"BURUNG-BURUNG BERKICAU MESKI HARI MASIH GELAP"

Keterlibatan Misioner Kita
Dalam Perspektif Harapan Kristiani

Paul Rahmat, SVD

“Burung-burung berkicau meski hari masih gelap”
(Rabin Tagore)


Selamat datang dan terima kasih untuk kesediaanya mengikuti acara rekoleksi ini.[1] Rekoleksi ini merupakan bagian dari seri kegiatan rekoleksi komunitas kita selama Tahun Centenial ini untuk mengenang seabad wafatnya St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz.

Tema rekoleksi kita pada sore ini adalah harapan kristiani. Kita coba merefleksikan tema ini dengan mengacu pada ensiklik Spe Salvi dari Paus Benedict XVI. Secara khusus, kita ingin melihat kaitan antara warta kabar gembira tentang „harapan kristiani“ dengan keterlibatan misioner dan tugas kerasulan kita dewasa ini. Secara sederhana dapat kita katakan, misi kita (Gereja, SVD) dewasa ini, tidak lain, ialah membawa „harapan“ bagi umat manusia dan dunia yang paling membutuhkan. Hal ini sejalan dengan harapan Bapa-bapa Konsili Vatikan II melalui Gaudium et spes yang mengatakan: „Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga“ (GS 1).

Kita akan merefleksikan tema ini pertama-tama dengan mengeksplorasi hakikat harapan kristiani dan jalan atau cara menghyati hidup dalam perspektif pengharapan kristiani. Kemudian kita akan melihat implikasi-implikasi praktis dari ajaran tersebut bagi hidup kerasulan dan keterlibatan misioner kita dewasa ini. Dan akhirnya, renungan ini akan ditutup dengan melihat sepintas atau belajar dari pengalaman hidup kedua orang kudus kita, St. Arnodlus dan Josef Freinademetz. Mereka adalah orang-orang biasa yang tidak hanya memiliki harapan tetapi juga memberi kesaksian tentang pengharapan bagi oranbg-orang sezamannya. Boleh dikatakan, mereka adalah saksi dan pelayan pengharapan.

1. Hakikat Harapan Kristiani

Apa itu „harapan“ dan secara khusus „harapan kristiani?“ Makna kata „harapan“ pertama-tama dapat dilukiskan secara metafor. Pujangga besar India, Rabin Tagore mengatakan „harapan“ adalah seperti „burung-burung berkicau di pagi hari meskipun hari masih gelap.“ Penulis buku spritual modern, Henri M. Nouwen, mengibaratkan harapan itu seperti seorang pelaut yang sedang berlayar di tengah samudra raya dengan biduknya yang kecil; di tengah ombak dan gelombang samudra itu ia masih melihat sebuah pulau dan mengarahkan biduknya ke sana. Sastrawan besar Rusia, Dotowjesky, melukiskan orang yang mempunyai harapan seperti seorang yang berada di dalam sebuah terowongan panjang dan gelap gulita, namun ia masih melihat seberkas cahaya lampu pada ujung terowong itu. Orang-orang yang punya harapan menyadari situasi „gelap“, terkadang penuh resiko dan berbahaya di sini dan kini, akan tetapi masih mampu „melihat“ sesuatu yang meng-gembirakan sekalipun masih sangat jauh, dan atas dasar itu mereka mengarahkan pandangan mereka ke depan dan mendayagunakan seluruh energi, kapasitas, dan semua resources yang mereka miliki untuk meraihnya.

Paus Benedict dalam Spe Salvi menegaskan bahwa harapan kristiani didasarkan pada iman. Dapat dikatakan, orang yang berharap adalah orang yang beriman. Perjanjian Baru memberi kesaksian tentang hal ini. Surat kepada Orang Ibrani, misalnya, mengaitkan „kepenuhan iman“ (Ibr 10:23) dengan „...berpegang teguh pada keyakinan tentang pengharapan kita“ (Ibr 10:23). Gereja Perdana membandingkan situasi hidup orang-orang sebelum dan sesudah mereka menjadi kristen. Sebelum berhubungan dengan Kristus melalui pembaptisan, mereka hidup „tanpa harapan dan tanpa (mengenal) Allah di dunia“ (Eph 2:12). Kepada umat di Tesalonika, Paulus mengatakan bahwa mereka tidak seharusnya „bersedih seperti orang lain yang tidak mempunyai harapan“ (1 Thes 4:13), yang tidak mempunyai masa depan. Esensi harapan kristiani bertumpu pada iman akan Allah yang benar yang mengubah dan membentuk hidup baru. Karena itu, harapan kristiani bersifat sekaligus performatif dan transenden. Performatif karena harapan yang dilandasi oleh iman akan Allah membentuk dan mewujudkan hidup baru dan dengan cara yang berbeda. Trasenden karena harapan kristiani melampaui harapan itu sendiri.

