Kotbah Misa Hari Minggu 4 Nopember 2012



KASIH  ITU
HUKUM  PERTAMA DAN UTAMA

Ul 6:2-6; Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34
Kotbah Misa Hari Minggu,
Minggu 4 Nopember 2012
Di Kapela St. Maria Ursulin
Jln. Darmo Surabaya

(Rm. Benediktus Bere Mali, SVD

Pada hari ini Gereja melalui Kalender Liturgi dan Perayaan Ekaristi mengingatkan kita bahwa di antara begitu banyak tawaran hukum, di antara begitu banyak aturan yang ditawarkan, di antara begitu variasinya iklan, di antara begitu banyak adat istiadat dan budaya yang ditawarkan kepada kita dalam dunia multicultural yang menyertai perjalanan kehidupan kita, hanya satu yang utama dan terutama yaitu Hukum Kasih.


Hukum Kasih itu diungkapkan di dalam tanda tambah Salib Yesus. Mengapa Tambah bukan kurang atau bagi atau kali Salib Yesus itu? Ada dua hal perlu kita dalami dalam renungan hari Minggu ini. Salib Itu Tambah. Yesus menambahkan pada diri kita yang utama dan terutama yaitu KASIH. Kalau kita sudah mempunyai yang lain-lainnya tetapi tanpa Kasih itu berarti kita masih mengalami kekurangan yang pertama dan yang utama. Kalau kita sudah doa, devosi, karunia Roh, berbahasa Roh, donatur terbesar, tetapi belum mempunyai kasih itu berarti kita masih mengalami kekurangan yang  pertama dan utama yaitu KASIH. Kalau kita kekurangan Kasih maka dengan ditambahkan KASIH yang nyata yang kita lihat pada TANDA TAMBAH YESUS DI SALIB. 

Orang yang memiliki Kasih adalah orang yang mengimani Yesus yang menderita, wafat di Salib dan kemudian bangkit.  Apa artinya SALIB puncak kasih Tuhan kepada kita dan model Kasih kita kepada Tuhan dan sesama? SALIB berarti Saat Aku Lemah Ingat Bapa (Allah). Dengan mengingat Allah dalam keadaan yang lemah, berupa godaan dari dalam dan luar diri, seluruh tenaga terfokus pada Bapa di Surga sumber kekuatan dan keselamatan. Pada saat manusia mengandalkan Tuhan di situ Kasih menjadi nyata di dalam hidupnya. 


MENGASIHI adalah intisari bacaan – bacaan suci pada hari ini. Mengasihi adalah kata kerja aktif, dibentuk dari kata dasar KASIH.  Saya saat menyiapkan renungan ini, mencoba membayangkan KASIH itu seperti apa dan coba saya mengatakan bahwa KASIH itu lebih dapat dimengerti seperti ini. Saya mencoba mengertinya dengan memberikan singkatan dari kata KASIH yang dibentuk dari lima huruf, K, A, S, I, H. Huruf K disingkat Kehendak. Huruf A disingkat Allah. Huruf  S disingkat Selalu. Huruf I disingkat Isi. Huruf H disingkat Hatiku,  Hatimu, Hati Kita, Hati Semua Orang.   Dengan demikian kata KASIH singkatan dari KEHENDAK ALLAH SELALU ISI HATIKU-MU-KITA-SEMUA.  Dengan kata lain, KASIH berarti Kehendak Allah memenuhi diri-ku-mu-kita-semua.


Kalau kita membayangkan Kasih itu seperti makanan yang setiap hari kita makan dan minuman yang setiap hari kita minum maka orang yang dipenuhi oleh kehendak Allah, adalah juga orang yang kenyang akan Kehendak Allah sang penyelamat. Orang yang dipenuhi Allah adalah orang yang memperoleh kekuatan yang penuh dalam melaksanakan segala sesuatu yang menyelamatkan diri dan sesama serta alam semesta.


Perutusan kita adalah perutusan KASIH. Kehendak Allah Selalu Isi Hatiku-mu-kita-semua adalah intisari karya Pelayanan kita. Menjalani tugas dan karya Pelayanan ini, merupakan sebuah perjalanan yang tidak selalu mulus. Tantangan ataupun hambatan selalu dijumpai entah itu datang dari dalam diri sendiri, ataupun datang dari luar diri kita.

Hambatan itu dikenal atau saya sebut dengan kata ANTI. Kata ANTI saya singkat demikian. Aku Nekat Tanpa Ilahi (Allah). Anti radikal adalah aku nekat tanpa Ilahi (Allah) dalam pikiran, kata dan perilaku. ANTI radikal berarti orang sama sekali putus hubungan atau kontak dengan Allah.

Ini menjadi musuh utama dalam pewartaan KASIH. Menghadapi keadaan seperti ini, dalam dunia yang semakin maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kita dapat melembutkan orang yang ANTI Kasih dengan kesaksian hidup. Peran performatif dari seorang pelayan Tuhan menjadi kekuatan utama dalam karya Pelayanan kasih kepada dunia dan sesama. Hal ini berarti seseorang sungguh memiliki KASIH. Kehendak Allah Selalu Isi Hatinya dalam segala tempat dan situasi.


Kita mengalami ANTI dalam Menyebarkan KASIH. Tetapi kita selalu memberi KASIH dengan teladan hidup, kepada mereka yang ANTI sebab itulah membuat KASIH kita semakin SEMPURNA.

Kasih itu pertama dan utama dari yang lain termasuk iman dan harapan. Maka seorang anak yang memiliki Kasih, dia mengutamakan studinya, masa depannya, kuliahnya, jadwal kuliahnya. Seorang ayah memiliki Kasih sebagai yang utama dan pertama, maka dia harus mengutamakan pekerjaannya, keluarganya dari yang lainnya. Seorang ibu yang memiliki Kasih, maka dia mengutamakan kesehatan dan pendidikan anak-anaknya. Seorang imam mengasihi Allah maka dia harus mengutamakan imamatnya daripada yang lain-lainnya.

Kasih artinya KEKUATAN KEHENDAK ALLAH SELALU ISI  (MENGISI) HATI-KU-MU-KITA SEMUA. Di dalam orang yang memiliki KASIH tiada kata ANTI yang berarti Aku Nekat Tanpa Ilahi (Allah).

Kotbah Harian Misa, Kamis 25 oktober 2012



KUALITAS DALAM OTONOMI DAERAH.
(Ef 3:14-21; Luk 12:49-53).
Kotbah hari kamis,  25 Oktober 2012  
di Kapela  Soverdi St. Arnoldus Surabaya.

(Rm. Benediktus Bere Mali, SVD).

