Homili Minggu 24 Februari 2013

http://benymali.blogspot.com/2013/02/homili-minggu-prapaskah-i-c-24-februari.html



DARI KEMAH DERITA KE KEMAH BAHAGIA
             
Homili Minggu 24 Februari 2013
Kej 15 : 5 -12. 17 – 18
Flp 3 : 20 – 4 : 1
Luk 9 : 28 – 36

P. Benediktus Bere Mali, SVD

Dalam buku Quo Vadis, dikatakan ada penampakan Yesus kepada Petrus di Kota Roma yang sedang dilanda penganiayaan Kaisar kepada umat Kristen. Yesus bertanya kepada Petrus: Kemanakan engkau pergi? Petrus menjawab : saya hendak lari menghindari penganiayaan Kaisar atas umat Kristen. Yesus membalas  Petrus: “Jika engkau lari menghindari penderitaan Roma maka saya akan masuk kembali Roma dan disalibkan lagi di Roma”.

Pertanyaan kita adalah mengapa ketika ada Penderitaan Yesus di Yerusalem, Petrus tidak serta merta membangun kemah derita, malah lari dari derita Yesus dengan sangkal Yesus, sedangkan ketika di Tabor mengalami sukacita Tuhan  dan kemuliaanNya, Petrus segera mengatakan mendirikan kemah kemuliaan atau kemah kebahagiaan? Atau kita ketika ada di Cisarua atau Ledug yang udaranya sejuk dan nyaman kita mendirikan kemah kita sedangkan ketika ada derita masyarakat di sekitar kita, kita tidak membangun kemah derita? Bukankah ini adalah konsep kita adalah konsep Petrus bukan konsep Yesus?
Hari ini terjadi Peristiwa Transfigurasi Tuhan Yesus di atas Gunung Tabor. Perubahan rupa Yesus yang berkilau-kilau itu terjadi di dalam doaNya kepada Bapa di Surga. Perubahan itu terjadi ketika Yesus dalam doa menemukan kehendak Allah dalam menyelamatkan dunia. Perubahan kemuliaan Tuhan itu terjadi ketika Yesus menyatukan diri dengan misi Bapa dan Roh Kudus yang menyelamatkan semua melintas batas. Perubahan itu membawa sukacita dan kebahagiaan yang sejati bagi semua orang. Petrus, Yohanes dan Yakobus sangat berbahagia mengalami kemuliaan Tuhan Yesus di Tabor yang disaksikan Musa dan Elia.  Ungkapan bahagia yang luarbiasa itu dinyatakan oleh Petrus dengan mengatakan bahwa betapa bahagianya kami di tempat ini. Kami akan mendirikan kemah bahagia di tempat ini. Satu untuk Musa, satu untuk Elia dan satu untuk Engkau.
Rencana Petrus itu didengarkan. Tetapi lebih mendengarkan suara Bapa dalam awan “ Inilah anak yang kukasihi, DENGARKANLAH DIA.” Para murid boleh berencana tetapi rencana Tuhan Yesus lebih didengarkan dan dilaksanakan. Karena rencana Yesus selalu menyelamatkan sedangkan rencana Para murid kadang mengutamakan kepentingan pribadi.
Yesus tidak mengabulkan permintaan Petrus untuk mendirikan kemah kemuliaan di Tabor. Tetapi Yesus turun dari Tabor kembali ke penderitaan Yerusalem sebagai jalan menuju kemuliaan yang sejati.  Kemuliaan yang sejati melewati jalan penderitaan di Salib.  Rencana Pembangunan Kemah Tabor ditunda dan kembali ke Yerusalem untuk membangun kemah derita sebagai kediaman yang harus dialami dalam perjalanan menuju Kemuliaan yang sejati.
Sengsara Tuhan Yesus di jalan Salib membawa kemuliaanNya di Surga. Sengsara Tuhan Yesus di jalan salib mengantar semua orang berjalan menuju kebahagiaan yang sejati di surga. Orang yang berziarah menuju kebahagiaan Surga melewati jalan yang paling tepat yaitu jalan Salib Tuhan Yesus.
Yesus adalah Musa Baru yang membawa Umat Manusia dari perbudakan dosa menuju Surga tujuan ziarah spiritual manusia. Yesus adalah Elia Baru yang mengangkat manusia darijurang dosa yang dalam naik ke Surga melalui tangga SalibNya.
Keberhasilan yang berbobot melewati jalan kerja keras mencucurkan air mata. Sebagaimana Pemazmur berdoa : “ barangsiapa bekerja dengan mencucurkan keringat dan air mata akan menuai dengan sorak sorai”. Tetapi dalam kenyataan ketika melihat para koruptor yang kebanyak dari kelas elit, pernyataan ini yang lebih tepat: “ barangsiapa memperolah hasil tanpa kerja mencucurkan keringat dan air mata, pintu penjarah terbuka lebar baginya”.  Bagi Pemazmur berlaku “Sengsara membawa nikmat.” Tetapi bagi koruptor yang berlaku adalah nikmat membawa sengsara.”