Homili Kamis 17 Januari 2013



BERJUANG RAIH SEMPURNA – BAHAGIA

(Ef 6:10-13.18; Mat 19:16-21)
Atau Ibr 3: 7-14; Mrk 1:40-45
Homili Misa Kamis 17 Januari 2013
Dari St. Maria Jl. Dharmo Surabaya Untuk Dunia


P. Benediktus Bere Mali, SVD


Anda memiliki harta kekayaan dunia yang berlimpah-limpah, semua kebutuhan jasmani anda selalu terpenuhi, pada saat yang sama Anda mencari kesempurnaan yang lebih lagi, mencari harta kekayaan yang lebih, dengan syarat anda harus meninggalkan harta kekayaanmu yang anda saat ini punya, atau menjual hartamu itu dan hasil jualannya bagi-bagikan kepada orang lain terutama orang miskin sehingga engkau pun digolongkan sebagai orang yg tidak punya apa-apa lagi secara fisik,. Lantas apa reaksimu terhadap syarat untuk meraih lebih sempurna seperti itu?


Pertama-tama pasti Anda bingung dan setelah bingung Anda membutuhkan waktu yang lama sekali untuk menjawab dan memenuhi syarat yang bagi Anda sangat berat itu. Dipastikan bahwa setelah berpikir dalam kesempatan yang lama, Anda akan menjawab bahwa Anda tidak dapat memenuhi persyaratan itu, dalam dunia yang sangat membutuhkan kemandirian dalam hal finansial untuk melaksanakan atau menjalankan bidang kehidupan yang lain. Bagi Anda syarat itu tidak masuk di akal Anda.


Pemuda kaya dalam bacaan Injil hari ini berjuang menggapai kebagiaan dan kesempurnaan yang lebih dengan datang kepada Yesus mencari petunjuk, bukan mencari petunjuk pada para normal atau orang pintar atau ke Gunung Kawi. Yesus memberikan syarat untuk mengalami kebahagiaan dan kesempurnaan, yaitu dia harus solider dengan sesama dengan menjual harta milikya kemudian hasil jualan itu dibagi-bagikan kepada orang miskin.


Berat sekali syarat itu bagi Pemuda kaya dan dia kembali ke habitatnya lama bergulat mencari kebahagiaan dalam hartanya, sehingga pemuda itu gagal dalam meraih kesempurnaan yang sejati dalam diri Yesus. Bagi pemuda itu sangat sulit dalam dunianya untuk meninggalkan hartanya apalagi menjualnya lalu bagi hasil itu kepada orang miskin, karena biaya pendidikan keluarganya mahal, kesehatan keluarganya mahal, biaya hidup harian mahal, di saat krisis ekonomi yang terus menimpah dunianya.


Maka dia katakan "Goodby" pada Yesus dan berjalan di jalan yang semakin menjauh dari Yesus sang kesempurnaan sejati. Artinya dia tidak ikut kehendak Yesus tetapi kemauannya sendiri. Ini berlawanan dengan mujizat penyembuhan si kusta terjadi karena si kusta berkata kepada Yesus memohon kesembuhan:"Jika Tuhan Mau, sembuhkanlah aku...". Artinya perubahan terjadi dalam hidup ketika manusia mau supaya hidup berdasarkan kehendak Allah.


Tetapi sebaliknya, St. Antonius Abas yang pestanya dirayakan pada hari ini, berjalan menuju kesempurnaan yang sejati yaitu Yesus. Beliau sangat terinspirasi dengan Mat 19:21 :"Jika ingin sempurna juallah semua hartamu dan bagikan kepada orang miskin lalu ikutilah Aku". Antonius adalah orang yang kaya raya memperoleh harta warisan dari orang tuanya. Dia sadar bahwa harta yang memberikan bahagia dan sempurna sejati bukan dalam harta fisik melainkan ada dalam harta rohani dalam diri Yesus.

Maka dia membalikkan pengalaman pemuda kaya itu dengan menjual semua harta miliknya dan membagikannya kepada orang miskin lalu mengikuti Tuhan Yesus. Teladan St. Antonius Abas memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam tugas perutusan kita pada zaman ini, dimana di dalam segala lini misi, kita harus mandiri sekaligus solider dengan sesama. Kadang kita terjebak dalam kemandirian sehingga seolah-olah lupa akan apa yang menjadi prioritas panggilan kita yaitu solider dalam misi menuju kemandirian umat.