Kita mengenal aneka pandangan hidup dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada kesempatan ini ditampilkan prinsip politisi dan prinsip kenabian. Ada prinsip politik yang mengatakan bahwa yang abadi adalah kepentingan. Tetapi prinsip kenabian mengatakan bahwa yang abadi adalah yang benar adalah benar, yang salah adalah salah, dalam takaran firman Allah. Dalam dunia politik, demi kepentingan pribadi, yang salah bisa dibenarkan dan yang benar disalahkan. Kepentingan pribadi yang dimaksud adalah kalau politisinya dari daerah A, maka kepentingan daerah A menempati posisi pertama, dari yang lainnya, walaupun melalui cara-cara yang tidak halal. Dalam dunia politik yang sedang menekankan otonomi daerah ini, soal kualitas personal urutan kesekian, sedangkan yang diutamakan adalah orang seasal, sesuku, sehobi, sabakat, seperasaan, yang memberikan rasa aman dalam kehidupan perpolitikan. Nah di sinilah peluang bagi para politisi untuk menumbuhkan sikap dan perilaku KKN secara aman. Hanya dengan sikap dan prinsip kenabian, tembok sikap dan prilaku KKN digonggong dengan sikap kritis demi sebuah pembaharuan.


Kita memang di satu pihak merasa senang dengan adanya prinsip otonomi daerah yang sedang dikembangkan di tanah air, mulai dari daerah pedesaan sampai perkotaan, karena ada tempat istimewa bagi masyarakat setempat untuk menempati posisi-posisi sentral di dalam kepemimpinan. Hanya satu hal yang tidak disadari adalah dalam penerapan otonomi daerah melupakan kualitas personalia di dalam menempati posisi-posisi kunci untuk kesejahteraan bersama.

Salah satu contoh nyata yang dijalankan untuk membangkitkan kesadaran akan pengutamaan kualitas personalia di atas otonomi daerah, adalah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode lima tahun ke depan, dari luar Jakarta. Contoh ini sekaligus sebagai satu paradigma yang mengutamakan kualitas personalia di dalam kepemimpinan, bukan berdasarkan sesuku, seagama, sedaerah, sekota. Contoh ini akan cepat atau lambat, akan bergerak mulai dari pusat Jakarta menuju seluruh pelosok Indonesia dari sabang sampai merauke, untuk mengutamakan kualitas personalia dalam menduduki posisi kunci bagi kemajuan rakyat di dalam segala segi kehidupan.

Penerapan prinsip mengutamakan kualitas personalia dalam menempati jabatan jabatan kunci, pasti mendapat reaksi yang beragam, ada yang mengafirmasi, tetapi ada saja yang menegasi. Mereka yang sudah mapan hidup dengan otonomi daerah, suku, adat, agama, tanpa memperhatikan kualitas, pasti menegasi yang menekankan kualitas personalia dalam kepemimpinan. Sebaliknya mereka yang mengutamakan bobot personalia di dalam menduduki jabatan-jabatan sentral untuk kesejahteraan bersama, pasti dengan antusiasmenya mengafirmasi seratus persen upaya dan penerapan kualitas personalia dalam menempati posisi-posisi sentral guna mengambil keputusan untuk kesejahteraan umum.

Yesus datang ke dunia membawa misi yang mengutamakan kualitas personalia dalam memimpin diri dan sesama dalam kriteria diriNya yaitu untuk kepentingan keselamatan banyak orang. Maka segala pandangan dan prinsip yang mengutamakan egoisme pribadi, suku, adat, daerah tertentu, harus dikritisi untuk membangun kesadan bersama akan gerakan bersama membangun untuk kesejahteraan umum dalam arti fisik dan keselamatan universal dalam arti rohani.

Misi keselamatan universal melintas batas itu diungkapkan dalam paradigma Tuhan Yesus dalam sabdaNya ini: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi” Api berfungsi untuk membuat sesuatu lebih baik dan berguna untuk hidup dan kehidupan manusia. Misalnya api memasak beras menjadi makanan untuk dimakan manusia agar hidupnya berkelanjutan. Api juga berfungsi membakar dan menghanguskan serta meghancurkan.

Dalam arti rohani, api membakar habis semua prinsip hidup yang mengutamakan egoisme, agar yang ada adalah prinsip kesejahteraan umum dan keselamatan universal. Kesejahteraan umum dan keselamatan universal ini adalah kerinduan dan harapan semua manusia di seluruh dunia. Untuk menerapkan itu di dalam realitas hidup nyata setiap hari, kita tidak mengharapkan hal itu jatuh turun dari langit dan atau tumbuh dari dalam tanah. Kita membutuhkan personalia yang berbobot untuk memimpin dan mengatur secara baik dan benar dalam merealisasikan kesejahteraan bersama dan keselamatan universal di dalam kehidupan bersama mulai dari komunitas basis keluarga, komunitas biara, sampai di seluruh dunia. Apakah kita terbuka terhadap sesama yang hadir sebagai pewarta Sabda Yesus: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi” di dalam komunitas basis Gerejani, komunitas biara, pastoran, paroki, masyarakat, bangsa dan negara bahkan dunia? Keterbukaan terhadap sikap kritis anggota sebuah komunitas adalah awal yang baik untuk pengalaman akan kesejahteraan bersama dan keselamatan universal.

PERSELINGKUHAN AKAR KEKERASAN DALAM KELUARGA

Bagaimana Menyelesaikan Perselingkuhan Dalam Adat Suku Bunak?

P. BENEDIKTUS BERE MALI, SVD


Suku Bunak di Asueman seratus persen beragama Katolik. Setiap hari Minggu umat Katolik merayakan Ibadat Sabda atau Perayaan Ekaristi. Tetapi NS ( Nosa selingkuhan T) dan T (suami sah Y baik secara adat suku Bunak maupun berdasarkan hukum Gereja Katolik) yang beragama Katolik merayakan cinta monyet di atas motor WIN dan berpuncak di Asuulun. Saksinya adalah D (saudara Y) dan L (Saudara sulung Y). Y (isteri sah T) sudah bertahun-tahun mengalami kekerasan yang dihujankan T atas dirinya. Anak-anaknya yang masih kecil melihat kekerasan ayah (T) terhadap mama (Y) tercinta, hanya dengan menggugurkan airmata kesedihan. Puncak kekerasan itu ternyata berakar perselingkuhan T dan NS. Berikut proses permainan cinta monyet yang direkam lewat saksi kunci D dan L atas permainan cinta monyet T dengan NS.

Pada hari Minggu 29 Agustus 2010 terjadi kekerasan dalam sebuah keluarga suku Bunak di Dusun Asueman, Desa Aitoun, Kecamatan Raihat. Pada pagi hari, suami (T) memukul isteri (Y) lalu suami (T) menggunakan motor Winnya keluar Rumah. Anaknya (A ) melihat T memuat seorang NS menuju ibu kota Kabupaten Belu. Anak A tidak tega melihat mamanya dipukul sakit lalu ayahnya T pergi dan memuat nona selingkuhannya menuju ke ibukota. Anaknya A memberikan informasi kepada keluarga Y di kota Atambua dan sekitarnya untuk menanti kedatangan T dan Nona selingkuhannya (NS) di ibukota. Keluarga Y itu adalah D dan L. D dan L menunggu di Pasar Lama Atambua mengenakan helm masker sambil mengamati motor T dan NS dari kampung Asueman. Informasi lewat SMS itu sangat tepat dan selang beberapa jam, Motor WIN yang dikendarai T dan dibelakangnya NS datang memasuki ibu kota Kabupaten. D dan L selalu membuntuti motor Win dari belakang mengikuti arah T dan NS.

