhan membutuhkan Tubuhmu dalam Melayani Secara tuntas

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD* 


Renungan Misa 

Hari Raya Kabar Sukacita

Kamis, 25 Maret 2021


Yes. 7:10-14; 8:10

Ibr. 10:4-10

Luk.1:26-38


Pada suatu waktu saya mengikuti retret Anak Muda karismatik seluruh Indonesia. Di antara begitu banyak acara, hanya ada satu acara yang paling berkesan sangat mendalam. Pencurahan Roh Kudus kepada peserta retret dengan bahasa Roh dan orang yang jatuh saat didoakan dalam bahasa Roh sebagai tanda orang tersebut telah menerima Roh Kudus. 

Menariknya kelompok kami, tak satupun yang mengalami resting ketika team retret berbahasa Roh mendoakan dan mencurahkan Roh Kudus atas diri kami. Usai acara ini lalu memasuki sharing tentang pengalaman saat didoakan dengan menggunakan bahasa Roh. 

Setiap anggota tanya tentang: mengapa ada yang resting tetapi ada yang tidak bisa resting dan kelompok kami adalah yang tidak bisa resting. Satu orang anggota secara khusus berkata mengapa tidak bisa resting?  

Secara spontan disampaikan jawaban oleh team bahwa kita tidak dapat memaksa Roh Kudus untuk ikut kemauan kita untuk bisa resting. Justru hanya kita yang dapat merendahkan diri di hadapan Tuhan dapat berkata bersama Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; tejadilah pada-ku menurut perkataan-Mu itu." 

Hari ini 25 Maret adalah Hari Raya Maria dikunjungi Malaikat Gabriel. Tepat 9 bulan kemudian mulai dari hari ini, 25 Desember Yesus lahir di Kandang Betlehem. Santo Yosef dan Santa Maria adalah orang tua Yesus atas dasar iman akan Sabda Allah yang menjadi manusia dalam Tubuh Maria. Tuhan membutuhkan Tubuh Maria untuk menyelamatkan dunia dalam diri Yesus yang dikandung Maria mulai Hari ini dalam kalender Liturgi Gereja Katolik. 

Kata- kata Maria  dalam fiatnya dan pengalamannya memberikan tubuhnya kepada Allah untuk mengandung Yesus yang menyelamatkan dunia ini menjadi dasar bagi kehidupan beriman kita bersama Maria yang menjadi Ibu Tuhan Yesus yang lahir, berkarya, derita di salib-Nya, wafat-Nya dan kebangkitan-Nya sebagai puncak Yesus menang atas maut. Sekaligus puncak keselamatan dunia.

Ekaristi yang dirayakan adalah sebuah perayaan syukur atas kemenangan Tuhan Yesus atas maut dan dosa.

Bacaan kedua menegaskan Yesus datang ke dunia sebagai utusan Bapa-Nya untuk melakukan kehendak-Nya dalam suka maupun duka. Mazmur antar bacaan pun menegaskan bahwa Yesus datang untuk melaksanakan kehendak Bapa di Surga. Ibu Maria datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Bapa di Surga.  Santo Yosef ada di dunia untuk setia dan taat pada kehendak Allah untuk kedatangan Yesus sang juru Selamat dunia.

Maria adalah Ibu Yesus sudah dinubuatkan oleh Yesaya di dalam bacaan pertama. Yesus adalah Emanuel artinya Allah selalu menyertai kita umat-Nya. ***


allah tuan Nebukadnezar vs Allah Sadrakh, Mesakh , Abednego

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Misa Hari Rabu 24 Maret 2021

Dan 3:14-20.24-25.28

Yoh 8:31-42


allah tuan Nebukadnezar vs Allah Sadrakh, Mesakh , Abednego



Dalam politheisme setiap  orang dari Suku bangsa memiliki wujud tertinggi masing-masing yang dipercaya dan dialaminya dalam konteks bahasa budaya masing-masing. Sedangkan dalam monoteisme semua orang secara universal mempercayai satu Allah yang dialami oleh setiap orang yang percaya kepada-Nya dan pengalaman akan Allah itu terpenuhi dalam pengalaman akan keselamatan dari Allah Esa yang memerdekakan. Dalam   Politheisme, seorang yang memiliki takhta, harta, dan keturunan atau dinastinya dapat menciptakan Dewa dalam bentuk patung dan memaksa bawahan yang dipimpin untuk menyembah allah-nya itu termasuk memaksa bawahan yang beragama monoteisme yang bukan ciptaan tangan manusia tetapi langsung dari Surga dari Allah sendiri.