Aspek yang esensial dari harapan kristiani ialah kepercayaan akan keselamatan kekal yang dibawa oleh Yesus Kristus. Berbeda dengan orang-orang „kafir“, orang-orang krsiten perdana mempunyai masa depan dan percaya bahwa hidup mereka tidak berakhir dalam kehampaan atau kekosongan. Bagi orang-orang pada zaman modern ini, kata „hidup kekal“ seringkali menakutkan dan menganggap suatu keberadaan yang monoton dan tak berubah. Paus Benedict menegaskan bahwa hidup kekal tidak dimengerti sebagai suatu peredaran waktu yang terjadi satu sesudah yang lain dalam lingkaran musim atau kalender. Hidup kekal, demikian Spe Salvi, dibayangkan sebagai suatu moment kepuasan puncak (the supreme moment of satisfaction). Itu seperti menceburkan diri dalam lautan cinta yang tak berkesudahan, sebuah moment di mana waktu sesudah dan sebelumnya tidak eksis lagi. Inilah yang dinamakan „harapan kristiani.“

Secara retotrik ensiklik Spe Salvi bertanya: apa yang kita harapkan dan apa tidak dapat kita harapkan? Konteks dari pertanyaan ini, dan ini yang mau dikritisi dan ditantang oleh Paus Benedikt, adalah pemikiran atau kepercayaan orang-orang pada zaman modern ini yang mengantikan iman atau harapan akan keselamatan (hidup) kekal dengan bertumpu pada keyakinan (iman) akan kemajuan (pembangunan) dan teknologi. Kamajuan dan teknologi; pada satu sisi, memang menawarkan banyak peluang untuk hal-hal yang baik dan positif, namun, pada sisi yang lain, membuka kemungkinan kepada hal-hal yang jahat dan kekejaman yang menghancurkan. Pada sebuah lorong di kantor PBB, New York, dipamerkan sebuah patung manusia yang terbuat dari besi perunggu, diambil dari kota Hirosima pasca perang dunia II. Patung perunggu itu tampak luka memar, tersobek-sobek. Patung itu sengaja dipancangkan pada tempat umum untuk menunjukkan dan mengingatkan kepada para pengunjung akibat yang sangat kejam dari bom atom Hirosima. Patung itu merupakan sebuah saksi sejarah akan kekejaman dari sebuah „kemajaun dan teknologi“ yang menghancurkan dalam sejarah peradaban umat manusia abad 20.

Jadi, kembali kepada pertanyaan Spe Salvi tadi, apa yang boleh kita harapkan? Paus Benedict menjawab pertanyaan ini secara sederhana, namun tegas: “Marilah kita letakan persoalan ini secara sangat sederhana: orang membutuhkan Allah, jika tidak ia tidak mempunyai harapan.” Allah, dan secara eksplisit Yesus Kristuslah, dasar dan tumpuan harapan kristiani, juga dasar dan tumpuan harapan keselamatan bagi seluruh umat manusia dan dunia. Tema seluruh kunjungan pastoral Paus Benedict di Amerika Serikat minggu lalu adalah “Christ, Our Hope.” Tema ini cukup provokatif atau profetik mengingat sebagian masyarakat Amerika yang sekular atau sebagian orang beragama merasa skeptis akan akan hidup dan masa depan bumi kita dan ketika para scientist mengklaim ‘iman’ akan teknologi sebagai ‘penyelamat dunia’ dari ancaman global warming. Paus Benedict dalam Spe Salvi menegaskan keyakinannya bahwa Yesus Kristus adalah harapan satu-satunya bagi umat manusia dan dunia.


2. Jalan dan Praxis (Sekolah) Pengharapan

Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana kita menghyati hidup dalam perspektif pengharapan kristiani serta menumbuhkannya? Ensiklik Spe Salvi menawarkan 3 jalan di mana kita dapat „belajar“ (sekolah) mengalami dan menumbuhkan spiritualitas hidup dalam perspektif pengharapan ini, yaitu: doa, aksi (keterlibatan/komitmen) dan penderitaan.

a. Doa – sebuah sekolah pengharapan

Konteks atau setting (sikon) di mana kita belajar berharap ialah berdoa. Dapat kita katakan, doa adalah sebuah sekolah pengharapan. „Seandainya tidak seorang pun mendengarkan saya, Allah masih mendengarkan saya. Ketika saya tidak dapat berbicara dengan siapa pun, saya selalu dapat bercakap-cakap dengan Allah. Kalaupun tidak ada orang lagi yang membantu saya untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan yang melampaui kemampuan manusiawi untuk berharap, Allah dapat menolong aku. Ketika saya terbenam dalam kesendirian yang sempurna....; jika saya berdoa maka saya tidak pernah sendirian“ (SS 32). Pengalaman Nguyen Kardinal Van Thuan berada di penjara komunis Vietnam selama 13 tahun membuktikan kekuatan doa yang mampu menumbuhkan harapan dalam situasi-situasi batas yang tampaknya tiada harapan. Kardinal Nguyen masih dapat mendengarkan dan berbicara kepada Allah dan hal ini menumbuhkan harapan baginya yang memampukan dia, setelah keluar dari penjara, memberi kesaksian tentang pengharapan kepada dunia; suatu harapan yang lebih besar yang tidak terkalahkan oleh kekelaman malam-malam yang sepi di penjara komunis selama bertahun-tahun.