Tibalah mereka di Asuulun dan masuk ke dalam kios-kios yang menjual makanan dan minuman ringan di sana lalu T dan NS menikmati makanan ringan itu sambil memainkan cinta monyetnya. D dan L memarkir motornya di tempatnya yang agak jauh dan mulai menelpon keluarga dan saudara saudari Y. Selang beberapa menit, D dan L pun membuka helm maskernya tepat di depan T dan NS yang sedang memainkan cinta monyet di tempat rekreasi Asuulun.

T dan NS kaget dengan kedatangan D dan L yang mengaborsi permainan cinta monyet mereka. Muka merah dan pemberontakan nurani T dan NS mulai bermain. Mau lari tak mampu, tidak mengaku pun tidak bisa. T sudah mempunyai empat anak dan sudah mempunyai dua cucu. Pemberontakan nurani bertubi-tubi menghantuinya dan kini masalah menjadi lebih rumit dan urusan adat akan memakan banyak korban. Korban tenaga, pikiran, materi dan membuang-buang waktu untuk mengurus adat permainan cinta monyet T dan NS.

Urusan adat itu melibatkan tiga pihak besar. Suku Y, suku T, dan Suku NS. T berada pada posisi serba salah. Beban adat ganda harus ditanggung T. Beban adat T terhadap Y sebagai isteri sah secara adat dan Gereja Katolik. Beban adat T terhadap NS sebagai anak gadis yang belisnya harus ditanggung T dan keluarga suku T. Kenikmatan cinta monyet sesaat mendatangkan penderitaan dan korban serta beban adat ganda, berupa korban binatang dan uang yang diperoleh dalam bekerja bertahun-tahun. Ini adalah kebodohan yang tidak perlu. Kenikmatan sesaat mendatangkan kerugian yang berlipat ganda. Nasib anak-anak semakin buram karena biaya hidup dan biaya sekolah anak-anak tersedot dan dialirkan kepada pelunasan beban adat karena permainan cinta monyet T dan NS sesaat.

Demikianlah perayaan cinta monyet di atas motor WIN dan di tempat rekreasi Asuulun sesaat mendatangkan kerugian ganda yang harus melibatkan banyak orang dari suku T, Suku Y, dan suku NS. Pembangunan sumber daya manusia dalam keluarga Y dan T mulai menuju kekerdilan. Tentu semua keluarga tidak mengharapkan peristiwa serupa terjadi di dalam keluarga idamannya. ***

KOTBAH BERKAT RUMAH

Berkat Gembala Memberi Rahmat Berlimpah Atas Rumah Ini




*Rm. Benediktus Bere Mali, SVD*




Bapa Ibu saudara dan saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus…



Kita semua pernah menimba ilmu di pendidikan formal. Buktinya kita mendapat Surat tanda lulus atau ijazah resmi dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. Dengan bukti itu, kita dapat melamar dan diterima untuk bekerja di kantor atau perusahaan-perusahaan ternama.
Seorang imam secara liturgis ditahbiskan oleh Uskup. Bukti bahwa seorang imam tertahbis harus ada surat legal dan tanda tangan uskup pentahbis, sehingga Pelayanan imam tertahbis secara hukum diakui dan diterima, baik ketiga berkarya di dalam Negeri maupun berkarya di luar Negeri sebagai seorang misionaris.


Pada malam hari ini, kita merayakan Perayaan Ekaristi di dalam rumah baru ini. Pengesahan rumah oleh Allah, dalam Perayaan Ekaristi ini, membawa rahmat ganda kepada keluarga ini. Pertama,Iman akan kehadiran Allah yang memiliki kasih, persahabatan, damai, dalam rumah ini, di dalam diri anggota keluarga ini. Kedua, Pengesahan ini meneguhkan iman keluarga ini agar dalam suka dan duka, keluarga ini tetap setia pada Tuhan dan sesama dalam keluarga ini. Ketiga, keluarga ini menjadi teladan iman bagi sesama dilingkungan ini, di tempat kerja dan dimana saja keluarga ini berada.


Hari ini Yesus mempersembahkan rencana muliaNya kepada Tuhan dalam doaNya di Gunung Tabor. Setiap langkah Yesus akan dilaksanakan setelah mendapat pengesahan Allah BapaNya sendiri. Satu ide yang menonjol dalam pesta Yesus dimuliakan di atas Gunung Tabor adalah Ia akan ke Yerusalem untuk kematianNya di atas Kayu Salib sebagai jembatan jalan menuju kehidupan bahagia abadi di Surga. Ide ini mendapat pengesahan dari Allah BapaNya di Surga, dalam Sabda Allah dari dalam Surga: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Pengesahan Allah ini terjadi di Tabor, disebut Gunung Kemuliaan Allah. Pengesahan itu adalah langkah penting dan menentukan yang Ia akan ambil.


Pengesahan itu akan diakui kalau ada saksi. Dalam aturan yang berlaku pada zaman Yesus itu, setiap pengesahan akan diakui kalau paling minimal ada dua orang saksi yang memberi tandatangan asli atas pengesahan itu. Pengesahan misi Yesus oleh Allah BapaNya di Surga dalam SabdaNya, diakui dan diterima karena ada dua tokoh besar dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi yang menjadi saksi yaitu Musa dan Elia. Siapakah kedua saksi ini?
Musa adalah seorang tokoh besar agama Yahudi yang memberikan Hukum yang besar kepada Israel. Sepuluh Perintah Allah diberikan oleh Musa kepada bangsa Israel. Sedangkan Elia adalah seorang yang paling besar di antara nabi-nabi. Pengesahan ini mau menyatakan kepada Yesus agar Ia berjalan terus dan melanjutkan segala sesuatu yang telah ditetapkan. Ia berangkat ke Yerusalem untuk menderita dan mati di salib lalu bangkit dari antara orang mati adalah ketetapan Bapa. Dan apa yang Ia kerjakan adalah suatu penyempurnaan dari segala kehidupan dan pemikiran dan karya dari bangsaNya, bahwa Allah juga sudah mengesahkan langkah-langkah yang Ia telah ambil.

Transfigurasi atau perubahan rupa Yesus dimaksudkan untuk meneguhkan hati /iman ketiga rasul inti itu yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus, agar mereka tidak goyah imannya apabila menyaksikan kesengsaraan Yesus nanti. Transfigurasi ini pun menjadi tonggak penghiburan bagi para rasul di saat-saat mereka mengalami kesengsaraan dan kesulitan dan menjadi jaminan kemuliaan dan kebahagiaan yang akan mereka alami di Surga, sebagai yang telah dijanjikan Yesus.


Inilah pengesahan visi keselamatan dan misi menuju keselamatan melalui via dolorosa. Peristiwa iman akan kebahagiaan melalui jalan salib Tuhan memberikan kekuatan sekaligus inspirasi kepada kita untuk selalu menimbah kekuatan Tuhan dalam mengalami penderitaan yang kita alami. Tuhan menderita untuk banyak orang. Pengorbanan Tuhan harus menjiwai setiap tugas karya Pelayanan kita dimana saja kita berada. Ini kekhasan kita sebagai pengikut Yesus sang guru kita.