Pengalaman akan Allah-nya Sadrakh, Mesakh & Abednego versus allah-nya tuan Nebukadnezar dalam bacaan pertama menampilkan buah yang bertolakbelakang. Agama tuan Nebukadnezar dengan allah/dewa, patung ciptaan tangan manusia sangat luar biasa menyesatkan bahkan membawa kematian bagi orang yang menganutnya. Sebaliknya Allah-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego memerdekakan mereka yang percaya kepada-Nya dan hal itu bukan teori atau kata dan tulisan semata, melainkan pengalaman akan Allah Esa yang secara nyata menyelamatkan saat mereka diikat dan dilemparkan ke dalam api yang bernyala-nyala panas tujuh kali lipat, karena tidak taat sembah dewa dan patung tuan Nebukadnezar itu. 


Allah Esa yang menyelamatkan Sadrakh, Mesakh, Abednego adalah Allah yang memerdekakan manusia. Pengalaman nyata Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang percaya pada Allah Esa yang memerdekakan ini adalah  secara jelas diteguhkan dalam  bacaan  Injil hari ini, dimana Yesus bersabda kepada orang Yehuda yang percaya kepada-Nya,

"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,

kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran,

dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."   Tuhan Yesus adalah satu-satunya Allah yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kit dan menyelamatkan kita yang percaya kepada-Nya. Keselamatan-Nya nyata lewat karya pelayanan, derita salibNya, kematianNya dan berpuncak pada kebangkitan-Nya. Allah kita yang memerdekakan kita melalui pengalaman manusiawi dari rahim Ibu, ke rahim bumi, dan kembali ke dalam rahim Surga lewat Salib, wafat dan kebangkitan-Nya puncak kemenangan Tuhan Yesus memerdekakan kita manusia. 


Ekaristi Kudus yang kita rayakan adalah perayaan makan Tubuh Kristus yang memerdekakan kita dari dosa-dosa kita lewat karya, derita salib, wafat dan kebangkitan-Nya. Kita makan Tubuh Kristus berarti kita hidup dari makanan gizi rohani yang kita makan. Artinya hidup, kata, aksi kita seperti Yesus sendiri dalam suka dan kesulitan apapun yang kita hadapi bahkan kesulitan itu adalah seperti Kuasa Nebukadnezar yang memaksa Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam bacaan pertama, kita tetap setiap pada Tuhan Yesus seperti Sadrakh, Mesakh & Abednego. Tuhan selalu memberkati. Salam sehat selalu.***

Ular Tedung Versus Ular Tembaga Musa

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Harian 

Selasa 23 Maret 2021

Bil. 21:4-9

Yoh.8:21-30


Apa Perbedaan Ular Tedung dengan Ular Tembaga dalam bacaan Suci hari ini? 


Setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya perbuatan jahat akan menghasilkan buah yang jahat pula. Ada hukum karma berlaku dalam kalimat di atas. 


Perbuatan dosa yang dilakukan Israel mendatangkan hukuman dari Allah. Tampak jelas di dalam bacaan pertama bahwa orang yang berdosa digigit Ular Tedung, pasti akan mati. Tetapi Musa membuat ular Tembaga yang ditinggikan untuk menyelamatkan Israel. Setiap orang yang memandang Ular Tembaga yang ditinggikan itu akan diselamatkan. 


Simbol Ular Tembaga Yang ditinggikan yang menyelamatkan itu adalah Salib Kristus sumber keselamatan kita yang percaya kepada-Nya. 


Dalam bacaan Injil secara jelas disampaikan, "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia,

barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia." Salib Kristus adalah Salib yang menyelamatkan bagi orang yang beriman kepada Tuhan Yesus. 


Kristus yang ditinggikan di Salib sebagai jalan keselamatan itulah kita terima dalam Ekaristi Kudus. Menyambut Yesus tersalib dalam komuni Kudus berarti hidup dalam Salib Kristus. Mengalami dan menikmati Salib Kristus dalam hidup setiap hari adalah sebuah jalan yang menyelamatkan diri. Kemana dan dimana pun kita berada di sana ada selalu Salib yang menjadi bagian dari hidup Kita masing-masing.


 Menerima dan menikmati Salib dalam hidup sungguh meringankan langkah maju  dalam hidup Kita sehari-hari.***

Apa persamaan antara Peran Daniel dan Yesus di dalam Bacaan Pertama dan Bacaan Kedua hari ini?

  *P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Renungan Harian Senin 22 Maret 2021


Bacaan Pertama

T.Dan 13:1-9.15-17.19-30.33-62

Bait Pengantar Injil

Yoh 33:11


Apa persamaan antara Peran Daniel dan Yesus di dalam Bacaan Pertama dan Bacaan Kedua hari ini? 



Ada dua pesan yang disampaikan oleh Pater superior general SVD, Paul Budi Kleden SVD tentang kematian konfrater SVD pada masa pandemik covid-19 ini adalah tidak boleh memanipulasi data dari pihak kesehatan professional  dan solider dengan sesama. Artinya bahwa kalau pihak kesehatan yang bekerja secara professional mengatakan bahwa kematian bukan karena positif  covid-19, harus dilaporkan ke pimpinan berdasarkan data itu atau sebaliknya kalau konfrater meninggal karena positif covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan secara professional, harus menyampaikannya secara jujur kepada pimpinan. Solider berarti kita mengikuti semua protokol kesehatan dari pemerintah, yang berlaku secara merata dan adil bagi semua penduduk di tempat kita masing-masing.  