Mengacu pada homili St. Agustinus tentang surat pertama rasul Yohanes, Paus Benedict memperlihatkan hubungan yang begitu indah antar doa dan harapan. Bagi Agustinus, doa adalah sebuah latihan (exercise) menumbuhkan keinginan atau kerinduan. Manusia diciptakan untuk sebuah keagungan atau kebesaran – bagi Allah sendiri. Ia diciptakan untuk dipenuhi oleh Allah. Namun hatinya terlampau kecil bagi kebesaran itu yang telah ditentukan baginya. Ia harus dirombak, diperbesar. Dengan menganugerahkan rahmatNya, Allah meneguhkan keinginan kita; melalui keinginan itu Ia memperbesar jiwa kita dan dengan memperbesarnya Ia meningkatkan kapasitas kita untuk menerimanya.

Paus mengingatkan bahwa berdoa tidak menempatkan diri kita keluar dari sejarah atau pergumulan hidup sehari-hari dan menarik diri kepada urusan (bisnis) pribadi atau kesenangan privat. Ketika kita berdoa secara benar, kita akan mengalami proses permurnian (purification) yang membuka diri kita kepada Allah dan dengan demikian juga membuka diri kepada sesama manusia.

Untuk mengembangkan proses pemurnian itu, perlunya kita berdoa baik secara pribadi maupun menggunakan doa-doa umum gereja (doa liturgis). Pada satu sisi, doa merupakan suatu hubungan yang sangat personal dan intim dengan Allah, Allah yang hidup. Pada sisi yang lain, doa itu harus dituntun dan didisermen oleh doa-doa utama gereja, para orang kudus, doa liturgis. Sharing pengalaman Kardinal Ngunyen selama tahun-tahun di penjara menunjukan bahwa ketika ia tidak mampu lagi berdoa secara pribadi, ia hanya mengucapkan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Itu memberikan kekuatan baginya untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun di penjara serta menumbuhkan harapan hidup akan masa depan.

Berdoa, demikian Spe Salvi, pada akhirnya melibatkan dimensi personal (pribadi) dan publik. Kita dapat berbicara kepada Allah dan sebaliknya Allah berbicara kepada kita. Dengan cara demikian, kita melakukan proses permunian yang membuka diri kita kepada Allah dan kita dipersiapkan untuk menjadi pelayan (ministers) harapan bagi sesama. Kita dimampukan untuk membawa harapan yang besar, menjadi pelayan pengharapan bagi yang lain. Harapan kristiani selalu merupakan harapan bagi yang lain. Itu adalah sebuah harapan yang aktif, yang terlibat (an active hope), di mana kita berjuang mencegah hal-hal yang mengarah kepada tujuan atau akhir yang buruk atau jahat. Harapan kristiani itu adalah harapan yang aktif dalam arti bahwa kita mengupayakan agar dunia membuka diri bagi Allah. Hanya dengan cara itu harapan kristiani sungguh menjadi harapan umat manusia.


b. Aksi – keterlibatan

Semua usaha manusia yang serius dan benar merupakan harapan dalam aksi. Harapan dalam aksi atau keterlibatan/komitment adalah usaha-usaha untuk mewujudnyatakan harapan-harapan kecil atau besar, menyelesaikan pelbagai tugas dan tanggungjwab, yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kita, atau kita bekerja untuk membuat dunia ini semakin berwajah manusiawi dan bercahaya yang menawarkan harapan bagi masa depan.

Harapan itu harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar atau perspektif yang lebih luas. Hidup kita akan segera kehilangan harapan jika kita tidak dapat mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar mencapai sesuatu secara efektif pada periode waktu tertentu atau tidak lebih daripada yang dijanjikan oleh para penguasa politik dan ekonomi. „Kiranya penting untuk diketahui,“ demikian Paus Benedict, „bahwa saya dapat selalu berharap, sekalipun dalam hidupku atau dalam peridoe sejarah di mana saya hidup tampaknya tidak ada yang bisa diharapkan. Hanya keyakinan yang besar akan harapan bahwa hidupku dan sejarah pada umumnya, yang walupun tampaknya gagal semuanya, diteguhkan oleh kekuatan CINTA yang tidak berkesudahan.“ Harapan semacam ini akan memberi arti dan nilai bagi kita serta keberanian untuk bertindak, bertahan dan bertekun dalam segala kesulitan.

Iman dan harapan merupakan sumber inspirasi dan basis dari usaha-usaha kita mempersiapkan datangnya Kerajaan Allah di atas bumi ini. Tentu saja kita tidak dapat membangun Kerajaan Allah di dunia dengan usaha-usaha kita sendiri. Kerajaan Allah merupakan sebuah anugerah yang besar dan indah dan sekaligus menjawabi harapan kita. Kita tidak dapat menggapai langit dengan tangan kita sendiri atau menuai surga dengan upaya kita sendiri. Surga adalah sebuah pemberian, suatu hadiah dari Allah.