Inspirasi: Dan 7:9-10.13-14. 2 Ptr 1:16-19 . Luk 9:28b-36. MT. 97 : 1-2.5-6. 9. Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya di Tabor. Meditasi Persiapan Misa di Soverdi Jumat Pertama 6 Agustus 2010. Pemberkatan Rumah di Wilayah Rungkut.

“NILA SETITIK MERUSAK SUSU SEBELANGA”


* Rm. BENEDIKTUS BERE MALI, SVD*
Setiap kita pernah melakukan pekerjaan yang sempurna. Saat itu kita tentu mendapat penghargaan yang baik dari sesama di sekitar yang menyaksikan hasil pekerjaan dan menikmati hasil pekerjaan kita. Kita juga pada saat yang berbeda dapat melaksanakan tugas-tugas kita secara asal-asalan sehingga hasilnya tidak menarik perhatian banyak orang yang kita jumpai dan melihat hasil pekerjaan kita. Hasil pekerjaan buruk yang kita tampilkan mendatangkan hujan penilaian yang buruk bahkan sangat kasar menutupi sejuta keberhasilan yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun lamanya. Kita melakukan sebuah kesalahan menghapus sejuta perbuatan baik yang menarik berjuta-juta orang yang memberikan apresiasi yang luarbiasa. Menyesal kemudian tiada berguna.

Petrus adalah gambaran sosok manusia yang digambarkan di atas. Dia ketika memberikan jawaban yang bagus dan benar menurut penanya, dia diberi kepercayaan oleh penanya untuk melaksanakan tugas besar yang diberikan kepadanya. Sebaliknya ketika dia menjawab pertanyaan penanya secara amburadul tidak sesuai dengan harapan penanya, dia diberi label bodoh dan bahkan disebut setan iblis. Kepercayaan kepada Petrus dan penilaian terhadap Petrus sebagai iblis ini memberikan inspirasi kepada kita. Kita ingat akan peribahasa ini, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Peribahasa ini berarti sebuah kesalahan cilik dapat menghancurkan bangunan kebaikan yang dikerjakan selama bertahun-tahun. Peribahasa ini memang memberikan inspirasi yang berat bagi kita untuk memiliki kepekaan untuk tetap memelihara kebaikan dan kebenaran yang sedang kita miliki melalui perjuangan yang panjang selama bertahun-tahun.
Kita jatuh dalam banyak hal. Kita jatuh karena kita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Ada kejatuhan yang membuat kita bisa bangkit lagi. Ada kejatuhan yang membuat kita tidak berdaya sama sekali dalam paradigma tertentu. Meskipun demikian, kita masih mempunyai sebuah peluang untuk kembali membangun kembali kehancuran kebaikan kita akibat kesalahan kita sendiri. Peluang itu tidak ditemukan dalam diri manusia. Peluang berat itu ada dalam diri kuasa Roh Allah sendiri. Kuasa Roh Allah itu akan terlaksana dalam diri manusia yang memiliki lahan kerendahan hati dalam dirinya. Kerendahan hati itu membuka peluang bagi Allah mengalirkan rahmat pembaharuan yang berat dalam diri manusia yang memiliki kerendahan hati. Aliran rahmat Roh Allah itu akan mengalir deras dari medan yang lebih tinggi kepada arah yang lebih rendah. Pandangan kita menuju kepada Allah Roh Kudus di tempat yang tinggi yang mengalirkan rahmatNya yang memperbaharui bangunan hati manusia yang memiliki kerendahan hati.

Marilah kita memiliki modal kerendahan hati yang berat bagi Allah Roh Kudus yang mengalirkan rahmatNya yang berat ke dalam diri kita. Kerendahan hati adalah syarat mutlak untuk berubah dan diubah Tuhan Yesus. Mari kita memiliki harta kerendahan hati untuk memperoleh kekayaan rahmat pembaharuan dalam Tuhan.***


Meditasi persiapan misa hari Kamis 5 Agustus 2010
Di Soverdi Surabaya. Matius 16 : 13 -23. Yer 31 : 31 – 34. MT. 51:12-13.14-15.18-19

BERMIMPI MENJADI "ORANG". BERMIMPI MENJADI "MAN"

Rm. Benediktus Bere Mali, SVD.



Orang Tua yang mempunyai mimpi pasti mengharapkan anak-anaknya menjadi orang. Orang dalam bahasa Inggris MAN. MAN dapat disingkat sebagai berikut.M singkatan dari Money. A singkatan dari Autority. N singkatan dari Name. Menjadi orang berarti memiliki uang, kekuasaan dan nama besar. Entah sadar atau tidak sadar setiap orang tua memimpikan anak-anaknya menjadi orang, menjadi MAN.

Ada banyak anak yang menanggapi mimpi orang tuanya dengan baik dan positif. Ungkapan rekasi positif itu dengan rajin bekerja, rajin berdoa dan rajin belajar. Ada banyak anak yang menjadi orang. Ada banyak anak yang menjadi kaya, mendapat kedudukan dan menerima Nama Besar. Singkatnya ada banyak anak yang menjadi "kaya".



Ada dua sikap manusia yang bisa ada setelah seseorang menjadi kaya. Kekayaan dilihat sebagai sarana bukan tujuan. Bisa juga orang bersikap seperti ini. Kekayaan duniawi dijadikan tujuan. Seseorang yang kaya bisa meyembahberhala kepada kekayaannya. Orang seperti ini dikenal atau disebut orang yang serakah atau orang yang tamak. Ciri khas orang yang tamak adalah mengumpulkan harta kekayaan duniawi tanpa mengalami sebuah kepuasan dan sulit sekali atau bahkan tidak sama sekali untuk membagikan harta duniawi kepada sesama sekitar yang paling berkekurangan dan paling membutuhkan pertolongan sesamanya.


Tuhan secara kreatif menegur orang-orang yang berada pada tingkat ketamakan pribadi atau dalam keserakahan kepribadian. Semakin banyak harta kekayaan duniwi akan mendatangkan ketidaknyamanan di waktu malam. Orang kaya Memikirkan hartanya sampai tidak dapat tidur karena takut hartanya dicuri orang. Untuk masuk ke dalam kemuliaan Kristus di Surga orang harus mematikan makhluk ketamakan atau keserakahan dalam rumah kediaman hatinya. Rumah hatinya harus membuka diri dan mengucapkan selamat datang kepada makhluk kaya dalam Tuhan Yesus untuk tinggal dan berdiam di dalam rumah hatinya. Orang seperti ini dikenal atau disebut dengan orang yang kaya secara spiritual.