Bacaan pertama dan Injil hari ini tampilkan Daniel dan Yesus yang tidak manipulasi data tentang dua perempuan didakwa berdosa. Daniel dan Yesus menyampaikan kepada publik  data yang sesungguhnya. 


Daniel memberikan data yang sebenarnya tentang Susana yang didakwa berdosa. Daniel meluruskan kesaksian palsu dari para saksi palsu yang memanipulasi data untuk menghukum Susana berdasarkan data palsu itu. Daniel utusan Tuhan, meluruskan semua data, membaharui data palsu menjadi data obyektif tentang Susana sehingga Susana diselamatkan berdasarkan data yang tepat dan benar dari Daniel.


Yesus menyampaikan data tentang wanita yang tertkangkap basah berzinah, siap dihukum oleh orang Farisi dan imam-imam, dengan berkata:"Barangsiapa tidak berdosa, dialah orang pertama yang melemparkan batu kepada orang berdosa ini. Yesus menuliskan kata-kata itu di atas Tanah. " Reaksi orang-orang Farisi dan imam-imam Yahudi sangat berbeda karena mereka bukan angkat batu, melainkan mereka angkat kaki-dosa mereka lalu berjalan pergi menjauh meninggalkan wanita yang tertangkap berzinah itu, lalu pergi satu persatu, mulai dari yang tertua, sehingga tinggallah Yesus sendirian dengan perempuan itu sendiri saja. Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, "Aku pun tidak menghukum Engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." 


Memanipulasi data seringkali bukan dari orang sederhana tetapi dari orang pintar dan pemimpin seperti dalam Bacaan Pertama, para tetua terkemuka yang memanipulasi data untuk menjerat Susana berzinah, dan dalam bacaan kedua tampak dalam diri orang Farisi dan imam-imam Yahudi yang membawa wanita yang katanya tertangkap basah berzinah kepada Yesus untuk dihukum hanya berdasarkan data dari mereka yang jelas-jelas mempersalahkan wanita itu sambil mereka menutupi salah dan dosa mereka sendiri. Yesus dan Daniel melawan data palsu itu dengan data yang benar. Sehingga Data obyektif itu menyelamatkan manusia. Tetapi data yang dimanipulasi sungguh sangat menyesatkan.***


Setia Berkorban Seperti Penguin

   *P.Benediktus Bere Mali,SVD* 


Renungan Hari Minggu V Prapaskah

21 Maret 2021


Yer.31:31-34

Ibr. 5:7-9

Yoh.12:20-33

 


Sangat menarik mengamati kesetiaan binatang Penguin. Penguin adalah hewan yang setia pada pasangannya.  Penguin  rela berkorban demi anak-anaknya sampai rela mengorbankan nyawanya. 


Tuhan setia pada umatNya dengan memberikan aturan yang melindungi dan menyelamatkan Umat yang dikasihi-Nya. Hukum itu pada mulanya tertulis di dalam loh batu atau di luar diri manusia. Kemudian hukum yang menyelamatkan itu ditulis dalam hati manusia seperti tertulis di dalam bacaan pertama. 


Allah menyelamatkan manusia lewat dekalog itu bukan sekedar ucapan dan tulisan tetapi hukum cinta kasih utuh yaitu cinta kepada Allah dan manusia itu telah hidup di  dalam diri Yesus. Yesus adalah Tuhan yang telah menjadi manusia untuk menyelamatkan dunia termasuk manusia yang berdosa, manusia yang tidak setia pada Allah yang selalu setia. 


Tuhan Yesus menyelamatkan manusia yang berdosa lewat karya pelayanan-Nya, derita salib-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya sebagai puncak Tuhan menyelamatkan umat manusia. 

Bacaan kedua  dan bacaan Injil menegaskan hal ini bahwa jalan derita salib, kematian dan kebangkitan adalah jalan Tuhan menyelamatkan manusia pendosa. Yesus bersabda: " ...Dan Aku, apabila sudah ditinggikan dari bumi (derita salib, wafat, bangkit) dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."


Ekaristi Kudus yang dirayakan setiap hari adalah perayaan Tuhan menyelamatkan Umat manusia melalui melayani secara tuntas yang berpuncak pada derita salib, kematian dan kebangkitan. Yesus mengorbankan diri-Nya secara tuntas untuk keselamatan orang lain itulah yang kita sambut dalam Ekaristi Kudus. Kita makan Tubuh Kristus adalah makanan iman kita pada Tuhan Yesus yang berkorban secara total untuk orang lain.  Nilai cinta yang berkorban untuk orang lain inilah kita jadikan dasar bagi nilai kita dalam melayani orang lain untuk keselamatan orang lain. 