Akan tetapi, kalau kita sunguh sadar bahwa surga yang tinggi tidak bisa dipetik, juga benar bahwa kita tidak bisa bersikap dan berperilaku masa bodoh terhadap Allah dan karena itu juga tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap panggilan sejarah. Kita dapat membuka diri kita dan dunia dan membiarkan Allah masuk di dalamnya. Kita dapat membuka diri kita kepada Kebenaran, Cinta, dan Kebaikan. Inilah yang dilakukan oleh para orang kudus, yang memberi banyak kontribusi bagi keselamatan dunia. Kita dapat membebaskan hidup kita dan dunia dari berbagai kerancuan dan kontaminasi yang dapat merusak masa kini dan masa depan. Kita dapat mengeksplorasi sumber-sumber alam, dan menjaganya agar tidak rusak. Dengan cara ini kita dapat mengelola alam secara benar, yang diberikan sebagai anugerah bagi kita, menurut hukum-hukum intrinsik dan tujuannya yang sebenarnya. Dengan demikian, aksi-aksi atau keterlibatan kita, pada satu pihak, memberikan harapan bagi kita dan orang lain; pada pihak lain, harapan yang besar selalu bertumpu pada janji-janji Ilahi yang memberi kita keberanian dan mengarahkan aksi kita baik pada waktu yang baik maupun yang sulit.

c. Rela menderita

Seperti aksi, menderita adalah bagian dari eksistensi manusia. Penderitaan sebagian berasal dari kefanaan kita, dan sebagian disebabkan tumpukan dosa, yang terakumulasi sepanjang sejarah dan terus bertumbuh sampai hari ini. Ada upaya untuk mengurangi, membatasi dan memerangi penderitaan itu, tetapi kita tidak dapat melenyapkannya. Paus Benedict menegaskan bahwa kita dapat disembuhkan bukan dengan menghindari atau melarikan diri dari penderitaan, melainkan dengan kemampuan dan kerelaan menerima penderitaan, memamatangkan diri melalui penderitaan itu dan menemukan maknanya dengan menyatukan diri dengan Kristus yang menderita dengan cinta.

Menurut Spe Salvi, kemanusiaan kita secara esensial ditentukan dan diukur oleh hubungan antara penderitaan dan penderita. Ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Masyarakat yang tidak mampu menerima penderitaan dan tidak sanggup membantu membagikan penderitaan dan memberi kesaksian tentang penderitaan melalui belaskasih (compasio) adalah masyarakat yang kejam dan kurang manusiawi. Masyarakat tidak dapat menerima anggota-anggotanya yang menderita dan mendukung mereka jika individu-individu tidak sanggup menerima penderitaan mereka sendiri. Seorang Individu tidak dapat menerima penderitaan orang lain jika ia secara pribadi tidak mampu menemukan makna penderitaan itu; dalam konteks ini, penederitaan adalah suatu lorong (jalan) pemurnian dan pertumbuhan menuju pematangan diri, sebuah jalan pengharapan. Sesungguhnya, menerima orang lain yang menderita berarti saya menerima penderitaannya dengan suatu cara yang membuat penderitaannya itu menjadi (milik) penderitaan saya. Dengan demikian, penderitaan itu menjadi penderitaan yang dibagikan, disharekan dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain diresapi oleh cahaya cinta. Kata Latin “con-solatio” mengungkapkan secara indah penderitaan yang berbagi ini. Consolatio berarti berada bersama yang lain dalam kesepian (solitude), sehingga kesepian itu menjadi redup dan hilang.

Selanjutnya, kemampuan menerima penderitaan demi kebaikan, kebenaran dan keadilan merupakan kriteria yang esensial bagi kemanusiaan. Sebab, seandainya kesejahteraan dan rasa aman pribadi menjadi lebih penting daripada kebenaran dan keadilan, maka orang akan mudah jatuh dalam godaan akan kekuasaan yang sewenang-wenang kekerasan dan dan kejahatan. Kebenaran dan keadilan mesti berdiri di atas zona kenyamanan pribadi, jika tidak, hidup kita menjadi sebuah kepalsuan. Unsur fundamental dari kemanusiaan kita ialah rela menderita demi kebenaran dan keadilan; menerima penderitaan secara sukarela dan dengan cinta.