Mereka yang disebut orang yang kaya secara spiritual memiliki keunikannya tersendiri. Beberapa keunikan yang dimiliki orang yang kaya di hadapan Allah adalah memiliki semangat solidaritas yang tinggi dalam hidup keberimanannya. Orang yang kaya spiritual adalah mereka yang bekerja secara tekun, sabar dan disiplin untuk mendapatkan harta kekayaan duniawi secara wajar dan lewat cara yang normal serta rela membagikan atau memberikan harta kekayaannya kepada sesama yang sangat membutuhkan pertolongan agar mereka juga berkecukupan sehingga mereka juga boleh mengalami rahmat pemberian Tuhan yaitu harta kekayaan itu. Oranga yang kaya dalam Roh Allah adalah orang yang membagikan harta berupa kemampuan, talenta, kekayaan ilmu pengetahuan, tenaga, kepada pengutamaan kesejahteraan orang lain disamping memperhatikan kesejahteraan dirinya. Orang yang kaya di hadapan Tuhan selalu mengalami kesukacitaan yang mendalam dalam Bimbingan Tuhan, dan itu lahir atau mengalir keluar dari kerelaan berbagi kepada sesama melintas batas, kepada sesama yang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongannya. Hal ini lahir dari pola berpikir hidup keberimanan yang mengakui Allah yang tak kelihatan menampakan diriNya dalam wajah sesama yang hadir dan hidup bersama dimana dan kapan saja. Inilah rasa syukur dan terimakasih manusia kepada Tuhan pemberi aneka harta kekayaan kepadanya, lewat berupaya menggandakan hartanya dan solidaritas kepada sesama manusia.


Sumber akar kekuatan sikap solider manusia beriman berasal dari iman akan solidaritas Allah yang dirayakan dalam setiap liturgi ekaristi. "Terimalah dan makanlah inilah TubuhKu yang Kuserahkan bagimmu. Terimalah dan minumlah inilah piala darahKu yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa." Semoga iman kita ini memandu kita untuk memiliki semangat berbagi dalam hidup berkomunitas kita dan dalam hidup tugas dan karya pelayanan kita kapan dan dimana saja. *****




- INSPIRASI dari Hari Minggu Biasa XVIII Tahun C II.
Bacaan Pertama dari Kitab Pengkhotbah 1:2,2:21-23.
Mazmur 90:3-4,5-6,12-13,14,17.
Bacaan II dari Kolose 3:1-5,9-11.
Injil Lukas 12:13-21.
Kotbah ini disampaiakan di Kapela Soverdi Surabaya
Minggu 1 Agustus 2010, dalam Perayaan Ekaristi Kudus.
Umat yang hadir:
Dr. Eduardus Dosi SVD.
Provinsial SVD Jawa.
P. Thoby Kraeng Muda SVD,
P. Kletus Hekong SVD.
P. Fritz Meko SVD.
P. Klemens Amaunut SVD.
P. Dominikus Baok, SVD.
Dan Para tamu di Soverdi Surabaya.

KASIH ALLAH YANG MENGUBAH

RM. BENEDIKTUS BERE MALI,SVD

Tema besar yang ditampilkan dalam Bacaan-bacaan Suci pada peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus sahabat-sahabat Tuhan ini adalah “ALLAH ADALAH KASIH”. Kasih berarti Memberi. Kasih Berarti Memberi. Kasih Berarti Memberi. Dalam konteks peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus ini, secara konkret Yesus memberi kehidupan kepada Lazarus yang sudah kehilangan hidup atau mati secara fisik, sehingga dia memperoleh kembali hidup sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan sendiri.

Mujizat kebangkitan Lazarus ini adalah TANDA Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai sumber hidup di sini dan pada masa yang akan datang, kepada Marta. Yesus bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup, walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.” Pernyataan diri Tuhan Yesus ini meneguhkan dan mengokohkan iman Marta kepada Yesus sang Mesias, Anak Allah, Pemberi Hidup Abadi bagi Manusia. Secara khusus Tuhan Yesus memberi hidup kepada Lazarus, sebagai contoh konkret ALLAH ADALAH KASIH, pusat iman kita.

Hari ini kita mendoakan P. ANTON RIBERU SVD yang telah meninggal pada 28 Juli 2010 di Rumah Sakit Umum Kupang. Kita juga berdoa bagi Bapak RAFAEL MALI yang meninggal dunia di rumah kediamannya di MEMOLI, DESA AITOUN, pada hari SENIN SORE 26 Juli 2010. Kita juga berdoa bagi Mama MARTINA BUI yang meninggal pada hari ini Jumat 30 Juli 2010 di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya. Pada hari Kamis malam 29 Juli 2010, Persiapan sempurna lewat, Pater Benediktus Bere Mali, SVD memberikan minyak Suci kepada MAMA MARTINA BUI sebelum memasuki perjamuan Tuhan di Surga. Sakramen Perminyakan Suci yang diterima Mama Martina Bui lewat tangan terurapi Imam Pater Benediktus Bere Mali SVD telah mengampuni dosa dan kesalahan Mama MARTINA BUI.
Mereka yang kita doakan ini adalah umat Tuhan yang memiliki Kepercayaan dan kesetiaan yang mendalam kepada Tuhan Yesus yang mereka imani. Kita dapat menakar keimanan kedua samasaudara ini lewat pengabdian dan kesetiaannya kepada sesama yang mereka jumpai, yang mereka layani, dan mereka cintai. Pater Anton Riberu SVD mengungkapkan cintakasih dan kesetiaannya dalam panggilannya sebagai Imam Tuhan sampai menghadap Tuhan. Pater Anton Riberu SVD mengungkapkan kasih Tuhan dan kesetiaanNya dalam tugas dan karya pelayanannya sebagai imam kepada umat yang Tuhan percayakan kepadanya. Bapak RAFAEL MALI mengungkapkan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dalam mencintai dan mengasihi isterinya sampai kembali ke Pangkuan Tuhan. Mama Martina Bui mengungkapkan cinta dan kesetiaannya kepada suami dan putera dan puterinya. Mencintai dan kesetiaan kepada Tuhan diukur dalam mencintai sesama dan mengungkapkan kesetiaan kepada sesama. Tuhan hadir dalam diri sesama. Sesama manusia adalah wajah Tuhan yang paling dekat dan kelihatan.

Paham ini berasal dari inti iman kita. Kita harus kembali ke akar iman kita yaitu hukum cinta kasih. Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pater Anton Riberu dan Bapak Rafael Mali, Mama Martina Bui melaksanakan kehendak Tuhan ini dari awal sampai titik final masuk ke Rumah Bapa di Surga tempat kehidupan dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan. Jalan menuju kebahagiaan kekal itu adalah kematian . Dengan demikian kematian fisik adalah awal kelahiran baru, kelahiran yang kedua yang membawa kehidupan untuk selama-lamanya. Pola kaum beriman ini memberi harapan iman akan masa depan yang lebih baik bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Kebangkitan Lazarus adalah TANDA nyata akan kebangkitan yang akan datang yang akan dialami oleh setiap orang yang mengimani Tuhan Yesus. Lazarus hidup dan akan mati lagi untuk mengalami kehidupan yang kekal. Pater Anton Riberu SVD dan Bapak Rafael Mali, mengalami kematian untuk mengalami kehidupan abadi mengalami sukacita abadi bersama para Kudus dan Malaekat di Surga. Selamat jalan Pater Anton Riberu dan Bapak Rafael serta mama Martina Bui menuju Surga Nenuk dan Surga Memoli serta Surga Dirun. Salam untuk semua orang Kudus di Surga dan Para Malaekat di Surga Memoli dan Surga Nenuk serta Surga Dirun. Sampaika pesan kami kepada Para Kudus di Surga Memoli, dan Para Kudus di Surga Nenuk, serta Surga Dirun, selamat berpesta bersama tamu baru P. Anton Riberu SVD dan Bapak Rafael Mali, serta Mama Martina Bui dan DOAKANLAH KAMI yang masih berjuang untuk tetap mencintai dan setia kepada Tuhan Yesus dalam cintakasih dan kesetiaan kami kepada sesama dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat sekitar kami.