Penguin adalah binatang yang cinta total pada anak-anaknya. Demi hidup anaknya, dia rela mati. Penguin kesstiaannya tentu bukan untuk anak Penguin yang lain. 


Tetapi Yesus bekerja, derita di Salib, wafat, bangkit untuk menyelamatkan semua orang. Tidak ada yang namanya ego-sektoral dalam program Tuhan Yesus. **




"Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar, dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Yer.11:18-20

Yoh. 7:40-53




"Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar, dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?"



Orang yang dituduh bersalah untuk dihukum harus didengarkan dan minimal harus ada dua orang saksi atas tuduhan itu dalam bangsa Yahudi. Kalau yang tertuduh mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan banyak orang yang bersaksi tentang dirinya tidak bersalah, maka tuduhan atas dirinya tidak dapat dilanjutkan untuk dihukum. Hal ini tampak dalam bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini.


Yeremia seorang nabi yang mewartakan kebenaran sesuai kehendak Allah. Tetapi ada begitu banyak orang juga yang menghalanginya bahkan membunuhnya. Perbuatan baik sesuai kehendak Allah tidak selamanya diterima oleh semua orang. Tetapi meskipun demikian, Yeremia tetap konsisten mewartakan kebenaran Allah untuk menyelamatkan dunia.


Dalam bacaan Injil Yesus adalah Mesias yang dipersiapkan kedatangan-Nya oleh para nabi baik dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru oleh Yohanes Pembaptis. Yesus tampil sebagai Mesias tetapi banyak orang yang menolak-Nya dan bahkan hendak menghukum-Nya berdasarkan hukum Yahudi karena Yesus Anak Tukang Kayu itu menyebut diri-Nya sebagai Mesias. Tetapi Nicodemus yang tahu baik hukum Yahudi, menantang orang-orang Farisi yang hendak menghukum Yesus itu dengan pola pikir berdasarkan hukum Yahudi bahwa Yesus harus didengarkan dan minimal harus ada dua orang saksi atas kesalahan Yesus agar pantas dihukum sesuai hukum Agama Yahudi. Cara berpikir Nikodemus ini sangat menantang orang Farisi yang hendak menghukum Yesus yang adalah Mesias, hanya berdasarkan pandangan mereka sendiri yang anti atau tidak suka lagi pada Yesus yang tampil menarik dalam mewartakan Kerajaan Allah di dalam Bait Allah Yerusalem. Dengan demikian pengikut Agama Yahudi pun memiliki peluang alternatif untuk lebih memilih mengikuti Yesus dan harus meninggalkan Agama Yahudi. 


Kita sebagai orang beriman  selalu berkomitmen berbuat baik bagi sesama di sekitar kita  sesuai kehendak Allah. Kita sadar dan siap  menerima setiap penolakan bahkan ancaman hukuman seperti Yesus dan Yeremia yang selalu setia melakukan yang terbaik kepada sesama di dalam tugas pelayanan, sekalipun ditolak dan diancam untuk dibunuh. Perayaan Ekaristi yang kita rayakan hari ini adalah pusat dan jantung iman kita, memberikan hidup kita untuk tetap setia pada Tuhan dalam suasana suka maupun duka.***



Hari Raya St.Yosef Suami SP.Maria

 *P.Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan 19 Maret 2021

2Sam.7:4-5a.12-14a.16

Mzm. 89:2-3.4-5.27.29; Ul:37

Rm.4:13.16-18.22

Luk.2:41-51a


Apa artinya di balik selalu diamnya St.Yusuf ayah Yesus di dalam bacaan Injil hari ini?


Setiap Orang yang membaca Kitab Suci dapat melihat dari berbagai segi tentang diamnya St.Yusuf  ayah Yesus di dalam seluruh Kitab Suci, sejak Yesus dikandung Maria, lahir di Kandang Betlehem, ke Mesir  ungsi bersama Yesus yang akan dibunuh oleh Raja Herodes karena kelahiran-Nya di Betlehem sebagai Raja Israel sesuai nubuat para nabi terdahulu, setelah Herodes mati, Yusuf bersama Yesus dan Maria kembali ke Nazaret, lalu Yesus yang hilang pada usia 12 Tahun dan ditemukan di dalam Bait Allah Yerusalem pada Hari Raya paskah Yahudi seperti di dalam Injil hari ini.  


Sejarah St. Yusuf yang selalu diam dalam keluarga Kudus Nazaret yang sangat partikukar persoalannya  ini sesungguhnya di baliknya mengandung  persoalan kemanusiaan yang sangat universal. 