Pertanyaannya ialah sanggupkah kita menderita demi kebenaran dan keadilan dengan rela dan cinta? Iman kristiani menunjukkan bahwa kebenaran, keadilan dan cinta bukan sekadar sesuatu yang ideal, tetapi sungguh nyata, sebuah realita kehidupan. Itu dinyatakan oleh Allah yang rela menderita untuk kita dan bersama kita. Manusia begitu berharga di mata Allah sehingga Ia sendiri menjadi manusia supaya menderita bersama manusia atas suatu cara yang amat real – mendarah-daging – sebagaimana dinyatakan dalam passio Yesus. Di sini, dalam seluruh penderitaan umat manusia, kita dipersatukan oleh Yesus yang mengalami dan menanggung penderitaan bersama kita; di sini, consolatio dari cinta Allah yang berbelaskasih menjadi nyata. Dengan demikian cahaya pengharapan merekah.

Jadi doa, aksi dan penderitaan – ketiga-tiganya - adalah jalan dan cara bagaimana kita menghayati dan menumbuhkan pengharapan dalam hidup kita. Sekarang, kita mau melihat implikasi-implikasi parktis dari harapan kristiani bagi hidup kerasulan dan karya misi kita dewasa ini.


3. Implikasi bagi Keterlibatan misioner kita dewasa ini

Mari kita sejenak mengamati situasi sekitar kita, di tanah air kita dan situasi global untuk melihat relevansi dan signifikansi dari perspektif pengharapan ini dalam kaitan dengan tugas perutusan kita dewasa ini. Dalam konteks global, kita sedang berhadapan dengan banyak issue-issue besar yang mendesak di dunia: pemanasan global, AIDS-HIV, kelaparan, kemiskinan, pengrusakan hutan dan lingkungan hidup, bencana-bencana alam beruntun, perdagangan senjata, perdagangan anak dan perempuan, eksploitasi tenaga kerja asing, migrasi dari desa ke kota atau dari negara-negara berkembang (selatan) ke negara-negara maju (utara) yang membawa dampak yang serius dan berbagai konsekuensinya.

Persoalan-persoalan global ini menjadi nyata dan actual di negara kita. Setiap hari kita membaca koran atau menonton di TV. Kita mendapatkan kabar buruk, misalnya, kemiskinan dan pengangguran yang meraja lela, anak-anak yang mengalami gizi buruk, busung lapar, putus sekolah, sakit-penyakit; ibu yang bunuh anak-anaknya, bencana alam yang bertubi-tubi – banjir, tanah longsor, gempa bumi, Lumpur Lapindo; kelangkaan bahan pangan, kenaikan harga sembako; pengrusakan hutan, rusaknya jalan raya dan infrastruktur lainnya, maraknya praktek-praktek korupsi. Kita dapat terus menambahkan litani keprihatinan ini.

Melihat situasi keprihatinan tersebut, muncul pertanyaan: apa yang masih dapat kita harapkan di sekitar kita dan di dunia ini? Apakah hidup kita sebagai religius-biarawan dapat menawarkan sesuatu yang bisa menjadi tanda-tanda ‘harapan” bagi orang-orang dan dunia sekitar kita? Pesan apa yang kita bawa atau tawarkan bagi orang-orang yang tampaknya ‘kehilangan harapan’ akan hidup dan masa depan? Pertanyaan-pertanyaan ini mengarahkan kita pada 3 implikasi praktis dari harapan kristiani bagi hidup kerasulan dan karya misi kita dewasa ini.

Pertama, mengenai respons and keterlibatan misioner kita. Seperti yang ditegaskan oleh Spe Salvi, bahwa pada satu sisi kita tidak boleh bersikap masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan mendesak sekitar kita dan di dunia ini. Tetapi, pada isi lain, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak dapat menggapai langit dengan tangan kita sendiri atau menuai surga dengan usaha-usaha kita sendiri. Dalam kaitan dengan ini, Paus Benedict memperkenalkan istilah “harapan-harapan kecil” dan “harapan-harapan besar” yang dapat memotivasi kita dalam menanggapi situasi dan kebutuhan-keubuthan mendesak dewasa ini. “Harapan kecil” mengacu pada usaha-usaha atau tanggapan kita untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendesak sesama umat manusia dan dunia dewasa ini; membebaskan manusia, ciptaan dan dunia dari hal-hal merusak, menindas dan membelenggu martabat manusia dan wajah alam. Kita membuka ruang dalam diri kita, orang lain dan dunia agar Allah masuk dan KerajaanNya meraja di atas bumi ini. Tanggapan dan keterlibatan kita bisa menjadi tanda-tanda harapan – bagaikan setitik air bagi sebatang telaga yang merana di musim kemarau; tanggapan itu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga secara komunal dan institusional. Dengan kata lain, hati baik dan maksud baik saja tidak cukup; Perlu ada perencanaan dan strategi, kolaborasi dan management yang tepat agar kita dapat memberi respons secara efektif terhadap persoalan-persoalan tersebut dan dengan demikian mampu memenuhi harapan bagi yang paling membutuhkan. Kita perlu menggalang semua kekuatan, kapasitas dan resources yang kita miliki baik secara pribadi, komunal maupun institusional, untuk membawa dan mewujudnyatakan harapan kristiani itu di sini dan kini.