Semoga dengan pertolongan iman akan ALLAH ADALAH KASIH, Allah adalah Pemberi hidup dan kehidupan yang abadi, menuntun kami untuk memberi HIDUP, untuk memberi HIDUP, untuk memberi hidup kepada dunia sekitar, terutama kepada sesama manusia melintas batas, yang kami jumpai dan hidup bersama kami dimanapun kami berada. ****



Inspirasi : Peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus sahabat Tuhan Yesus .1 Yoh 4 : 7 -16.Mazmur 34 : 2 – 3. 4-5. 6-7. 8-9. 10-11. Yohanes 11:19-27.

KUPERSEMBAHKAN KEPADA MAMA MARTINA BUI YANG TEPAT PADA HARI PERINGANTAN SANTA MARTA KEMBALI KE RUMAH BAPA. KEBANGKITAN MARTA. KEBANGKITAN MARTINA BUI. KAMIS 29 JULI 2010. SELAMAT PESTA BERSAMA SANTA MARTA DI SURGA.

KEBANGKITAN LAZARUS, KEBANGKITAN MARTA. ALLAH ADALAH KASIH.

Rm. Benediktus Bere Mali, SVD

Tema besar yang ditampilkan dalam Bacaan-bacaan Suci pada peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus sahabat-sahabat Tuhan ini adalah “ALLAH ADALAH KASIH”. Kasih berarti Memberi. Kasih Berarti Memberi. Kasih Berarti Memberi. Dalam konteks peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus ini, secara konkret Yesus memberi kehidupan kepada Lazarus yang sudah kehilangan hidup atau mati secara fisik, sehingga dia memperoleh kembali hidup sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan sendiri.


Mujizat kebangkitan Lazarus ini adalah TANDA Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai sumber hidup di sini dan pada masa yang akan datang, kepada Marta. Yesus bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup, walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.” Pernyataan diri Tuhan Yesus ini meneguhkan dan mengokohkan iman Marta kepada Yesus sang Mesias, Anak Allah, Pemberi Hidup Abadi bagi Manusia. Secara khusus Tuhan Yesus memberi hidup kepada Lazarus, sebagai contoh konkret ALLAH ADALAH KASIH, pusat iman kita.


Hari ini kita mendoakan P. ANTON RIBERU SVD yang telah meninggal pada 28 Juli 2010 di Rumah Sakit Umum Kupang. Kita juga berdoa bagi Bapak RAFAEL MALI yang meninggal dunia di rumah kediamannya di MEMOLI, DESA AITOUN, pada hari SENIN SORE 26 Juli 2010. Kita juga berdoa bagi Mama MARTINA BUI yang meninggal pada hari ini Jumat 30 Juli 2010 di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya. Pada hari Kamis malam 29 Juli 2010, Persiapan sempurna lewat, Pater Benediktus Bere Mali, SVD memberikan minyak Suci kepada MAMA MARTINA BUI sebelum memasuki perjamuan Tuhan di Surga. Sakramen Perminyakan Suci yang diterima Mama Martina Bui lewat tangan terurapi Imam Pater Benediktus Bere Mali SVD telah mengampuni dosa dan kesalahan Mama MARTINA BUI.
Mereka yang kita doakan ini adalah umat Tuhan yang memiliki Kepercayaan dan kesetiaan yang mendalam kepada Tuhan Yesus yang mereka imani. Kita dapat menakar keimanan kedua samasaudara ini lewat pengabdian dan kesetiaannya kepada sesama yang mereka jumpai, yang mereka layani, dan mereka cintai. Pater Anton Riberu SVD mengungkapkan cintakasih dan kesetiaannya dalam panggilannya sebagai Imam Tuhan sampai menghadap Tuhan. Pater Anton Riberu SVD mengungkapkan kasih Tuhan dan kesetiaanNya dalam tugas dan karya pelayanannya sebagai imam kepada umat yang Tuhan percayakan kepadanya. Bapak RAFAEL MALI mengungkapkan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dalam mencintai dan mengasihi isterinya sampai kembali ke Pangkuan Tuhan. Mama Martina Bui mengungkapkan cinta dan kesetiaannya kepada suami dan putera dan puterinya. Mencintai dan kesetiaan kepada Tuhan diukur dalam mencintai sesama dan mengungkapkan kesetiaan kepada sesama. Tuhan hadir dalam diri sesama. Sesama manusia adalah wajah Tuhan yang paling dekat dan kelihatan.


Paham ini berasal dari inti iman kita. Kita harus kembali ke akar iman kita yaitu hukum cinta kasih. Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pater Anton Riberu dan Bapak Rafael Mali, Mama Martina Bui melaksanakan kehendak Tuhan ini dari awal sampai titik final masuk ke Rumah Bapa di Surga tempat kehidupan dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan. Jalan menuju kebahagiaan kekal itu adalah kematian . Dengan demikian kematian fisik adalah awal kelahiran baru, kelahiran yang kedua yang membawa kehidupan untuk selama-lamanya. Pola kaum beriman ini memberi harapan iman akan masa depan yang lebih baik bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.


Kebangkitan Lazarus adalah TANDA nyata akan kebangkitan yang akan datang yang akan dialami oleh setiap orang yang mengimani Tuhan Yesus. Lazarus hidup dan akan mati lagi untuk mengalami kehidupan yang kekal. Pater Anton Riberu SVD dan Bapak Rafael Mali, mengalami kematian untuk mengalami kehidupan abadi mengalami sukacita abadi bersama para Kudus dan Malaekat di Surga. Selamat jalan Pater Anton Riberu dan Bapak Rafael serta mama Martina Bui menuju Surga Nenuk dan Surga Memoli serta Surga Dirun. Salam untuk semua orang Kudus di Surga dan Para Malaekat di Surga Memoli dan Surga Nenuk serta Surga Dirun. Sampaika pesan kami kepada Para Kudus di Surga Memoli, dan Para Kudus di Surga Nenuk, serta Surga Dirun, selamat berpesta bersama tamu baru P. Anton Riberu SVD dan Bapak Rafael Mali, serta Mama Martina Bui dan DOAKANLAH KAMI yang masih berjuang untuk tetap mencintai dan setia kepada Tuhan Yesus dalam cintakasih dan kesetiaan kami kepada sesama dalam keluarga, komunitas, dan masyarakat sekitar kami.