Hal ini sangat sesuai bila pendekatan meta-historis digunakan untuk menyimak sejarah diamnya St. Yusuf di dalam seluruh Kitab Suci. Meta artinya di balik dan historis artinya sejarah. Meta-historis berarti di balik sejarah. Setiap sejarah partikular pasti ada unsur masalah kemanusiaan yang universal. Dalam konteks ini kita dapat dikatakan bahwa di balik sejarah diamnya St. Yusuf dalam seluruh Kitab Suci termuat masalah kemanusiaan universal sebagai nilai yang diperjuangkan dan sebagai tujuan. Dalam sejarah diamnya terjadi konflik nilai untuk kepentingan diri sendiri dengan nilai kemanusiaan universal. Misalnya Herodes ingat diri tidak mau diganggu oleh kelahiran Yesus sebagai Raja Israel sesuai nubuat ara nabi. Maka Herodes hendak membunuh Yesus. Tetapi Yusuf mengutamakan nilai kemanusiaan universal mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan Yesus. Mengapa hal ini terjadi di dalam diri Yusuf?


Yusuf memiliki relasi intim dengan Allah sangat kuat dan kokoh tidak terpatahkan. Tuhan memandu Sto. Yusuf menjadi suami Maria yang mengandung Yesus dari Roh Kudus dan menjadi ayah Yesus, dimana panduan itu disampaikan melalui komunikasi mimpi. Hal ini dilakukan Yusuf karena mengutamakan kepentingan kemanusiaan Maria dan Yusuf yang berkaitan dengan kebudayaan keluarga Yahudi, empati dengan Maria dan Yusuf, serta bertanggungjawab atas panggilan Tuhan melalui mimpinya. Tuhan bersabda kepada Yusuf dalam mimpi, dan Yusuf melakukan Sabda Allah tanpa kata, tanpa keluhan, selalu diam. Apa artinya jenis diam yang lahir dari St. Yusuf  ? 


Menurut refleksi saya, ada harapan besar St.Yusuf tentang Yesus dan harapan itu sejak Pertama kali Allah tampak dalam mimpinya menjadi suami Maria dan ayah Yesus. Harapan di balik sejarah diamnya Yusuf  inilah yang ditemukan di dalam bacaan-bacaan Suci hari ini. Saya sangat yakin bahwa dalam mimpinya Allah menyampaikan harapan besar di balik kehidupan keluarga Nazaret. Bacaan Pertama secara jelas lewat nubuat  Natan bahwa Yesus yang lahir dan hingga tampil berdiskusi dengan alim ulama dalam Injil hari ini adalah pemenuhan nubuat Nathan tentang Yesus seperti di dalam Bacaan Pertama. 

Yusuf sungguh berharap pada Yesus anaknya sebagai pemenuhan Perjanjian Lama, seperti harapan Abraham di dalam Bacaan kedua. 

Di balik sejarah diamnya Yusuf yang pestanya dirayakan hari ini sesungguhnya memiliki harapan yang berakar dalam Sabda Allah yang diterimanya melalui mimpinya. Yusuf memiliki dasar yang kokoh yaitu iman, harap dan kasih Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia.


Mari kita berdiam untuk belajar dari diamnya Yusuf bahwa ternyata di balik diamnya itu Yusuf memiliki harapan kemanusiaan universal. Ia diam,  tidak berkata atau berbicara tetapi ia selalu setia taat pada Tuhan yang memandunya dalam mimpi-mimpi untuk menyelamatkan Yesus sejak dalam rahim Maria sampai derita di Salib, kematian dan kebangkitan-Nya sebagai puncak Harapan Iman dan Kasih Yesus kepada kita manusia dan seluruh alam semesta. Sto. Yusuf doakanlah kami selalu.**

*****†********†********†******†

Liturgia Verbi (B-I)
HR S. Yusuf, Suami S.P. Maria

Jumat, 19 Maret 2021



Bacaan Pertama
2Sam 7:4-5a.12-14a.16

"Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia
takhta Daud bapa-Nya."

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Pada suatu malam
datanglah firman Tuhan kepada Natan,
"Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud:
Beginilah firman Tuhan:
Apabila umurmu sudah genap,
dan engkau telah mendapat istirahat bersama nenek moyangmu,
Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian,
anak kandungmu,
dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku,
dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya
untuk selama-lamanya.
Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.
Keluarga dan kerajaanmu
akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku,
takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 89:2-3.4-5.27.29,R:37

Refren: Anak cucunya akan lestari untuk selama-lamanya.

*Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,
hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun.
Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;
kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

*Engkau berkata,
 "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,
Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:
Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya,
dan membangun takhtamu turun-temurun."

*Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapakulah Engkau,
Allahku dan gunung batu keselamatanku.
Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia
dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh."



Bacaan Kedua
Rom 4:13.16-18.22

"Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap,
Abraham toh berharap dan percaya."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus
kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara,
Bukan karena hukum Taurat
Abraham dan keturunannya diberi janji
bahwa mereka akan memiliki dunia,
tetapi karena kebenaran atas dasar iman.