Pada pihak lain, “harapan besar” selalu bertumpu pada janji-janji Allah yang memberi keberanian dan arah dari semua aksi, perjuangan dan keterlibatan kita di dunia. Orang-orang kudus, seperti yang akan kita lihat pada St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz, atau Ibu Teresa dari Calcuta, mempunyai harapan-harapan yang dapat mereka tawarkan bagi orang-orang sezamannya melalui aksi dan keterlibatan mereka, namun mereka tetap bertumpu pada ‘harapan besar’ akan penyelenggaraan dan janji-janji Ilahi untuk memenuhi dan menyelesaikannya. Kata-kata ibu Teresa yang terkenal mengenai pelayanan bagi orang-orang yang paling miskin di antara orang-orang miskin yang hampir meninggal: “Aku dipanggil bukan untuk sukses, tetapi untuk setia.” Muder Teresa adalah orang yang memiliki harapan kristiani, dan atas dasar itu ia melakukan tugasnya dengan setia, entah menurut pandangan manusiawi pekerjaan itu gagal atau sukses, entah pada waktu baik atau pada masa-masa yang paling sulit.

Dalam kaitan dengan ini, kata-kata Uskup Oscar Romero patut kita kutip di sini:

“We accomplish in our lifetime only a tiny fraction of the magnificent enterprise that is the Lord’s work. We plant the seed that one day will grow. We plant foundations that need further development. We may never see the result…. We are the workers, not the master builders. We are the ministers, not the messiahs. We are the prophets of a future that is not our own.”
Kedua, mengenai inti harapan kristiani. Inti atau esensi pengharapan kristiani yang kita tawarkan bagi manusia dan dunia pada zaman ini bukan diri kita atau pekerjaan kita, bukan teknologi dan kemajuan modern, bukan juga ideologi-ideologi sezaman yang populis. Inti harapan kristiani ialah Allah sendiri – Alah yang berwajah manusiawi, yang hadir dan terlibat dalam sejarah umat manusia; yang menderita untuk dan bersama umat manusia. Dalam pencarian intelektual dan spiritual dengan penuh iman dan cinta, Paus Benedict meyakinkan kita bahwa Yesus Kristus adalah harapan kita, harapan seluruh umat manusia, harapan dunia. “Jesus Christ, our hope!”

Karena itu menjadi saksi dan pelayan harapan kristiani dewasa ini berarti mewartakan Kristus yang hidup atau memperkenal jalan-jalanNya. Kristus yang ditawarkan kepada dunia bukan terutama sebagai doktrin teologis, bukan ajaran filosofis yang abstrak, bukan sebagai sebuah ideologi alternatif melainkan sebagai seorang pribadi – pribadi yang hidup dan mencinta. Pengalaman para murid dan Jemaat-jemaat Kristen Awal seperti dalam kisah-kisah kebangkitan pada Perjanjian Baru dapat memberi contoh bagi kita. Petrus, Yohanes, Maria Magdalena, murid-murid Emaus, kesebelas rasul, Paulus, Stefanus, Philipus, para diakon adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus; mereka adalah saksi-saksi dan pelayan-pelayan pengharapan. Mereka memiliki sukacita, antusiasme, dan keberanian yang luar biasa untuk mewartakan Kristus yang hidup karena mereka telah mengalami perjumpaan secara pribadi dan komunal dengan Tuhan yang bangkit. Sekedar menyebut beberapa settings atau moment perjumpaan para murid dengan Kristus yang hidup: pada waktu memecahkan roti (ekaristi), dalam perjalanan menuju ke Emaus (sharing pengalaman), di tepi pantai danau Galilea (waktu menangkap ikan), pada saat pertemuan komunitas (rekoleksi para rasul) dan ketika menerima mandat perutusan dari Yesus di bukit Zaitun.

Dalam khotbah pada malam Paskah, P. Tony Pernia mengatakan bahwa kita bisa berjumpa dengan Kristus yang hidup secara pribadi justru pada saat kita menjalankan tugas perutusan, ketika kita dalam perjalanan mewartakan kabar gembira, ketika kita terlibat dalam tugas misioner kita seperti yang dialami para murid dan beberapa perempuan pada hari minggu Paskah. Komitmen missioner adalah settings yang memungkinkan kita mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan yang bangkit; Tuhan membiarkan diriNya untuk dijumpai di jalan, pada jalan misi; ketika kita berkomunikasi, berdialog dan terlibat dengan dengan orang-orang lain dalam tugas kerasulan dan pelayanan misioner kita.

Kapitel Jenderal SVD tahun 2000 telah menentukan „dialog profetik“ dengan keempat mata khas dari perutusan kita dewasa: kitab suci, komunikasi, animasi misi dan JPIC. Kapitel juga telah mengidentifikasi empat partner kita dalam dialog di jalan misi tersebut. Ketika kita berkomitmen melakukan „dialog profetik“ ini dan terlibat secara intens dengan rekan-rekan dialog kita di arena perutusan pada masa kini, di sana kita menemukan peluang untuk mengalami perjumpaan secara personal dengan Tuhan yang bangkit yang senantiasi berjalan bersama kita dan menyapa kita di jalan perutusan. Seperti pengalaman para murid, perjumpaan dengan Kristus yang hidup selalu membawa kegembiraan, pemahaman-pemahaman dan tantangan baru, semangat dan antusiasme, serta keberanian untuk menjadi saksi dan pelayan pengharapan „paskah“ bagi sesama dan dunia.