Semoga dengan pertolongan iman akan ALLAH ADALAH KASIH, Allah adalah Pemberi hidup dan kehidupan yang abadi, menuntun kami untuk memberi HIDUP, untuk memberi HIDUP, untuk memberi hidup kepada dunia sekitar, terutama kepada sesama manusia melintas batas, yang kami jumpai dan hidup bersama kami dimanapun kami berada. ****



Inspirasi : Peringatan St. Marta, Maria dan Lazarus sahabat Tuhan Yesus .1 Yoh 4 : 7 -16.Mazmur 34 : 2 – 3. 4-5. 6-7. 8-9. 10-11. Yohanes 11:19-27.

KUPERSEMBAHKAN KEPADA MAMA MARTINA BUI YANG TEPAT PADA HARI PERINGANTAN SANTA MARTA KEMBALI KE RUMAH BAPA. KEBANGKITAN MARTA. KEBANGKITAN MARTINA BUI. KAMIS 29 JULI 2010. SELAMAT PESTA BERSAMA SANTA MARTA DI SURGA.

"NABI SUDAH MATI"

AGAMA PROVOKATOR VERSUS TEOLOGI KEKUASAAN

Otto Gusti Madung*


Aksi gereja lokal terutama JPIC dari keuskupan dan beberapa kongregasi religius yang cukup gencar menolak tambang beberapa waktu terakhir ini dinilai oleh Bupati Manggarai Barat (Mabar), Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, sebagai sebuah bentuk provokasi dan kegiatan mengadu domba masyarakat. Seperti diberitakan harian Pos Kupang, Bupati Pranda dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh JPIC SVD Ruteng, OFM Indonesia, Keuskupan Ruteng, SSpS Flores Barat dan Masyarakat Peduli Mabar pada hari Sabtu, 25/4/2009, menuduh gereja lokal di wilayah Keuskupan Ruteng lewat aksi tolak tambang sebagai provokator yang mengganggu stabilitas keamanan masyarakat (Pos Kupang, 27/04/2009).
Seorang rekan yang hadir dalam seminar tersebut sempat mengirimkan sebuah pesan singkat (sms) kepada penulis. Isinya, Bupati Fidelis Pranda meminta pemerintah dan gereja memperhatikan tugas masing-masing. Gereja harus segera meninggalkan arena politik dan lebih berkonsentrasi pada tugas pokoknya. Tugas pokok gereja, demikian Bupati Pranda, bukan urus tambang, tapi memberikan pelayanan sakramental kepada umat agar jiwa mereka bisa masuk surga.
Bupati Fidelis sesungguhnya tidak konsekwen dalam nalar berpikirnya. Di satu sisi ia menganjurkan agar pemerintah dan gereja memperhatikan tugas masing-masing serta tidak boleh mencampuri urusan pihak lain. Di sisi lain, Bapak Bupati menegasi pernyataannya sendiri dengan masuk ke ranah teologi yang bukan bidangnya ketika menarik garis demarkasi tegas antara teologi dan politik. Ketika Bupati Fidelis coba mendefinisikan tugas gereja dan politik, sesungguhnya ia sedang berteologi. Sebab pandangan yang menghendaki pemisahan tegas antara teologi dan politik adalah salah satu model teologi, meskipun bukan model satu-satunya. Pertanyaan, mengapa Bapak Bupati berteologi kalau Bapak memang menghendaki distingsi tegas antara teologi dan politik?
Penulis berpendapat, Bupati telah mengemukakan dua pandangan sesat serta kerancuan berpikir sehubungan dengan tanggapannya atas kiprah gereja atau agama dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil dan tertindas akibat eksploitasi dan eksplorasi bisnis tambang. Ada banyak hal lagi tentunya yang perlu ditanggapi tentang konsep pembangunan dan politik pertambangan Bupati Manggarai Barat ini. Penulis ingin membatasi diri pada dua hal saja. Pertama, pandangan tentang gereja sebagai provokator ketika mengkritisi kebijakan publik pemerintah. Kedua, konsep teologi yang menghendaki garis demarkasi tegas antara agama dan politik serta menghendaki peminggiran agama ke ruang privat. Karena pandangan sesat ini dikemukakan oleh seorang pejabat publik, maka penulis merasa perlu memberikan tanggapan secara publik pula demi terciptanya sebuah ruang publik yang rasional, beradab dan bebas represi.
Gereja sebagai Provokator?
Tuduhan provokasi terhadap gereja di atas mengingatkan saya akan perbincangan antara seorang perampok laut dengan Iskandar Agung seperti didokumentasikan St. Agustinus dalam salah satu karya legendarisnya, De Civitate Dei: “Kerajaan-kerajaan tanpa keadilan apa itu selain gerombolan-gerombol an perampok? Oleh karena itu halus dan benar jawaban yang diberikan oleh seorang perampok laut kepada Iskandar Agung, sewaktu sang raja bertanya bagaimana dia itu sampai berani membuat laut menjadi tidak aman. Maka orang itu dengan bangga dan terbuka mengatakan: ‘Dan bagaimana dengan engkau sampai membuat seluruh bumi menjadi tidak aman? Memang, aku dengan perahu kecilku disebut perampok, tetapi engkau dengan angkatan laut besar disebut panglima yang jaya’.” (Franz Magnis-Suseno, 1999, hlm. 193)
Pernyataan sang perampok laut adalah gugatan atas legitimasi kekuasaan Iskandar Agung. Atas dasar legitimasi apakah Iskandar Agung menganggap perampok laut itu sebagai provokator dan pengacau stabilitas di wilayah kekuasaannya dan pada saat yang sama menobatkan dirinya sebagai pahlawan dan panglima yang jaya kendati keduanya sesungguhnya melakukan kejahatan yang persis sama?
Dialog antara sang perampok laut dan Iskandar Agung juga memicu lahirnya pertanyaan tentang legitimasi kekuasaan negara pada umumnya. Negara pada prinsipnya dipandang sebagai lembaga kekuasaan yang legitim jika dibandingkan dengan kelompok para bandit atau perampok yang mungkin memiliki kedaulatan atas wilaya tertentu, tapi kekuasaannya dipandang sebagai ilegitim. Pertanyaannya ialah, apakah dasar dari tuntutan legitimasi negara tersebut? Apakah yang membedakan negara dari kelompok para bandit? Apakah mungkin sebuah negara merosot menjadi lembaga berkumpulnya para bandit? Apakah dasar legitimasi bahwa manusia boleh menguasai manusia lain?
Rupanya untuk Iskandar Agung jelas, faktum kekuasaannya merupakan sumber legitimasi kekuasan satu-satunya. Karena ia berkuasa, maka segala sesuatu yang diperbuatnya harus dipandang legitim dan boleh memandang sang perampok laut sebagai provokator dan pengacau stabilitas keamanan di wilayah kekuasaannya.