Kebenaran yang berdasarkan iman itu
merupakan kasih karunia belaka.
Maka janji kepada Abraham itu berlaku bagi semua keturunannya,
bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat,
tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham.
Sebab di hadapan Allah Abraham adalah bapa kita semua,
seperti ada tertulis,
"Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa."
Kepada Allah itulah Abraham percaya,
yaitu Allah yang menghidupkan orang mati
dan yang dengan firman-Nya
menciptakan yang tidak ada menjadi ada.

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap,
Abraham toh berharap dan percaya,
bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa,
sebab Allah telah berfirman kepadanya,
"Begitu banyaklah nanti keturunanmu."
Dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mzm 84:5

Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,
yang memuji-muji Engkau tanpa henti.



Bacaan Injil
Mat 1:16.18-21.24a

"Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Menurut silsilah Yesus Kristus,
Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria,
yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Sebelum Kristus lahir,
Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf.
sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati,
dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum,
ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika Yusuf mempertimbangkan maksud itu,
malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata,
"Yusuf, anak Daud,
janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu,
sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
Maria akan melahirkan anak laki-laki,
dan engkau akan menamakan Dia Yesus,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya
dari dosa mereka."
Sesudah bangun dari tidurnya,
Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu
kepadanya.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
Luk 2:41-51a
"Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Tiap-tiap tahun,  pada hari raya Paskah,
orang tua Yesus pergi ke Yerusalem.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun,
pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
Seusai hari-hari perayaan itu,
ketika mereka berjalan pulang,
tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orangtua-Nya.
Karena mereka menyangka
bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka,
berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya,
lalu baru mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan.
Karena tidak menemukan Dia,
kembalilah Maria dan Yusuf ke Yerusalem
sambil terus mencari Dia.

Sesudah tiga hari,
mereka menemukan Yesus dalam Bait Allah;
Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama,
sambil mendengarkan mereka,
dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Semua orang yang mendengar Dia
sangat heran akan kecerdasan dan segala jawab yang diberikan-Nya.

Ketika Maria dan Yusuf melihat Dia, tercenganglah mereka.
Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya,
"Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?
Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Jawab Yesus kepada mereka,
"Mengapa kamu mencari Aku?
Tidakkah kamu tahu
bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
Tetapi mereka tidak mengerti
apa yang dikatakan Yesus kepada mereka.

Lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret;
dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.
Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Apa persamaan antara Bacaan pertama dan bacaan Injil pada hari ini?

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Renungan Harian Kamis 18 Maret 2021

Kel. 32:7-14

Yoh. 5:31-37


Apa persamaan antara Bacaan pertama dan bacaan Injil pada hari ini? 



Setiap orang tua yang mencintai anaknya pasti marah terhadap anaknya yang bertindak salah di hadapan orang tua maupun di hadapan publik. Kemarahan itu berorientasi untuk membangkitkan kesadaran anak setelah salah kembali bertobat dengan meninggalkan kesalahan di masa lalu dan kini fokus pada hal yang baik sesuai kehendak baik arahan orang tua. Anak bertindak baik di depan orang tua dan di depan publik tujuannya untuk kebaikan dan keselamatan anak itu sendiri. 


Bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini memiliki persamaan yaitu  kemarahan Allah pada umat-Nya yang tidak setia pada-Nya.  Dalam bacaan pertama Allah murka pada Umat Israel yang telah dibebaskan dari penjajahan dan perbudakan di Mesir itu menyembah berhala pada patung lembu buatan tangan manusia. Tetapi berkat dialog Musa sebagai seorang pemimpin hebat bangsa Israel itu dengan Allah maka Allah menurunkan amarah, kemudian menyelamatkan Bangsa Israel dalam perjalanan-Nya dari perbudakan Mesir ke Tanah terjanji. Musa pemimpin hebat memandu bangsa Israel kembali setia di jalan yang yang benar seturut kehendak Allah. 


Bacaan Injil secara tegas bahwa Allah yang murka terhadap bangsa Israel dalam bacaan pertama itu telah menjadi manusia di dalam diri Yesus yang juga marah terhadap orang Yahudi yang tidak percaya kepada-Nya. Hal ini terungkap melalui mereka mempunyai telinga tetapi tidak mendengarkan Sabda Yesus. Mereka memiliki mata tetapi tidak melihat perbuatan dan tanda yang Yesus lakukan di hadapan mereka. Mereka percaya pada Musa yang bersaksi bahwa seorang nabi besar akan lahir dan orang Yahudi harus mendengarkan Dia yaitu Yesus sendiri yang telah menjadi nyata di dalam Bacaan Injil hari ini. Tetapi orang Yahudi tidak menerima-Nya. 