Ketiga, jalan pengharapan adalah jalan misi. Doa, aksi dan penderitaan adalah jalan pengharapan sebagaimana dianjurkan oleh ensiklik Spe Salvi. Itu juga adalah jalan untuk misi kita. Kita baik sebagai pribadi maupun sebagai korps (tarekat) dan gereja secara keseluruhan dapat menjadi tanda dan pelayan pengharapan kristiani melalui doa, keterlibatan dan penderitaan. Validitas kesaksian misioner kita dan pada akhirnya legacy dari harapan kristiani yang kita bawa bagi sesama dan dunia ditentukan dan diukur oleh ketiga elemen tersebut. Kesaksian hidup orang-orang kudus sepanjang sejarah, seperti St. Arnoldus, Josef Freinademetz dan Ibu Teresa dari Calcuta, menunjukan bahwa doa, keterlibatan missioner dan penderitaan sebagai konsekuensi dari komitmen iman dan keterlibatan dalam misi dapat menumbuhkan dan menyuburkan hidup kerasulan. Gereja menampakan vitalitasnya dan meningkatkan kapasitasnya untuk menjadi tanda dan sarana keselamatan bagi dunia, sakramen yang membawa berkat dan harapan bagi umat manusia melalui doa, keterlibatan yang nyata dan kerelaannya untuk menderita demi Cinta, Kebaikan, Kebenaran dan Keadilan.

4. Pelayan-pelayan Pengharapan

Ketika kita mengenang dan merayakan seabad kematian St. Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz, bagaimana kita melihat dan melukiskan kehidupan dua orang kudus kita ini dalam kacamata harapan kristiani? Mari kita melihat beberapa aspek dari sosok kepribadian dan hidup kerasulan mereka yang kiranya relevan dengan tema permenungan kita.

P. Peter Mchugh, pada sebuah refleksi dalam rangka perayaaan Tahun Centenial, mengatakan: “Arnold Janssen: the wrong person, at the wrong time, in the wrong place!” Ia adalah “the wrong person” karena tidak memiliki kualitas kepribadian yang normal yang diperlukan untuk mendirikan sebuah rumah misi bagi tarekat-tarekat misi internasional. Seorang teman kelasnya berkomentar: “dari teman-teman sekelas kami, Arnold Janssen adalah orang terakhir yang boleh Anda pertimbangkan untuk tugas itu.” Ia memulai rencananya itu pada “waktu yang salah” karena pada tahun 1870-an ada kesulitan besar bagi gereja-gereja di Jerman karena situasi politik Kulturkampf. Banyak pemimpin gereja dipenjarakan, paroki-paroki tanpa imam dan tarekat-tarekat religius dilarang oleh pemerintah Jerman. Ia mendirikan rumah misi itu pada “tempat yang salah” karena situasi politik pada masa kulturkampf, ia harus melintasi batas negara dan mendirikan rumah misi untuk berbahasa Jerman di luar tanah airnya sendiri.

Walaupun demikian, Arnold Janssen – seperti metafor dari Dotowdesky - adalah seorang yang mampu melihat seberkas cahaya pada sebuah ujung terowong yang gelap. Sekalipun situasi gereja dan sosial politik pada zaman Kulturkampf membuat banyak orang skpetis, dan tidak ada tanda-tanda yang menggembirakan, Arnoldus Janssen dengan visi iman yang teguh dan jauh ke depan, ia berani memulai suatu terobosan besar dengan langkah awal yang amat sederhana. Ia mendirikan rumah Misi Steyl hanya dengan mengandalkan penyelenggaraan Ilahi melalui doa yang tekun dan komitmen yang tinggi. Karena komitmen misionernya itu tidak jarang ia mengalami penderitaan lahir dan bathin.

Sekarang, kita beralih kepada St. Josef Freinademetz. Saya terkesan dengan sebuah gambar tentang Josef Freinademetz. Gambar itu melukiskan Shenfu Josef duduk dan bercakap-cakap dengan seorang anak kecil China sambil menunjukkan tangannya ke atas, ke langit. Barangkali ia sedang mengajar agama atau katekese tentang surga atau Allah kepada bocah itu. Gambar tersebut merupakan artifak, suatu illustrasi tentang hidup dan komitmen misioner seorang Josef Freinademetz. Kualitas kepribadian dan komitmennya untuk misi menggarisbawahi hidup yang dilandasi dan dimotivasi oleh iman dan pengharapan kristiani. Dapat dikatakan, kesalehan pribadi, keutamaan-keutamaan yang dihanyati Josef Freinademetz serta keterlibatan yang total untuk misi merupakan „harapan dalam aksi.“ Mari kita perhatikan beberapa hal berikut untuk menjelaskan hal tersebut:

Ø Ia beralih dari imam praja bergabung dengan Arnold Janssen untuk menjadi seorang misionaris; Ia meninggalkan tanah Tyrol yang indah dan berangkat ke tanah asing Tiongkok
Ø Ia menanggalkan pakaian dan kebiasaan sebagai orang Eropa dan mengenakan pakaian orang China dan belajar mengenal dan mencintai bahasa, makanan, adat-istiadat orang-orang Asia.
Ø Pada tahun 1900, Arnoldus Janssen mengundang Freinademetz ke Eropa untuk merayakan 25 tahun rumah misi di Steyl. Ia dengan rendah hati menolak undangan itu karena ia justru memilih untuk tetap tinggal di tanah misi yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan besar, dianiaya oleh kaum Boxer China yang anti orang-orang barat dan misionaris Eropa.
Ø Berdoa berjam-jam bahkan sampai larut malam di depan Sakramen mahakudus, juga ketika kembali dari perjalanan asistensi pastoral yang amat meletihkan.
Ø Setia dan tekun menjalankan katekese umat, melakukan kunjungan pastoral umat pda stasi-stasi yang jauh dan sulit, mengajarkan dan mendidik katekis denan sabar, menerima tugas dan tanggungjawab kepemimpinan baik dalam tarekat maupun gereja, setia bersama umat dalam situasi yang sulit dan penderitaan yang mereka alami.
Ø Sabar menanggung penderitaan ketika ia dibenci, dicurigai, dianiaya, jatuh sakit typhus yang akhirnya merenggut nyawanya.

Josef Freinadmetz melakukan transformasi diri atau peralihan (passing-over) sebagai “perjalanan pengharapan” tidak hanya secara fisik-geografis dan sosio-kultural (the outer journey of hope), tetapi juga secara spiritual (the inner journey of hope); Pada lapisan paling bawah dari proses transformasi ini ialah keyakinan iman dan harapan yang teguh untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang-orang tak beriman yang menjadi mainstream teologi pada waktu itu.

Arnoldus Janssen dan Josef Freinademetz memiliki komtimen untuk misi dengan iman dan harapan yang teguh dan dengan segenap hati, jiwa, spirit, dan tubuh yang terkadang rentan dan fragil. Mereka adalah saksi dan pelayan pengharapan bagi orang-orang sezamannya, bahkan melampaui generasinya. Mereka adalah orang-orang yang mampu „melihat“ seberkas cahaya lampu dalam terowong yang gelap; ibarat burung-burung yang bernyanyi di pagi hari ketika bumi terselimut oleh kepekatan malam.

Memiliki harapan kristiani berarti memiliki hidup baru yang dibentuk, diubah dan dituntun oleh pengharapan itu. Para rasul, orang-orang kudus, St. Arnoldus Janssen dan St. Josef Freinademetz tidak hanya memiliki harapan untuk disimpan bagi mereka sendiri, tetapi harapan mereka itu dishare dan dibagi kepada orang lain dan dunia. Dengan cara itu, mereka menjadi saksi dan pelayan pengharapan.

Dengan cara yang sama, kita juga dipanggil menjadi saksi-saksi dan pelayan-pelayan pengharapan ketika umat manusia dan dunia sekitar kita membutuhkan harapan itu, suatu kebutuhan yang real dan urgent. Karena, seperti kata St. Paulus, manusia dan dunia „diselamatkan dalam pengharapan” – Spe salvi facti sumus (Rom 8:24).





Doa Pembukaan Rekoleksi


Allah Bapa,
Engkau mencipta setiap orang menurut citramu
dan menempatkan tiap orang di bumi ini dengan suatu tujuan

Tuhan Jesus Kristus,
Engkau rela mati bagi kami
dan memanggil dengan nama kami masing-masing
untuk menyelesaikan tugas penebusanmu.

Allah Roh Kudus,
Engkau membantu kami untuk melaksanakan pekerjaan,
untuk apa kami dicipta dan dipanggil.

Dalam kehadiranMu yang kudus dan dalam namaMu:
Bapa, Putera dan Roh Kdus,
kami memulai rekoleksi komunitas kami ini.

Semoga semua pikiran, pemahaman, dan inspirasi
dalam permenungan ini berasal dariMu
dan dipersembahkan untuk kemuliaan namaMu.

Amin.







Rekoleksi Komunitas SOVERDI

Acara Adorasi

Lagu Pembukaan – pentakhtaan Sakramen mahakudus
Doa Salve: Paskah II .... diselingi dengan lagu-lagu dan hening....musik instrument
Pujian Malam: tema pengharapan
Pemberkatan sakramen
Lagu penutup
[1] Rekoleksi Komunitas SOVERDI dalam rangka Perayaan Tahun Centenial, pada hari Senin, 21 April 2008