Otoritas penguasalah yang menjadi sumber legitimasi hukum satu-satunya. Auctoritas, non veritas facit legem – Otoritas dan bukan kebenaran yang menciptkan hukum. Dan kini aura positivisme hukum Hobbesian tersebut tampil kembali di wilayah Manggarai Barat ketika sang bupati menegaskan, investasi tambang harus diterima karena telah sesuai dengan prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ada kesejajaran antara konsep kekuasaan Iskandar Agung dan Bupati Manggarai Barat. Keduanya melihat faktum kekuasaan sebagai sumber legitimasi hukum tertinggi. Dan berdasarkan konsep kekuasaan demikian, Bupati Fidelis dapat mencap segala bentuk oposisi dan pemikiran alternatif yang mengkritisi kebijakan regim berkuasa sebagai bentuk provokasi.
Sesungguhnya, produk undang-undang dan peraturan daerah bukanlah aturan tertinggi dalam sebuah tatanan sosial. Bukankah setiap aturan hukum harus merujuk pada prinsip-prinsip yang lebih tinggi seperti asas keadilan, kebebasan, kesetaraan dan kebaikan bersama? Seandainya investasi tambang melanggar asas-asas ini, ia harus dikritisi kendati telah diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sah. Jika merujuk pada prinsip-prinsip dasar yang lebih tinggi, bukankah para investor tambang dan Pemda yang mengeluarkan isinan adalah provokator sesungguhnya, dan bukan JPIC atau aktivis anti tambang? Sejarah telah banyak berbicara, industri pertambangan hanya mendatangkan keuntungan bagi para korporasi dan tidak pernah untuk masyarakat setempat. Masyarakat lokal harus puas dengan remah-remah keuntungan ekonomis sembari meratapi keadaan tanah dan laut yang sudah hancur permanen.
Bupati memandang setiap bentuk pemikiran alternatif dan kritis terhadap kebijakan resmi pemerintah sebagai subversif. Aksi tolak tambang para aktivis anti tambang dan lembaga gereja dilihat sebagai bentuk pengkhianatan terhadap dasar negara Pancasila dan UUD 45. Hal ini mengingatkan kita akan stigmatisasi komunis bagi segala bentuk oposisi politik dalam masa pemerintahan fasis dan totalitarian orde baru. Memang Soeharto sudah lama mati, tapi soehartoisme masih kuat dan bertumbuh subur dalam cara berpikir Bupati Manggarai Barat. Sebuah bahaya besar tentunya dan ini harus dikikis bersih demi kelangsungan reformasi dan proses demokratisasi di Manggarai Barat.
Teologi Kekuasaan
Untuk meminimalisir resistensi dan melegitimasi konsep pembangunannya Bupati Fidelis memerintahkan gereja untuk meninggalkan ranah politik. Persoalan tambang adalah masalah politik murni. Agama harus dibebaskan dari persoalan sosial-politik dan memusatkan diri pada keselamatan jiwa umat agar masuk surga. Imam yang sibuk urus tambang tidak layak dipanggil pastor, tapi cukup disapa sebagai saudara. Itu kira-kira substansi konsep teologi politik kekuasaan Bupati Fidelis!
Dengan menggiring gereja keluar dari politik serta menghendaki pemisahan tegas antara agama dan politik, sesungguhnya Bupati Mabar sedang membangun sebuah teologi baru. Apa yang sesungguhnya sedang dilakukannya ialah dekonstruksi teologi politik kritis, dan konstruksi teologi kekuasaan guna melegitimasi segala bentuk penindasan dalam masyarakat. Agama dipandang sebagai obat penenang tidur terlepas dari kekerasan realitas sosial dan pergulatan umat manusia melawan ketidakadilan dan penindasan atas martabatnya. Dengan demikian agama sebagai sebuah instansi moral kritis dilumpuhkan. Gereja sebagai kekuatan emansipatoris dan roh pembebas manusia seutuhnya dimandulkan dan dipaksa bungkam sehingga kehilangan kata-kata profetis. Dan persis inilah agama dan gereja yang dikehendaki oleh setiap kekuasaan korup dan politik tanpa wajah kemanusiaan. Gereja yang ditopang oleh teologi kekuasaan yang memasung kebebasan dan membungkam suara kritis.
Akan tetapi tugas perutusan gereja jauh lebih luas dari sekadar urusan ritus agar jiwa manusia masuk surga. Ruang gerak tugas perutusan seorang imam bukan sebatas altar misa, tapi juga mencakupi seluruh persoalan sosial, budaya dan politik. Misi keselamatan gereja mencakupi manusia seutuhnya, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dan dunia. Agama, demikian Konsili Vatikan II, adalah “tanda dan pelindung transendensi manusia”. Panggilan ilahi manusia terungkap dalam tugas dan komitmen sosialnya untuk membela dan memperjuangkan kebebasan dan martabatnya yang tak tergugat (Paul Budi Kleden, 2003, hlm. 203). Maka demi kekudusan martabat manusia itu , gereja juga dipanggil untuk bersuara ketika kekuatan korporatokrasi, yakni perselingkuhan antara politik dan bisnis tambang, datang menerjang kehidupan masyarakat lokal. Di sini gereja berperan sebagai penyuara cita-cita dan visi tentang kehidupan ideal manusia dan masyarakat umum. Pemahaman tentang gereja seperti ini adalah duri tajam di mata setiap penguasa otoriter.
Agama bukan obat tidur. Ia bukan opium yang menghantar kita kepada dunia maya penuh ketenangan, tapi kesadaran kritis yang mengajarkan kita tentang hakikat manusia dan dunia sebagai ciptaan Allah. Pemahaman tentang manusia dan dunia yang seharusnya sebagai ciptaan Allah menjernihkan pikiran dan hati untuk menangkap pelbagai bentuk distorsi dan represi sosial seperti kemiskinan, marjinalisasi, pembodohan, ketidakadilan dan penindasan.
Keterlibatan gereja dalam dunia dan masyarakat tidak sebatas bentuk pelayanan pastoral dan sosial-karitatif. Ia harus mampu menukik lebih dalam, mempertanyakan dan membongkar secara radikal sistem-sistem yang menciptkakan ketidakadilan, pendindasan dan penderitaan itu (Paul Budi Kleden, 2003, hlm. 196). Atau keterlibatan gereja, untuk meminjam termini George Junus Aditjondro, bukan sebatas “diakonia palang merah” tapi harus sampai pada “diakonia palang pintu” demi mencegah jatuhnya tumbal-tumbal pembangunan lantaran sistem yang tak adil dan menindas.
Keterlibatan JPIC dan gereja pada umumnya dalam membela hak-hak masyarakat lokal yang dirugikan oleh industri pertambangan dan kebijakan publik pemerintah adalah tugas hakiki perutusan gereja. Gereja yang beriman pada Allah yang inkarnatoris, Allah yang mengambil bagian dalam pergulatan sejarah manusia termasuk lembaran sejarah paling buram seperti terungkap dalam peristiwa salib. Keterlibatan yang sulit dan penuh risiko karena harus berhadapan dengan monster ganas kekuatan korporatokrasi. Dijuluki gereja provakator dalam situasi kritis memerangi sistem yang menindas bukan kutukan, tapi berkat. Sebab kita mengikuti Allah yang tersalib!


*Penulis adalah rohaniwan dan pengajar pada STFK LEDALERO