Kepercayaan orang Yahudi fokus pada Yahweh saja tetapi tidak percaya pada Yesus. Sedangkan kita percaya kepada YAHWEH yang telah menjadi  manusia di dalam diri Tuhan Yesus.


Kita percaya bahwa Yesus adalah wujud nyata Yahweh yang telah lahir dan sedang hadir di antara kita. Kita mau setia dalam iman kita kepada-Nya baik dalam suka maupun duka, baik dalam sukacita maupun dalam dukacita kita. Kita mau setia dalam kesuksesan dan kegagalan kita. Namun demikian bahwa bahaya terbesar bagi orang yang sukses adalah sering dikuasai oleh kesombongannya sendiri dan orang gagal terjerat oleh kegagalannya sendiri. Idealnya adalah orang yang semakin sukses semakin rendah hati selalu setia pada Tuhan Yesus dalam perkataan dan tindakannya. Dan orang yang pernah jatuh lalu bangun kembali melihat ke depan dengan penuh harapan untuk terus bergerak maju di dalam naungan Kasih Tuhan. Tuhan selalu mengalirkan Rahmat-Nya bagi kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua.***

Mengapa Yesus berani mengatakan bahwa semua yang dikerjakan-Nya sama seperti apa yang sedang dikerjakan Bapa-Nya setiap saat termasuk pada hari Sabat sehingga membangkitkan amarah orang-orang Yahudi yang telah bertahun-tahun lamanya hidup dalam tradisi hari Sabat dan dengan identiasnya beriman kepada Yahweh yang disembah di dalam Bait Allah?

 *P.Benediktus Bere Mali, SVD* 


Rabu, 17 Maret 2021

Yes. 49:8-15

Yoh. 5:17-30


Mengapa Yesus berani mengatakan bahwa semua yang dikerjakan-Nya sama seperti apa yang sedang dikerjakan Bapa-Nya setiap saat termasuk pada hari Sabat sehingga membangkitkan amarah orang-orang Yahudi yang telah bertahun-tahun lamanya hidup dalam tradisi hari Sabat dan dengan identiasnya beriman kepada Yahweh yang disembah di dalam Bait Allah? 



Revolusi mental yang dibangkitkan kembali oleh Presiden Joko Widodo saat ini tidak sedikit yang berusaha untuk menghalang-halanginya dengan berbagai cara paling simple sampai cara yang paling kompleks sulit dihadapi oleh Presiden Jokowi.  Menarik sekali bahwa meskipun demikian, demi kesejahteraan dan kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, revolusi mental terus dikerjakan dan mayoritas masyarakat Indonesia setia mendukung Presiden Jokowi demi kejayaan Indonesia maju selama masa kepemimpinannya. Hasil kerja nyata Presiden Jokowi yang sedang dialami masyarakat Indonesia saat ini meliputi tol laut dengan pembangunan pelabuhan  kapal laut secara merata di Indonesia, tol darat dengan jalan tol dan jalan kreta api secara merata di Indonesia, tol udara dengan membangun bandara di setiap daerah secara merata di seluruh Indonesia, pembangunan pintu masuk dan pintu keluar di setiap pintu batas negara Indonesia dengan negara-negara tetangga dengan Indonesia, merupakan bukti bahwa Presiden Jokowi sampai saat ini setia bekerja untuk keselamatan seluruh rakyat Indonesia. 


Yesus dan BapaNya bekerja sampai saat ini juga termasuk pada hari Sabat. Artinya Allah Bapa dan Yesus Putera-Nya bekerja setiap detik untuk keselamatan dunia. Yesus adalah Allah yang telah hadir di antara manusia dan sedang bekerja sampai saat ini. Karya-Nya untuk menyelamatkan kita Umat manusia tanpa kecuali. Allah selalu ingat kita Umat ciptaanNya sendiri. Dalam bacaan pertama menegaskan hal ini. "Sekalipun seorang Ibu melupakan anaknya karena berbagai alasan : kemiskinan, penolakan karena pemerkosaan, dll, tetapi sekali-kali Allah tidak melupakan kita." Allah Bapa begitu mencintai kita yang berdosa ini sehingga Putra-Nya yang tunggal diutus-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita. Dan setiap orang yang mendengarkan-Nya dan percaya kepada-Nya serta melakukan yang baik sesuai kehendak-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. 

Orang Yahudi semakin marah dan akan membunuh Yesus karena Tuhan Yesus melanggar aturan Sabat, menyebut diri Allah sebagai bukti penistaan Agama Yahudi yang menganut monoteisme pada YAHYEH  yang dimuliakan di Bait Allah Yerusalem. Penistaan itu berhubungan dengan Allah sedangkan pemfitnaan itu berhubungan dengan manusia beragama Yahudi dalam konteks ini juga Yesus yang beragama Yahudi memfinah diri sendiri bersama sesama seagama. Inilah perspektif Agama Yahudi. 

Tetapi dari kita yang percaya kepada Yesus, Yesus datang menyempurnakan Perjanjian Lama yang dianut Bangsa Yahudi. Bagi kita  Yesus adalah Perjanjian Baru yang kita rayakan dalam Ekaristi Kudus jantung hidup iman kita. 


Setiap hari kita mendengarkan Sabda-Nya dalam Ibadat Sabda dan menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam Ekaristi jantung kehidupan kita. Kita hidup sebagai orang beriman dari makanan rohani yang kita makan yaitu Sabda-Nya dan Tubuh Kristus dalam Ekaristi. Itu berarti kita hidup dan bertumbuh serta berkembang di dalam Kristus Yesus. Artinya bahwa kita memiliki otak seperti otak Yesus yang berpikir untuk keselamatan banyak orang bukan hanya ingat diri. Demikian juga perasaan Yesus berempati pada derita orang yang dijumpai dan dikayani-Nya menjadi teladan rasa empati kita bersama sesama menderita yang kita layani. Artinya Yesus merasa at home dalam Rumah Bapa-Nya yang bekerja sampai saat ini. Demikian juga kita yang saat ini sedang menjadi murid Yesus untuk bekerja seperti Yesus untuk keselamatan dunia, bukan hanya untuk selamatkan diri sendiri saja.***



Mengapa Yesus menyembuhkan orang sakit itu tanpa masuk ke dalam air kolam Betesda yang bergerak itu dan hal ini baru karena proses penyembuhan ini berbeda dengan orang lain yang disembuhkan dengan masuk ke dalam air kolam Betesda saat air itu tergoncang?

 *Pater Benediktus Bere Mali,SVD*


Renungan Misa Harian

Selasa, 16 Maret 2021


Yeh.47:1-9.12

Yoh.5:1-16


Semua orang sakit pasti hal Pertama dan utama yang ada dalam jiwanya (otaknya) adalah mau menyembuhkan diri dan disembuhkan. Injil hari ini tentang orang sakit yang mau menyembuhkan diri dan mau disembuhkan. Proses penyembuhan orang sakit dalam Injil hari ini sangat istimewa.

Semua orang sakit yang pertama masuk ke dalam  air kolam Betesda yang tergoncang itu pasti disembuhkan. Tetapi seorang sakit selama 38 Tahun dalam Injil ini tidak melalui proses penyembuhan tersebut.



Pertanyaan yang dapat ditemukan sangat simple tetapi bagi saya jawabannya sangat mendalam. 

Mengapa Yesus menyembuhkan orang sakit itu tanpa masuk ke dalam air kolam Betesda yang bergerak itu dan hal ini baru karena proses penyembuhan ini berbeda dengan orang lain yang disembuhkan dengan masuk ke dalam air kolam Betesda saat air itu tergoncang?


Yesus menyembuhkan orang ini di Yerusalem dekat Bait Allah Yerusalem tempat banyak orang datang ke Bait Allah Yerusalem untuk menyembah YAHWEH. Yesus menyembuhkan tanpa masuk air kolam Betesda karena Yesus adalah Air Hidup yang menyelamatkan orang Sakit yang beriman kepada- Nya. Yesus adalah Air Hidup yang mencuci dosa yang mengotori diri orang sakit. Hal ini terungkap dalam Injil hari ini ketika bertemu kembali dengan orang sakit yang disembuhkan itu di dalam Bait Allah, Yesus bersabda kepada orang Sakit itu:  "Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."  


Lalu Pertanyaan kita adalah  mengapa hal ini terjadi di Bait Allah?  Jawaban atas pertanyaan ini juga sangat penting karena sangat mendalam bagi iman kita. Orang Yahudi datang ke Bait Allah sebagai lambang Kehadiran Yahweh yang disembah. Nah Yesus  menyembuhkan di Bait Allah Yerusalem karena Yesus adalah Yahweh yang baru yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Yesus adalah Air Hidup yang menghidupkan dan menyembuhkan serta menyelamatkan. Yesus adalah Bait Allah yang hidup.


Ekaristi Kudus  adalah perayaan puncak keselamatan kita dalam diri Yesus yang melakukan tanda Mukjizat dan pewartaan khabar sukacita melalui derita di Salib, kematian, dan kebangkitan sebagai kemenangan atas dosa dan maut. Kita makan tubuh Kristus dalam komuni Kudus dalam Ekaristi. Kita hidup sebagai orang beriman,  sesuai Tubuh Kristus yang kita makan dalam Ekaristi Kudus. Itu berati kita memiliki jiwa(otak) seperti Yesus. Kita hidup berperasaan empati dalam melayani seperti Yesus. Kita bertindak secara teratur sesuai kehendak Allah seperti Yesus taat setia pada Bapa-Nya di Surga.  Kita memiliki Roh seperti Yesus memiliki Roh Kudus Bapa-Nya dalam tugas karya pelayanan kepada semua orang lintas batas. ***